Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
14. Arfen dan Dira.


__ADS_3

Tak lama pesanannya yang di pesan Arfen pun datang. Dira yang melihat dua cup besar es krim dan beraneka macam toping dari coklat itu pun langsung membelalakkan matanya.


"Kayaknya salah deh, mbak? Gue nggak pesen ini tadi." Tanya Dira.


"Tapi masnya-" Ucap pelayan itu terpotong oleh Arfen.


"Gue yang pesen By." Jawab Arfen enteng.


'By ? Arfen bilang apa tadi?'


"Dimakan dong es krimnya, nanti keburu leleh." Ucap Arfen setelah pelayan kafe itu pergi.


"Sengaja banget, deh! Lo bener-bener mau bikin gue gendut, ya. Beliin es krim sebanyak ini?" Ucap Dira yang mulai kesal dengan sahabatnya itu.


"Dari pada marah, mending di coba dulu. Kan belum tau rasanya." Jawab Arfen sambil menyendok es krim tersebut dan mengarahkan ke mulut Dira.


Dira membuka mulutnya dan menerima suapan es krim coklat itu dan seketika matanya membola.


"Gimana, enak?" Tanya Arfen yang melihat ekspresi Dira.


"Gila! Ini enak banget, Ar?" Jawab Dira dengan mata berbinar.


"Habisin kalau gitu, gue tau Lo pasti suka." Jawab Arfen.


"Jahat. Gue gak bisa ngabisin es krim sebanyak ini, Arfen! Lo pesan banyak kayak gini, satu aja cukup." Jawab Dira tak terima disuruh Arfen untuk menghabiskan es krim yang Arfen pesan tersebut.


"Biar Lo Happy, coklat bisa bikin Lo merasa bahagia." Jawab Arfen sambil menatap wajah gadis di depannya itu.


"Gue bahagia, kok." Jawab Dira dengan suara yang sudah mulai berbeda dari tadi.


"Iya, Lo bahagia. Lo pasti bisa bahagia. Dan gue akan terus berusaha buat bahagiain Lo." Jawab Arfen dengan senyum penuh arti.


"Ar, Lo jangan terlalu berharap sama gue! Kita udah pernah bahas ini, kan?" Ucap Dira pada Arfen.


"I know. but, let me do it, At least until you find someone who can really take care of you and make you happy! So that's where I'll stop." Ucap Arfen penuh harap pada Dira.


Mendengar apa yang di katakan Arfen kepadanya membuat Dira menitikan air matanya.


"Hey, kok nangis? Gue salah ngomong ya?" Tanya Arfen sambil menghapus lelehan air mata di salah satu pipi Dira.


Dira menggelengkan kepalanya. "Ar, kenapa sih Lo baik banget sama gue? Apa Lo juga akan kayak gini kalau sama Nayla?" Tanya diri ingin tahu.


Mendengar pertanyaan Dira membuat sudut bibir Arfen tertarik ke atas. Arfen tidak bodoh. Ia tahu apa maksud dari pertanyaan Dira padanya tadi.

__ADS_1


Arfen bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Dira tidak rela kalau Arfen memperlakukan gadis lain sama seperti Arfen memperlakukannya.


"Lo tahu perasaan gue ke Lo, Dir? Jadi Lo pasti tahu jawaban gue!" Jawab Arfen.


"Gue benci diri gue sendiri, Ar." Lirih gadis itu.


Arfen mengangkat alisnya sebelah, "Kok Lo ngomongnya, gitu?" Tanya Arfen bingung.


"Gue gak bisa terima Lo, tapi gue juga gak rela kalau Lo sampai punya cewe." Jawab Dira sambil menunduk kan kepalanya. Gadis itu meremat ujung rok seragam sekolahnya untuk menahan air matanya yang perlahan mulai keluar.


Arfen menggeleng kan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Dia mendekat dan menarik Dira kedalam peluknya.


"Gue kan udah pernah bilang ke Lo, Dir. Biarin gue ngelakuin apapun yang menurut gue bisa bikin Lo bahagia. Dan tolong jangan hentikan gue, sebelum Lo nemuin orang yang tepat buat Lo. Jadi Lo tenang, gak ada seorang pun yang bisa gantiin Lo disini, sebelum Lo sendiri yang benar-benar mau pergi dari hati gue." Ucap Arfen meluapkan rasa yang selama ini di pendam olehnya.


"Gue jahat banget ya, Ar?" Tanya Dira lagi.


"Enggak," jawab Arfen pelan.


...***...


