Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
60. Move on.


__ADS_3

"Surprise..." Kejut Arfen yang tiba-tiba muncul di depan Nayla dan Dira.



*Si Arfen nih, yang kata Axell sahabat tapi sukanya Dira. 🤭


"Arfen?" Lirih Dira terkejut.


"Hidung Lo tajemnya juara, Ar! Tau banget kalo gue lagi disini bareng Dira." Ucap Nayla.


Arfen terkekeh pelan mendengar apa yang di katakan Nayla tentangnya, "Jodoh kali." Jawab Arfen asal sambil terus tersenyum penuh arti ke arah Dira. Tangan kekarnya terulur untuk mengacak pelan rambut Dira, "Gue kangen banget sama Lo, Dir? Susah banget nemuin Lo sekarang." Ucapnya lagi. Terdengar jelas ada kesedihan yang laki-laki itu rasakan.


"Jan melow gini deh!" Protes Nayla pada sahabatnya itu. Ia tahu kalau Arfen sangat kesulitan untuk bisa menghubungi Dira akhir-akhir ini. Entah apa yang terjadi diantara keduanya, Nayla tidaklah tahu.


Mengapa Dira tiba-tiba terkesan menghindar dari Arfen. Setahu Nayla, mungkin ini ada kaitannya dengan Arfen yang sempat menyatakan perasaannya pada Dira beberapa waktu yang lalu atau mungkin Dira yang memang sengaja ingin menjaga jarak dengan Arfen karena sudah memiliki kekasih, mengingat ia yang pernah menelpon Dira dan mendengar suara cowok yang ia kira adalah teman sekelasnya, Axello. Entahlah.


"Mm... Kok Lo bisa tahu gue disini, Ar?" Tanya Dira penasaran.


"Gue abis nemenin nyokap belanja, terus gak sengaja liat Lo berdua disini." Jawab Arfen yang membuat Dira dan Nayla ber-oh ria.


"Terus Tante Fenny mana?" Tanya Nayla sambil melihat ke arah Arfen datang tadi.


"Udah pulang duluan." Jawab Arfen sambil mengulurkan ponselnya ke arah Dira. Dira yang tak mengerti maksud Arfen pun hanya menatap wajah si pemilik ponsel warna hitam bergambar buah apel itu. "Simpan nomor baru Lo, biar gue gak kesulitan kalo mau telpon atau sekedar ng-chat lo! Lo gak tau, Dir, Gue udah hampir kayak orang gila kalo kangen sama Lo." Ujar Arfen mengutarakan maksudnya.


'Mikir Dira!'


"Ponsel gue Lowbat Ar, Sorry, Lagian gue gak hafal nomor baru gue." Jawab Dira dengan senyum yang di paksakan. Dira bohong.


Arfen mengangguk, ia tak sedikitpun menaruh rasa curiga terhadap Dira. Menurutnya, Dira tak mungkin membohonginya.


"Tenang, Ar! Gue punya nomor Dira kok, Nanti gue kirim ke Lo." Jawab Nayla yang langsung mendapat anggukan kepala dari Arfen.


Deg,


'Ini gimana?'


Kan,


Dira jadi mikir, gimana kalau sampai Arfen tiba-tiba telpon disaat Dira sedang bersama dengan Axell, suaminya? Bisa-bisa si Axell berfikir kalau Dira yang dengan sengaja memberikan nomornya pada Arfen. Ini bahaya. Bisa perang dunia.


Dira berpikir Axell dan Arfen sedang dalam keadaan yang tidak baik entah apa pemicunya, Dira tidaklah tahu.

__ADS_1


Setahu Dira, Axell terlihat begitu membenci Arfen karena Arfen sering datang ke SMA Bhakti Bangsa yang tak lain adalah sekolah milik Axell sendiri dan di SMA Bhakti Bangsa lah tempat Dira mengenyam pendidikan. Arfen sengaja datang untuk menemuinya secara diam-diam, mungkin. Tanpa Dira tahu, bahkan hubungan keduanya sudah tidak baik bahkan sebelum Dira hadir dalam kehidupan Axell.


"Thanks, Nay. Lo emang selalu bisa gue andelin." Ucap Arfen pada Nayla.


"Itu gunanya sahabat." Jawab Nayla sambil mengutak-atik ponselnya. "Guys, gue balik dulu ya, Si Verrel ada di rumah gue, nih." Tambah Nayla.


"Bisa pulang sendiri? Apa perlu gue anter." Tanya Arfen.


Nayla menggelengkan kepalanya, "No, gue bisa pulang sendiri. Lagian gue bawa mobil tadi. Mending Lo temenin Dira dulu, dan anter dia pulang nanti!" Jawab Nayla.


"Ok, Lo tau aja, Nay. Gue emang butuh waktu lama bareng Dira." Jawab Arfen sambil tersenyum manis ke arah Dira.


Sementara Dira, ia sedang bingung. Kemana dia akan pulang nanti. Tidak mungkinkan ia meminta Arfen untuk mengantarkannya pulang ke apartemen?


