
"Gue mau nemenin pacar gue yang lagi belajar." Ucap Axell sambil tersenyum ke arah Dira. Pacar? Ah iya... Axell ingat, Tadi ia mengatakan pada Bastian kalau Dira pacarnya. Diam-diam Axell tergelak dalam hati.
Deg,
Deg,
Deg,
Dira yang melihat senyum Axell jadi semakin gugup, bahkan jantungnya sudah semakin berdegup kencang.
Untuk sesaat Dira terpaku, ia memperhatikan senyum manis Axell. 'Ya Tuhan kenapa gue baru nyadar, kalo ternyata... Lo itu ganteng banget, kak.' Batin Dira memuji Axell.
"Hey, kenapa?" Tanya Axell sambil mengusap lembut pipi Dira. "Ada yang Lo pikirin?"
Dira hanya menggeleng. "Gak ada kok, kak."
"Terus?" Tanya Axell dengan satu alis terangkat.
"Aku gak biasa di tungguin kayak gini?" Jawab gadis itu.
"Kenapa memangnya? Salah kalo gue nungguin Lo belajar?" Tanya Axell lagi.
"Mm... Gak gitu..." Ucap Dira menggantung. Dira bingung harus bagaimana mengatakan kalau Dira tidak bisa konsentrasi belajar kalau di pandangi terus seperti saat ini.
"Terus... Lo gak mau gue deketin? Lo nolak gue?" Tanya Axell dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Dira.
'Aduh... Kok jadi kek gini, sih. Bukan gitu maksud gue, kak.'
"Ok, gue tahu jawaban Lo." Ucap Axell lalu bangkit dari duduknya. Axell melangkahkan kakinya keluar kamar.
Dira yang melihat kepergian Axell pun jadi tidak enak hati. Dira meletakkan pensil yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas tadi dan mengikuti Axell keluar kamar.
Setelah keluar dari kamar, Dira mendapati Axell yang tengah berbaring di sofa depan TV dengan mata terpejam dan Earphone yang terpasang pada kedua telinganya.
Dira mendekat ke arah Axell, bermaksud untuk meminta maaf pada suaminya itu. "Kak Axell." Panggil gadis itu pelan.
Hening, tak ada jawaban dari Axell, Mungkin di karenakan telinga Axell yang terpasang dengan Earphone atau karena memang Dira yang terlalu pelan memanggilnya.
"Kak Axell!" Panggil gadis itu lagi. Dan sama seperti tadi, belum ada jawaban dari Axell.
Dira memberanikan diri untuk menepuk pelan pundak Axell dan berhasil membuat mata Axell terbuka. Axell menatap Dira dan mengubah posisinya menjadi duduk, "Ada apa? Udah selesai belajarnya?" Tanya Axell pelan.
"Kak Axell marah?" Tanyanya ragu.
"Marah? Kenapa harus marah?" Tanya Axell balik.
"Tadi..." Ucap Dira menggantung.
Axell menarik Dira untuk duduk di sampingnya, karena sedari tadi Dira hanya berdiri. "Gue gak mau ganggu Lo belajar, makanya gue kesini."
"Aku pikir kak Axell marah tadi." Ucap Dira.
Axell tersenyum, "Gue gak marah."
Hening,
Satu menit,
__ADS_1
Dua menit,
Tiga menit,
Masih hening.
Lima menit,
Sepuluh menit,
Lima belas menit,
Tetap hening sampai pada akhirnya Axell kembali bersuara.
"Dir..." Panggil Axell lirih.
Dira menoleh, memberanikan diri untuk menatap wajah Axell dari samping. Lak-laki itu masih memandang lurus ke depan.
"Boleh gue tanya sesuatu?" Tanya Axell.
"Mau tanya apa, kak?" Tanya Dira balik.
"Kita nikah udah dua bulan lebih kan, Menurut Lo, gue gimana?" Tanya Axell yang masih memandang lurus ke depan.
"Gimana maksudnya, kak?" Tanya Dira tak mengerti maksud dari pertanyaan Axell. Ini Dira kelewat polos atau pura-pura sih.
"Perasaan Lo ke gue? Gimana?" Tanya Axell yang kini sudah merubah pandangananya ke arah Dira.
Deg,
"Mm... Gimana? Kok diem?" Ucap Axell yang kini menatap intens wajah Dira, bahkan Axell memutar tubuhnya untuk menghapad Dira.
Dira menggeleng, "Gue gak tau, kak." Jawab Dira lirih.
Axell menarik satu alisnya mendengar jawaban dari Dira. "Ada cowo yang Lo suka?" Tanyanya lagi.
Dira menoleh, "Maksud kak Axell gimana?"
"Ya mungkin Lo gak bisa suka sama gue, karena udah ada cowo yang Lo suka." Jawab Axell menebak apa yang ada di pikirannya. "Siapa orangnya?" Tanya Axell lagi.
"Hah?" Dira menatap Axell cengo. Kenapa Axell bisa berpikir seperti itu.
