Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
74. Perlakuan Axello.


__ADS_3

"Pacaran terooosss!!" Pekik Verrel yang masih berdiri di samping pintu kantin. Sementara Axell hanya memutar bola matanya jengah. Sebenarnya ia malas sekali menanggapi sahabatnya itu, apa lagi Verrel datang dengan Nayla.


"Lo ngomongin diri Lo sendiri?" Cibir Axell pada Verrel yang kini duduk di depannya dan Nayla di depan Dira.


Verrel terkekeh mendengar cibiran sahabatnya itu. "Lo liat Babas gak?" Tanyanya.


"Kenapa tanya ke gue?" Jawab Axell malas.


"Ya karena disini kan Lo lagi bareng Dira." Jawab Verrel asal.


"Apa hubungannya?" Tanya Axell dengan menarik satu alisnya.


"Ya karena Dira kan bidada... da... da... da... da... Gak jadi." Ucap Verrel yang nyeleneh karena melihat perubahan ekspresi wajah Axell yang mulai tidak bersahabat.


Hampir saja Verrel mengatakan kalau Dira bidadari seperti apa yang Bastian sering sebutkan pada Dira. Tapi melihat wajah kesal tiba-tiba Axell, Verrel langsung meralat kata-katanya tadi.


"Wait, Bro. Sejak kapan Lo make cincin?" Tanya Verrel saat melihat jari manis Axell yang memang mengenakan cincin.


"Sibuk Lo?" Lagi-lagi Axell mencibir kepada sahabatnya itu.


"Jadi foto yang semalem... Jari Lo berdua." Tebak Verrel sambil menunjuk ke arah Dira dan Axell bergantian.


Axell hanya mengangkat bahunya acuh.


Sementara Nayla, diam-diam ia juga memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Axell. Sama persis dengan cincin yang melingkar di dari manis Dira. 'Ini maksudnya apa?'


...***...


"Baik anak-anak, kerjakan seperti contoh yang ada di buku. Ingat, harus di tulis tangan, harus rapi dan tidak boleh ada kesalahan dalam menulis. Mengerti semua!" Titah pak Raka, guru yang sedang mengajar di kelas Dira.


"MENGERTI PAK." Jawab semua murid kompak.


"Bagus. Besok saya tunggu di atas meja saya-


Tok,


Tok,


Tok,

__ADS_1


Belum selesai pak Raka menjelaskan tentang tugas yang harus anak didiknya kerjakan, Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu kelas dari luar.


"Masuk." Titah pak Raka.


Pintu terbuka dan menampilkan Axell dari balik pintu. Dengan langkah santainya, seperti biasa Bak gaya Slow motion, Axell mendekat ke arah pak Raka.


"Lho, Axello. Ada apa, Xell?" Tanya pak Raka yang ingin mengetahui maksud dari kedatangan Axell di kelasnya mengajar saat ini.


Axell menatap Dira sekilas lalu kembali menatap wajah pak Raka, "Saya mau jemput Dira, pak." Jawabnya sopan.


Pak Raka mengangguk mendengar jawaban Axell. Memang sekarang ini hampir semua guru yang mengajar di kelas Axell dan Dira sudah mengetahui status dari Dira yang sudah resmi menjadi menantu dari pemilik sekolah SMA Bhakti Bangsa.


Pak Raka kembali menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti maksud dari Axell yang ingin mengajak pulang istrinya. Padahal jam pelajaran masih tersisa satu jam lagi. "Baik, Silahkan!"


*Pemilik sekolah mah bebas ya, mau pulang jam berapa aja.🤣😂


Axell mengangguk dengan sekali anggukan kepala lalu berjalan mendekat ke arah meja Dira. "Ayo pulang!" Ajaknya.


"Pulang?" Beo Dira yang masih bingung dengan apa yang di maksudkan oleh laki-laki di depannya ini. "Kak, ini kan masih jam pelajaran?"


Bukan hanya Dira saja yang bingung, seisi kelas juga berpikir sama, kecuali Melody dan Zaki yang memang mengetahui status keduanya, dalam kurung pacaran.


"Saya duluan, pak, permisi!" Pamit Axell sopan kepada Pak Raka yang langsung menganggukkan kepalanya.


Dira yang sudah terlanjur di gandeng Axell pun hanya pasrah, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Ada yang menatapnya kagum karena bisa sedekat itu dengan Axell yang notabene ketua OSIS yang dingin tak tersentuh dan sulit di dekati. Bahkan ada peraturan yang melarang untuk mengusiknya di sekolah.


