
"Yang, gue mau lagi." Bisiknya. Axell bahkan kini kembali mencium Dira. Dira yang awalnya menolak itupun akhirnya hanyut dalam buaian Axell. Bahkan kini Dira secara tidak sadar ikut membalas ciuman yang Axell berikan padanya.
Tapi, ciuman yang seakan meminta lebih itu seketika terhenti saat samar-samar Dira mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamar dari luar.
Tok,
Tok,
Tok,
Sontak saja, Dira langsung melepaskan ciuman Axell.
"Kenapa, yang?" Tanya Axell tak sabaran. Kenapa gadisnya itu melepaskan ciumannya?
"Ada yang ketuk pintu di luar, kak." Jawab Dira yang kini mulai berdiri dan keluar dari Bathtub. Gadis itu memilih untuk segera membilas tubuhnya dan mengakhiri acara mandinya yang kacau karena kedatangan Axell.
"Ck. Sial." Ucap Axell kesal. Laki-laki itu lalu bangun dan melepas pakaiannya yang basah. Lalu meraih Bathrobe dan memakainya. Axell kini berjalan keluar dari kamar mandi untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintu di luar sana.
Ceklek.
"Ada apa, Bi?" Tanya Axell saat mendapati Bi Irah yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Anu, den. Itu di tunggu Bapak sama Ibu di meja makan." Ucap Bi Irah ramah.
"O... Yaudah, makasih ya, Bi. Saya mau mandi dulu." Balas Axell.
"Ya udah, den. Bibi ke belakang dulu." Ucap Bi Irah lalu pergi meninggalkan Axell yang masih berdiri di depan pintu.
Selepas pergi nya Bi Irah, Axell memutuskan untuk kembali melanjutkan mandinya. Tapi, saat laki-laki itu akan masuk ke kamar mandi, ternyata Dira sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi. Membuat Axell kembali berdecak kesal, kenapa gadisnya itu cepat sekali mandinya?
Tiba-tiba Axell tersenyum miring. Sebuah ide jahil terlintas begitu saja di pikirannya. Dira yang saat itu sudah mengenakan baju ganti, tiba-tiba berteriak saat merasakan tubuhnya yang tiba-tiba melayang. Ya, Axell menggendongnya dan langsung membawanya kembali masuk ke kamar mandi.
"Aaa..." Pekik Dira terkejut. "Kak Axell, mau ngapain? Turunin aku, kak!" Ucap Dira sambil mencoba melepaskan dirinya dari Axell.
"Nggak akan gue lepasin, yang? Temenin gue mandi dulu!" Jawab Axell sambil membawa Dira tepat di bawah shower.
"Tapi kan, kak, aku udah selesai mandinya." Jawab Dira yang berusaha keluar dari dalam kamar mandi. Tapi nihil, Axell seakan tuli. Laki-laki itu tidak akan melepaskan gadisnya. Dan,
Byur...
Keduanya kembali basah saat Axell menyalakan air.
__ADS_1
"Kak Axell, aku jadi basah lagi, kan." Protes Dira sambil berjalan keluar.
"Percuma, yang. Kalo Lo keluar, dari sini, gue akan bawa Lo masuk lagi..." Jawab Axell yang saat ini sedang mengenakan sabun di seluruh tubuhnya. "Tunggu bentar, gue hampir selesai." Ucap Axell yang kini telah membilas tubuhnya untuk menghilangkan sisa sabun dari tubuhnya.
Tak ingin membuang waktu yang akan membuat kedua mertuanya menunggu, Dira memilih untuk menurut pada Axell dan tak berniat meninggalkan kamar mandi, seperti yang Axell katakan padanya tadi. Gak lucukan disaat ia sudah kembali mengganti baju, tiba-tiba Axell kembali membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Bisa-bisa tidak akan selesai nanti.
Saat Dira melihat Axell yang hampir selesai, gadis itu berbalik membelakangi Axell. Dan tanpa Dira duga, Axell malah mendekapnya dari belakang. Laki-laki itu bahkan menciumi tengkuknya.
"Kak Axell, Ih... Bunda sama ayah ?udah nungguin!"
Flashback off.
Bukannya merasa bersalah. Axell malah tertawa. Untuk pertama kalinya, Axell membuat gadisnya itu kesal padanya. "Wajar kalo suami istri itu mandi bareng."
"Kak-, ih... kak Axell gak usah di bahas. Dasar nyebelin." Protes Dira. Gadis itu tengah merasakan malu mengingat kejadian di dalam kamar mandi tadi. Apa lagi tadi sebelum makan malam, Axell terus menggodanya dan itu membuat Dira semakin kesal.
"Iya, yang... Iya... I love you too." Jawab Axell asal.
