
"Mel, Lo ikut gue!" Ucap Axell sambil kembali melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu berjalan dengan langkah lebar menuju toilet cewek sampai-sampai Melody harus berlari untuk menyamakan langkah kakinya.
Kenapa Axell ngajak Melody? Ya karena gak mungkinkan kalau Axell masuk ke toilet cewek, diakan cowok.
"Lo masuk!" Pinta Axell cepat saat ke duanya sudah sampai di depan toilet.
Tanpa menjawab, Melody langsung melangkahkan kakinya untuk masuk dan mencari Dira.
"Gimana?" Satu pertanyaan yang muncul bukan dari mulut Axell, tapi dari Nayla. Gadis itu juga ikut mencari Dira karena khawatir akan keadaan sahabatnya itu.
"Melody baru masuk. Lo ikutan masuk, deh! Gue tunggu sini." Ucap Axell yang kini masih menunggu di depan pintu toilet.
Nayla memutuskan untuk langsung masuk ke dalam dan saat dia berada di dalam. Ekspresi keterkejutan dari Nayla tak jauh beda dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Melody saat tahu keadaan Dira saat ini.
"Kok Lo bisa basah kuyup gini sih, Dir?" Tanya Melody yang saat ini tengah membantu Dira berdiri. Saat masuk tadi, Dira sedang terduduk lemas di lantai dengan keadaan baju yang basah. Gadis itu nampak menggigil kedinginan dengan wajah yang pucat.
"Siapa yang udah lakuin ini sama Lo?" Tanya Nayla yang juga ikut membatu dira untuk berdiri. Melihat keadaan Dira yang lemas dan menggigil kedinginan. Nayla semakin khawatir.
"Gue cuma kepeleset tadi." Jawab Dira lirih. Gadis itu kini mulai kehilangan kesadarannya.
Kepeleset? Mungkin gak, sih? Kalau cuma kepeleset gak mungkin kan Dira sampai basah kuyup kayak sekarang ini. Pasti yang basah cuma rok seragamnya doang. Dan iya, Dira sedang berbohong saat ini.
Melody dan Nayla kini semakin kuat memegang lengan dira. Keduanya kini tengah memapah Dira untuk keluar dari toilet. Axell sangat terkejut dengan keadaan Dira yang seperti ini.
"Dira? Apa yang terjadi sama Lo?" Tanya Axell tak sabaran. Axell kini melepas almamaternya dan ia pakaikan pada tubuh basah Dira. Laki-laki berstatuskan suami Dira itu kini meraih tubuh tak sadar Dira untuk ia gendong. Axell memutuskan untuk segera membawa Dira pulang.
Axell berlari sambil menggendong tubuh basah Dira. Dan apa yang Axell lakukan saat ini tengah menjadi pusat perhatian di setiap koridor yang Axell lewati. Pasalnya, ini masih jam istirahat. Jadi banyak pasang mata yang menyaksikan tindakan Axell saat ini.
Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, Axell semakin mempercepat langkahnya. Tanpa menghiraukan setiap pasang mata yang memperhatikan dirinya dan gadis yang ada dalam gendongannya. Whatever dengan apa yang mereka pikirkan, yang terpenting bagi Axell sekarang adalah ia harus cepat-cepat membawa gadisnya itu pulang.
Axell langsung memasukan Dira ke dalam mobil saat setelah tiba di parkiran sekolah. Ia langsung menjalankan mobilnya menuju pintu gerbang.
"Pak, tolong buka pintu gerbangnya!" Pinta Axell setengah berteriak.
"Baik, mas." Jawab pak Prapto yang langsung sigap membukakan pintu gerbang untuk anak dari pemilik sekolah tersebut.
Saat di jalan, Axell menempelkan punggung tangannya pada kening Dira. Axell dapat merasakan suhu tubuh Dira yang mulai naik. Gadisnya ini mulai demam.
"Sayang, siapa yang udah ngelakuin ini sama Lo?" Tanya Axell yang sudah pasti tak mendapat jawaban. Ia mencengkram kuat setir mobilnya.
Axell kembali mengutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi lalai dalam menjaga istrinya. Bisa-bisanya dia membiarkan sesuatu menimpa istrinya sampai seperti ini.
Tangan Axell kini merogoh ponsel dalam saku celananya. Ia melambatkan sedikit laju mobilnya karena tengah mencari kontak seseorang.
__ADS_1
"Halo."
...***...
Axell telah sampai di apart Dira beberapa menit yang lalu. Dan kini Axell baru selesai menggantikan baju Dira yang basah dengan Bathrobe.
Tok,
Tok,
Tok,
Axell yang mendengar pintu di ketuk pun bangkit untuk membukakan orang yang ia telpon sebelumnya.
"Axell, siapa yang sakit?" Tanya Om David sambil berjalan masuk ke dalam apartemen Dira.
"Istri Axell, om?" Jawab Axell yang kini kembali menutup pintu.