Kini Dira tengah berada di kamarnya. Tadi setelah pulang dari kafe bersama Arfen, Dira kembali pulang kerumah orang tuanya. Sebenarnya tadi Dira ingin pulang ke apartemen, tapi karena tadi Dira harus menemui Arfen jadinya Dira memutuskan untuk pulang kerumah.


Setelah makan malam tadi dengan papa Pras dan juga Mama Diva, kini Dira sedang tiduran sambil memandang langit-langit kamarnya.


"Sampai sekarang gue masih bisa kok jaga diri gue sendiri, Nggak perlu ada yang jagain."


"Tapi kamu perlu, sayang." Ucap seseorang yang baru saja datang dan berdiri di samping Dira.


"MAMA!" Pekik Dira yang kaget dengan suara Mama Diva yang datang tiba-tiba.


"Maaf, sayang, kamu kaget, ya? Maaf tadi mama gak ketok pintu dulu!" Ucap Mama Diva yang merasa bersalah karena telah membuat Dira terkejut dengan kedatangannya.


"Nggak apa-apa kok, Ma. Dira gak kaget kok. Ada apa ya, Ma?" tanya Dira pada mama Diva.


"Enggak ada apa-apa kok. Mama cuma mau lihat anak gadis mama. Tumben belum tidur. Ada yang mengganjal di hati kamu, sayang?" Tanya Mama Diva khawatir.


"Nggak ada kok, Ma. Dira baik-baik aja kok." jawab Dira.


"Yakin? Tapi dari yang Mama lihat, Dira lagi bohong." Tebak Mama Diva. Dira berdiri seraya memeluk mama Diva. "Bener kan, ada yang kamu sembunyiin?" tanya Mama Diva lagi.


"Ma," Ucap Dira lirih.


"Iya, sayang." Jawab Mama Diva lembut sembari mengusap lembut puncak kepala Dira. "Ada apa?" Tanya Mama Diva.

__ADS_1


"Dira boleh tanya, nggak?" Tanya Dira pelan.


"Boleh, sayang, ada apa?" Tanya Mama Diva lembut.


"Kenapa sih, Dira mesti dijodohin?" Tanya Dira pelan, takut-takut kalau akan menyinggung perasaan Mama Diva.


Mama Diva tersenyum penuh arti. "Ini keputusan dari Papa kamu, sayang. Mama hanya mengikutinya saja." Jawab Mama Diva apa adanya.


"Tapi kenapa, Ma? Dira kan bisa cari jodoh Dira sendiri!" Tanya Dira lagi.


"Papamu ingin yang terbaik untuk kamu, sayang. Takut nanti kalau kamu salah pilih. Menikah itu, sekali seumur hidup." Ujar Mama Diva.


"Justru itu, Ma. Dira pengen menikah sama orang yang Dira cintai. Boro-boro cinta, kenal aja enggak." Protes gadis itu.


"Tak kenal maka tak sayang, Dira..." Balas Mama Diva. "...Perasaan itu akan muncul setelah kalian saling mengenal."


Dira mengangkat sebelah alisnya, "Maksudnya?" Tanya Dira tak mengerti.


"Kamu kenal kok, sayang, dia satu sekolah sama kamu?" Jawab Mama Diva.


"Ha? Seriusan Ma? Satu sekolah?" Tanya Dira gak percaya.


"Iya, sayang. Tepatnya, dia kakak kelas kamu. Kenapa memangnya?" Tanya mama Diva.


Dira terkikik pelan, "Dira sempat berpikir kalo nanti Dira nikahnya sama om-om, Ma." jawab Dira sambil menampilkan gigi gingsulnya.


Mendapat jawaban dari Dira membuat Mama Diva menggelengkan kepalanya. "Ngaco ah kamu, masa Mama sama Papa tega mau nikahin kamu sama om-om?" Jawab Mama Diva gemas sendiri.


"Terus, kakak kelas Dira itu siapa, Ma?" Tanya Dira ingin tahu.


"Kasih tau gak, ya?" Tanya balik Mama Diva sambil pura-pura berpikir.


"Aaah... Mama. Ayolah Ma, kasih tau?" Rengek Dira pada Mama Diva.


"Mama sama Papa sepakat sama calon mertua kamu sayang, gak kasih tahu kamu dan juga dia. Takut nanti kamu sama dia malah nekat batalin perjodohan ini.


"Ha? Apa Ma?" Tanya Dira tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi.


"Nggak apa-apa, sayang. Ya udah, sekarang sudah malam. Sebaiknya kamu tidur." Ucap Mama Dira sambil bergegas pergi dari kamar gadis itu.


"Yaah, Mama?" Cicit Dira.


"Tidur sayang!" Ucap Mama Diva.

__ADS_1


__ADS_2