Kalau Arfen tahu dimana apartemennya, bisa-bisa Arfen datang kapan saja untuk sekedar berkunjung atau mengajaknya berangkat sekolah. Dan tidak menutup kemungkinan Arfen bertemu dengan Axell nanti.


Kalau ke rumah? Ah... Itu tambah tidak mungkin lagi. Masalahnya, Arfen kenal baik dengan keluarganya. Dira tidak bisa membayangkan Bagaimana reaksi papa Pras kalau tahu ia di antar pulang oleh Arfen. Dira tidak mau keluarganya salah paham.


"Hey, kok bengong? Lagi ada masalah?" Tanya Arfen bingung. Karena dari tadi Arfen memperhatikan Dira. Sejak sebelum kepergian Nayla tadi, Dira terus diam seperti memikirkan sesuatu.


"Enggak, gak ada apa-apa kok?" Jawab Dira sambil menggelengkan kepalanya.


Tangan kekar Arfen menggenggam tangan Dira, "Dir, Lo kenal gue udah lama. Lo bisa cerita ke gue!" Ucap Arfen sambil terus memandang wajah Dira.


Sebenarnya Dira juga memiliki perasaan yang sama, tapi dengan status Dira sekarang yang sudah berubah menjadi seorang istri, Dira sadar, kalau perasaan itu adalah salah.


Dira tengah berpikir untuk mengatakan semuanya pada Arfen, karena ini adalah kesempatan yang mungkin jarang bisa Dira dapatkan lagi, dimana dia hanya berdua dengan Arfen.


Tapi, baru saja Dira akan membuka mulutnya, tiba-tiba Dira merasakan nafasnya mulai berat. Dadanya terasa sesak.


Iya, Asma Dira kambuh.


Tangan Dira naik meremas baju seragam tepat di bagian dada, "Kenapa tiba-tiba kambuh sih." Lirih Dira yang masih bisa di dengar oleh Arfen. Seketika Arfen panik mendengar apa yang dikatakan Dira barusan.


"Asma Lo kambuh, Dir? Lo bawa inhaler asma gak?" Tanya Arfen yang hanya mendapat gelengan kepala dari Dira.


"Lo bawa obat? Atau mau gue anter ke rumah sakit?" Ujar Arfen semakin panik.


Dira tak menjawab, Nafasnya kian berat.


Arfen yang semakin panik itu pun memutuskan untuk membawa Dira ke rumah sakit terdekat. Melihat Dira yang semakin sulit untuk bernafas, Arfen semakin merasa khawatir.

__ADS_1


Sampai di mobil, Arfen langsung meletakkan Dira di samping kemudi dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


...***...


"Long time no see, Gimana kabar Lo, Xell?" Tanya Derry.


"Baik? Lo sendiri?" Tanya Axell balik.


"As you can see, i'm good." Jawab Derry.


"Seneng ketemu Lo lagi, Xell." Ucap Nicholas.


Enggan menjawab, Axell hanya melirik Nicholas sekilas tanpa berniat menanggapi apa yang laki-laki itu katakan padanya tadi. Axell lebih tertarik mengutak-atik ponselnya, ia sedang menunggu chat dari Dira.


"Lo udah ketemu adek gue?" Pertanyaan dari Nicholas yang sukses membuat Axell menoleh kearahnya membuat Nicholas tersenyum.


"Adek gue berencana pindah sekolah ke Indo." Sambungnya lagi.


"Bukan urusan gue." Jawab Axell datar.


"Keknya Xello udah Move on sama Rere, Bro." Ucap Derry tersenyum jahil.


Nicholas memperhatikan wajah Axell yang terlihat santai. Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh temannya tadi.


"Maafin adek gue, Xell! Maafin kebodohan adek gue yang udah ninggalin Lo!" Ucap Nicholas pada Axell yang hanya mendapat tatapan datar dari Axell.


"Gak ada yang perlu di maafin. Keputusan adek Lo buat pergi dari hidup gue itu adalah keputusan yang paling bener. Dan gue sama sekali gak keberatan." Jawab Axell santai. "Sekarang, gue udah dapet ganti yang bahkan... Lebih dari adek Lo." Tambahnya lagi.


'Ah... Sial.'


"Are you serious, Xell?" Tanya Derry ragu. "Rere? Lo segitu mudahnya Move on dari dia? Wah patut gue acungi jempol, nih." Ujar Derry. "Gue jadi penasaran, cewek kayak apa yang berhasil bikin Lo cepet Move on dari seorang Rere?" Tambahnya lagi.


Axell menarik salah satu sudut bibirnya, "Pastinya cewek yang bisa ngasih gue lebih..." Axell semakin tersenyum miring, kini pandangan berubah menatap Nicholas. "Bahkan gue yakin, gak akan ada cewek yang bisa ngasih gue sesuatu yang paling berharga dari seorang cewek melebihi dia... Termasuk..."


.


.


.


*Gimana nih? Kasih tanggapan kalian dong!

__ADS_1


Komen dibawah ya! Jangan lupa kasih Like and Vote, Biar aku jadi makin semangat up-nya. TQ .. & See you bye-bye...😘


__ADS_2