"Lo masih suka... Sama sahabat tapi suka Lo itu?" Tanya Axell yang mendapatkan gelengan kepala dari Dira.
Gak mungkin kan Dira jawab iya. Walaupun sedikit, Dira masih memiliki rasa terhadap Sahabatnya itu. Tapi sebisa mungkin Dira harus menghilangkannya. Kalau Dira tetap mempertahankan rasa sukanya terhadap Arfen, itu tidak dibenarkan. Mengingat Dira yang sudah memiliki suami.
"Kalo Zaki?" Tanyanya lagi. Ah iya, Axell sempat mengira Zaki menyukai Dira. Diam-diam Axell sering memperhatikan Zaki dan Bastian yang memperebutkan Dira waktu awal masuk
sekolah.
Dira mengerutkan keningnya bingung, dia tidak tahu apa-apa. Kenapa Axell bisa berpikir dirinya menyukai Zaki, "Kenapa Zaki, kak?"
"Gue cuma nebak!" Jawab Axell yang kini mulai santai. Ia sedikit lega, Karena menurutnya Dira tidak memiliki perasaan dengan Zaki.
"Gak kak, kita emang Deket. Satu kelas juga... Cuma temenan." Jawab Dira yang kini mengikuti Axell yang menyenderkan tubuhnya pada sofa.
"Kalo gak suka, jangan deket-deket!" Pinta cowok itu. Beneran otw posesif kan, si Axell.
__ADS_1
Dira mengangguk ragu, bagaimana mungkin ia menjauhi Zaki. Padahal ia dalam misi mendekatkan Zaki dengan Melody. Oke, pikirkan cara itu nanti, pikir Dira.
Melihat Dira menganggukkan kepalanya, Axell menarik satu sudut bibirnya, Gadis itu memilih untuk menurutinya.
"Kalo Babas?" Tanyanya lagi.
Dira kembali menatap Axell dan tersenyum, Dira menggelengkan kepalanya tapi tak lama berselang, Dira mengangguk. "Aku suka sama kak Bastian, kak." Wah... Dira cari gara-gara.
"Jadi bener... Lo suka sama Bastian?" Tanya Axell yang mencoba meyakinkan pendengarannya. Axell pikir, mungkin apa yang di dengarnya adalah salah.
Tapi, Lagi-lagi Dira mengangguk, "Iya."
Oke, Telinga Axell mulai panas sekarang. "Apa yang bikin Lo bisa suka sama dia?" Tanya Axell penasaran. Kenapa istrinya itu bisa menyukai sahabatnya, padahal jelas-jelas Bastian jauh dari segala-galanya di bandingkan dengan dirinya.
"Gak ada alasan untuk tidak suka, kak. Kak Bastian orangnya baik." Jawab Dira dan sukses membuat Axell semakin kepanasan dengan jawabannya tadi.
'Jadi menurut Lo, gue kurang baik?' Axell membuang nafasnya kasar. "Gue gak ijinin." Ujar Axell dingin.
"Kenapa?" Tanya Dira tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sengaja emang.
"Ya karena gue suami, Lo. Gak seharusnya cewek yang udah punya suami, suka sama cowok lain." Jelas Axell. "Dosa!" Tegas Axell.
"Tapi kan, kak-
"Dira, gak ada tapi. Lo tau gue gak suka dibantah!" Tegas Axell lagi. Axell mirip Ayah Marvellyo banget ya, segala sesuatu yang keluar dari mulutnya adalah Valid.
Dira diam, Ia tahu ia salah telah mengerjai Axell kali ini. Dira sendiri tidak tahu, kenapa ia sebegitu berani menjahili suaminya tadi.
Oke, rasa penyesalan selalu datang di akhir. Dira harus segera meluruskan kesalahpahaman yang ia ciptakan sendiri.
"Kak..." Ucap Dira lirih. "...Tapi aku suka sama kak Bastian cuma sebatas teman, Gak lebih." Lanjutnya.
Axell menoleh ke arah Dira dan mendapati gadis itu tengah tersenyum ke arahnya. Ia baru sadar, ternyata gadis itu sedang menjahilinya tadi. Berani sekali.
"Lo ngerjain gue? Udah mulai berani ya Lo!" Ucapnya sambil terus menatap ke arah Dira. Tatapan yang Dira tahu apa artinya.
"Maaf." Ucap Dira lirih.
Tak menjawab, Dengan gerakan cepat dan sangat tiba-tiba, Axell meraih tengkuk Dira dan,
Cup,
Axell mencium bibir Dira sekilas. "Ini hukuman buat Lo." Lagi,
Cup,
Axell kembali mencium Dira, sedikit lama. Bahkan Axell ******* bibir gadis itu.
"Dan ini, untuk Lo yang udah berani jahilin gue."
.
.
.
*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong! Menurut kalian, cerita aku ini gimana? Jangan cuma baca doang! Kasih aku kritik dan saran yang pasti membangun. Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘
__ADS_1