Tapi tak sedikit yang menatapnya dengan tatapan iri, bahkan tak suka. Ya di mana-mana kan selalu ada pro dan kontra.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, kak? Aku kan jadi gak enak tadi, di liatin temen-temen aku!" Keluh Dira yang sedari tadi diam. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.


Sementara Axell hanya tersenyum, mendengar keluhan Dira. Gadisnya itu sekarang sudah semakin berani mengatakan apa yang membuatnya tidak nyaman.


"Gue laper. Jadi gue minta Lo temenin gue makan." Jawab Axell tanpa rasa bersalahnya.


"Kalo laper kenapa tadi gak makan waktu istirahat?" Tanya Dira dengan bibir yang sedikit mengerucut. Axell yang melihat wajah Dira yang seperti itu jadi gemas sendiri. Tangan kekarnya terulur untuk mengacak pelan rambut Dira.


"Tadi gue belum laper, Dira." Jawabnya.


"Terus sekarang kita mau kemana?" Tanya Dira masih dengan bibir yang semakin manyun.

__ADS_1


"Lo maunya ke mana?" Tanya Axell balik.


"Tadi katanya kak Axell ngajakin pulang?" Ucap Dira.


Axell menganggukkan kepalanya. Tadi saat masih di kelas Dira, Axell memang mengatakan akan mengajaknya pulang, tapi sekarang ia berubah pikiran. "Ok, kita ke kafe." Jawab Axell sekenanya.


Dira yang mendengar jawaban Axell hanya geleng-geleng kepala sendiri. 'Ini kak Axell benar-benar lagi sakit atau gimana, sih? Aneh!'


...***...


Kini mobil Axell sudah terparkir rapi di parkiran khusus d'AXE Cafe. Axell masuk ke dalam kafe sambil menggandeng tangan Dira.


"Mbak Lita, tolong bawa buku menu ke ruangan saya sekarang ya!" Pintanya pada salah satu karyawan kafe yang berusia beberapa tahun lebih tua dari Axell.


"O... Iya, tunggu bentar ya!" Jawab Arlita.


Setelah meminta Arlita membawakan buku menu ke ruangannya, Axell lalu membawa Dira untuk masuk ke ruangannya. Tanpa Axell tau, ada dua cowok kebetulan memperhatikannya dari sudut ruangan kafe, tepat di samping jendela.


"Mbak... mbak..." Ucap salah satu di antara cowok itu.


"Iya kak, mau tambah pesanan?" Tanya Ninda salah satu karyawan kafe yang tadi di panggil.


"Gak mbak. Saya cuma mau tanya, cowok yang baru saja masuk sambil gandeng cewe tadi siapa ya?" Tanya cowok tadi yang tak lain adalah Derry.


"O... Yang tadi? Dia Axello, kak, Owner d'AXE Cafe." Jelas Ninda.


"Owner-nya mbak." Tanya Derry memastikan.


"Kalo yang cewe tadi, siapa mbak?" Tanya Nicholas yang memang pura-pura tidak mengenal Dira. Ini semata-mata hanya untuk memastikan apa yang di katakan sahabatnya, Derry, tentang Axell dan Dira benar atau tidak.


"Maaf kak, kalau itu saya tidak tau. Axell memang sering ngajak cewe tadi kesini beberapa bulan ini." Jelas Ninda yang memang tidak mengetahui siapa sebenarnya Dira.


"Kan... kan... kan... Apa gue bilang mereka itu mem-." Ucap Derry yang langsung di potong oleh Nicholas. "O... Ya udah mbak. Saya minta Bill-nya!"


Setelah membayar makanannya tadi, kini Nicholas keluar dari kafe bersama Derry.


"Tapi gue gak yakin kalo Xello dan Dira punya hubungan. Setahu gue, Dira gak pernah dekat sama cowok lain, kecuali Arfen. Dan setau gue, mereka sahabatan." Ucap Nicholas pada Derry. Kini keduanya sudah berada di mobil.


Derry tersenyum miring, "Jangankan Lo, gue sendiri aja juga gak percaya kalo mereka ada hubungan. Apalagi si Xello bilang, mereka udah nikah. Sekolah aja belum kelar padahal." Jawab Derry.

__ADS_1


"Gue harus cari tau sendiri kebenarannya."


__ADS_2