Axell berjalan mendahului Om David untuk sampai lebih dulu di kamar Dira.
"Kenapa dengan istrimu?" Tanya om David yang kini sudah mulai memeriksa Dira.
"Bisa langsung periksa istri Axell dulu gak, om!" Ujar Axell yang terkesan menolak menjawab apa yang Om David tanyakan padanya.
Om David duduk di tepi ranjang untuk mulai memeriksa Dira. Ia mulai menempelkan stetoskop di dada Dira untuk mengecek detak Jantung dari gadis itu. Tangan Om David di letakkan di dahi Dira lalu mengecek suhu tubuh Dira dengan termometer.
"Gimana, om, keadaan Dira?" Tanya Axell.
"Dia gak apa-apa, hanya sedikit demam. Kamu harus sering-sering cek suhu tubuhnya, ya. Nanti jangan lupa kamu kasih dia Paracetamol biar panasnya cepet turun!" Jelas Om David.
"Baik, Om. Tapi... Dira beneran gak apa-apa, kan, om?" Tanya Axell memastikan.
"Gak apa-apa. Nanti sebentar lagi juga sadar. Kalo begitu, Om balik ke rumah sakit dulu, masih ada banyak pasien." Pamit Om David.
"Iya, Om. Terima kasih." Jawab Axell.
Pria paruh baya itu tersenyum sambil menepuk sebelah pundak Axell. "Jaga istrimu baik-baik, Xell. Om pergi dulu."
Axell mengangguk lalu berjalan untuk mengantarkan Om David keluar. Setelah mengantar Om David keluar dari apartemen. Axell lalu meraih minyak telon dari dalam laci. Menuangkannya ke telapak tangan lalu ia bubuhkan pada perut Dira, Leher, telapak tangan dan kaki guna menetralisir rasa dingin yang Dira rasakan saat ini.
...***...
"Sialan, niat gue mau ngasih pelajaran malah jadi kek gini." Kesal seseorang yang kini tengah mengepalkan tangannya. Ia tadi tidak sengaja melihat Axell yang berlari sambil menggendong Dira yang tengah pingsan karena ulahnya.
__ADS_1
"Gue bakal kasih yang lebih dari ini. Liat aja."
...***...
Axell berjalan menuju kamar dengan segelas teh hangat di tangannya. Setelah meletakan gelas berisi teh tersebut, Laki-laki itu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sejak sampai dari tadi, Axell terlalu fokus dengan Dira sampai-sampai ia lupa kalau dirinya belum mandi.
Saat Axell masih melanjutkan mandinya, tak berapa lama kemudian Dira mulai bangun. Gadis itu kini mulai mengerjapkan matanya guna mengumpulkan kesadarannya.
"Sshh... Kepala gue pusing." Keluh Dira sambil memegangi kepalanya.
Ceklek,
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Axell dari balik pintu, masih dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Lo udah sadar?" Tanya Axell sambil berjalan mendekati Dira. Kini ia duduk di tepi ranjang sambil mengecek suhu tubuh Dira dengan termometer.
"Lo masih demam..." Ucap Axell saat melihat angka pada termometer di tangannya. "...Apa yang masih Lo rasain sekarang."
Dira menggeleng pelan. "Agak sedikit pusing, kak."
Axell mengangguk. "Bentar, gue ambilin obat dulu buat Lo." Ucap Axell sambil berjalan keluar dari kamar Dira. Beberapa menit kemudian, Axell kembali dengan satu butir pil di tangannya. "Lo minum ini dulu, biar panas Lo cepet turun." Pinta Axell sambil mengulurkan sebutir Paracetamol pada Dira dan langsung disambut baik oleh gadis itu.
Tapi, Saat Dira meminum obat yang Axell berikan, tiba-tiba gadis itu tersedak.
"Uhukk... Uhukk..."
"Lo kenapa?" Tanya Axell tanpa rasa bersalah.
Gimana Dira gak tersedak coba. Saat Dira tengah meminum obatnya, tanpa sengaja Dira menoleh ke arah Axell yang saat itu tengah ganti baju di samping ranjangnya.
"Kak Axell! Kenapa ganti baju di situ!" Protes Dira sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Axell geleng-geleng kepala sendiri, mengetahui penyebab Dira tersedak tadi. "Kenapa memangnya?" Tanya Axell santai.
"Jangan ganti baju di sini." Pinta Dira masih dengan menutup matanya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Axell mengulangi kembali lagi kata-katanya. Hadew... Axell gak sadar diri. Ini sengaja atau bagaimana?🤭🤭🤭
"Iiih... Kak Axell-
"Kenapa sih, yang. Gue kan suami lo. Salah kalo gue ganti baju depan lo? Harusnya Lo bersyukur, Dira. Lo gadis pertama dan satu-satunya yang bisa dengan mudahnya liat tubuh polos gue." Ujar Axell yang memotong ucapan Dira.
"Kak Axell-
__ADS_1
"Apa sayang?"