"Ih... kak-, tambah nyebelin." Ucap Dira yang kini semakin manyun. "Kapan aku bilang i love you?"
"Barusan, yang." Jawab Axell santai.
Bruk,
Tubuh Dira menghantam dada bidang milik Axell. Laki-laki itu lalu memeluk gadisnya. "Sorry, kalo gue bikin Lo kesel, yang." Ucap Axell. Satu tangannya bergerak untuk mengelus lembut rambut Dira. Seakan menenangkan Dira dari rasa kesal karena kejahilannya di kamar mandi tadi.
Dira yang di perlakukan seperti ini entah mengapa jadi luluh sendiri. Seakan kekesalannya hilang begitu saja. Gadis itu pun mengangguk pelan sebagai jawaban kalo ia memaafkan suaminya.
Axell tersenyum. Tangan yang sedari tadi mengelus rambut Dira itu kini turun dan meraih dagu Dira. Dihadapkan nya wajah itu agar mengarah padanya. Dan,
Cup,
Axell mencium gadisnya. Melu**tnya perlahan. Dira yang sudah mulai terbuai dengan ciuman Axell itu pun hanya menurut saat Laki-laki itu menuntun kedua tangannya agar melingkar di pinggang Axell. Satu tangan Axell mengelus punggung Dira, dan satunya menekan tengkuk gadis itu agar semakin memperdalam ciumannya.
Axell menggigit pelan bibir bagian bawah Dira dan membuat gadis itu membuka mulutnya. Dengan cepat, Axell menyusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut gadisnya itu dan mengabsen tiap inci rongga mulut Dira.
Satu tangan Axell kini sudah berpindah tempat. Bahkan semakin menjalar kemana-mana. Setelah beberapa saat, Axell lalu melepaskan ciumannya. Dipandanginya gadis yang sekarang ini balik menatapnya. "Yang, gue mau lagi." Ucap Axell sambil mengusap lembut bibir Dira yang sedikit basah dengan jempolnya.
"M-mau apa, kak?" Tanya Dira gugup.
"Gue mau lanjutin yang tadi?" Jawab Axell yang kini beralih menciumi telinga Dira.
__ADS_1
"Kak-
"Yang kayak kemaren, yang." Sahut Axell memotong ucapan Dira. "Gue mau Lo lagi."
Deg,
Jantung Dira semakin berdetak kencang. Ia semakin gugup. Axell kembali mengajaknya melakukan kewajibannya.
Merasa tak ada respon, Axell menghentikan aksinya menciumi Dira. "Kenapa? Lo gak mau? Lo mau nolak gue lagi?" Tanya Axell sambil menari jawaban dari Dira.
"Nggak gitu, kak." Jawab gadis itu pelan.
"Terus?" Tanya Axell lagi.
"Aku..." Gadis itu nampak menghela nafas pelan, berusaha mengurangi rasa gugup yang sekarang sedang mendominasi nya. "Aku cuma gak ngerti harus gimana?"
Axell tersenyum mendengar jawaban yang ia dapatkan. Laki-laki itu lupa, gadisnya itu masih polos. "Lo gak harus gimana-gimana, yang. Lo cukup nikmatin sentuhan yang gue berikan." Jawab Axell yang kini mengangkat tubuh Dira dan membawanya ke ranjang.
Setelah merebahkan gadisnya. Axell kembali melanjutkan aksinya mencium bibir Dira. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia meraih salah satu gundukan kenyal milik Dira dan memijat ya pelan.
Ciuman itu lalu semakin turun ke bagian leher putih milik Dira. Menjilat dan menghisap, Axell bahkan dengan sengaja meninggalkan jejak disana.
"Akh..."
Axell tersenyum menyeringai, suara itu kembali ia dengar dari mulut Dira.
"Yang, sekarang ya?"
...***...
Di tempat kain, seorang gadis tengah menunggu seseorang untuk menjawab teleponnya.
"Hallo, Kak. Lo di mana?" Ucap gadis yang tak lain adalah Renata. Diseberang sana seseorang terdengar menjawab dengan ogah-ogahan, gadis itu pun langsung berdecak kesal mendengarnya. Apalagi dengan jelas Rere bisa mendengar suara ******* dan erangan dari perempuan di sekitar laki-laki yang sedang ia telepon saat ini.
"Lo di mana, Kak? Bisa temenin gue nggak?" Tanya gadis itu.
"Gue sedang bersenang-senang, Re. Ada apa?" Tanya laki-laki itu balik.
"Ck. Sudah gue duga. Lo lanjut deh, kak. Satu jam lagi gue tunggu di Drum club'." Ucap gadis itu dan langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang ia hubungi.
"Argh... Sialan. Emang gak pernah ada yang bisa ngertiin gue."
__ADS_1