
"Dira... Gue mau ngomong sama, Lo!" Ucap seseorang yang baru saja muncul dan menghampiri Dira. Seketika semuanya menoleh ke arah cowok yang baru datang itu. Beda halnya dengan Axell yang hanya meliriknya sekilas.
"Mau ngomong apa lagi sih, Ar?" Tanya Dira.
"Nggak lama, Dir. Gue mau ngomong sama Lo. bentar aja!" Ucap Arfen dengan tatapan memelas.
"Lo omongin baik-baik, Dir, selesain masalah lo berdua..." Ucap Nayla menasehati. "...Nggak baik di diemin." Lanjutnya.
Dira menghembuskan nafasnya pelan dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Tapi belum sempat kaki Dira melangkah, tangan Dira sudah mulai di tarik pelan oleh Arfen. Arfen berniat membawa Dira pergi dari d'AXE cafe.
Tapi belum terlalu jauh langkah keduanya dari tempat duduk Dira tadi. Sebuah teriakkan begitu saja menggema dari mulut Bastian.
"WOY, BANGS*T! MAU LO BAWA KEMANA BIDADARI GUE?" Seketika para pengunjung yang mendengar teriakan Bastian pun menoleh kearahnya.
Sementara Arfen sama sekali tak berniat menanggapi mulut toa si Bastian. Ia tetap melangkah pergi meninggalkan kafe itu. Arfen merasa ada yang lebih penting yang harus diselesaikan daripada menanggapi mulut receh Bastian.
"Bastian kebiasaan, deh!" Protes Nayla.
"Mulut toa Lo gak bisa lihat kondisi, Bas?" Tanya Verrel.
Sementara Axell hanya diam dan melirik Dira yang sudah meninggalkan area kafe itu.
"k
Kak Nay," Panggil Melody tiba-tiba.
"Ada apa, Mel?" jaw6ab Nayla singkat.
"Dira sama Arfen, mereka saling kenal?" Tanya melodi ingin tahu.
"Bukan cuma kenal, Mel. Aku, Dara, Dira dan juga Arfen. Dari kecil kita memang udah barengan. Kita sahabatan dari kecil sampai sekarang, Mel. Ya meskipun formasi kita gak lagi utuh." Jawab Nayla.
"Nggak lagi utuh? Maksudnya gimana sih, kak?" Tanya Melody.
__ADS_1
"Terus, Dara siapa lagi dah?" Ucap Bastian menimpali.
"Bisa nggak satu-satu nanyanya! Gue bingung jawabnya!" Ucap Nayla.
"Nggak usah dijawab, Beib, biarin aja mereka penasaran!" Sahut Verrel asal.
"Lo gak usah ikutan, Rel! Gue terlanjur kepo nih?" Ucap Bastian ngegas.
"Iya nih, kak, gue kan baru aja kenal sama si Dira, gue gak tau kehidupan dia gimana? Yang gue tau si Dira orangnya diem-diem Bae kalo di kelas!" Celetuk Melody.
Mendengar nama Dira disebut seketika mengalihkan perhatian Axell. Yang tadinya fokus pada ponselnya, sekarang Axell diam-diam pasang telinga untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Nayla.
"Dira itu selain cantik, dia juga baik, ceria, ramah sama semua orang. Dan nggak pendiem kayak sekarang." Jawab Nayla yang mengingat seperti apa Dira dulu.
"Tapi Dira awal pindah sini, dia beda banget." Jawab Melody yang merasa Dira tidak sama dengan apa yang Nayla sebutkan tadi.
"Itu semua berubah saat Dira kehilangan kakak perempuan satu-satunya, ditambah lagi satu tahun selepas kematian kakaknya yang juga sahabat gue, mama Dira juga meninggal karena kecelakaan." Jelas Nayla.
"Jadi si Dira punya kakak perempuan, Nay?" Tanya Bastian.
"Kalau aja kakaknya Dira masih ada, nggak dapet Dira, kakaknya pun jadi." Ucap asal Bastian.
"Hahaha... Masalahnya nih, Bas, Dira sama kakaknya punya selera yang hampir sama..." Jawab Nayla sambil tertawa. "k8alau Dira nolak Lo, pasti kakaknya juga." Sambung Nayla.
"Udah deh, Bro, gue tau. Gelar jomblo bakalan melekat abadi sama Lo?" Ucap Verrel sambil menepuk pundak Bastian.
"Sialan Lo?" jawab Bastian ngegas.
...***...
Disebuah taman kini Dira dan Arfen sedang duduk tanpa saling berucap. Hanya hening yang menemani keduannya sampai sebuah kata maaf muncul dari mulut Arfen.
"Maaf, Dir..." Ucap Arfen lirih.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Dira hanya mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya apa yang akan Arfen katakan setelahnya.
"...Maaf karena gue udah bikin kita jadi renggang kayak gini. Maaf karena gue udah bikin Lo ilfeel sama gue, dan Lo jadi gak nyaman dan perlahan jauhin gue. (Huuhh... )"
Terdengar helaan nafas halus dari mulut Arfen. "... Gue emang salah, Dir. Gue emang salah jatuh cinta sama Lo, sama sahabat gue sendiri." Ucap Arfen.
"Jujur, gue berharap banget Lo mau terima cinta gue. Gue berharap banget bisa lebih dari sahabat. Tapi jika itu nyiksa Lo, dan bikin Lo gak bahagia. Gue gak maksa Lo. Dengan gue bisa terus di dekat Lo aja udah cukup buat gue, Dir. Di saat Lo ngejauhin gue, gue tersiksa. Gue udah gak ngerasa hidup, Dir." Sambung Arfen.
Dira masih terdiam, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Lupain, Dir, lupain apapun yang udah gue omongin sama Lo waktu itu! Perasaan gue nggak penting lagi, Dir. Lo tau perasaan gue aja, udah cukup buat gue. Gue pengen kita bisa kembali kayak dulu. Gue masih pengen tetep jadi sahabat Lo Dir, boleh kan?" Pinta Arfen penuh harap.
"Ar, Lo gak salah..." Ucap Dira lirih.
"...Perasaan Lo gak salah, Ar. Siapa sih, orang yang ada di dunia ini yang bisa ngatur perasaannya? Dia harus suka sama siapa dan gak boleh sama siapa? gak ada, Ar. Termasuk Lo, dan gue." Jawab Dira. Arfen masih terdiam mendengarkan apa yang akan dikatakan Dira selanjutnya.
"Lo baik, gue yakin siapa pun yang bakal jadi pendamping Lo nantinya, pasti hidupnya bakalan bahagia. Gue yakin. Terlepas dari tali persahabatan kita, Gue pasti juga mau kok, Ar, sama Lo." Ucap Dira menambahkan.
Arfen yang tadinya hanya mendengarkan apa yang dikatakan Dira dan hanya menatap lurus ke depan pun kini menoleh ke arah Dira. Menantikan apa yang akan Dira katakan selanjutnya.
"Tapi, Ar.... Gue gak bisa. Gue nggak bisa terima Lo." Ucap Dira lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa nggak bisa, Dir? Apa yang buat Lo nggak bisa terima gue? Apa karena Lo udah punya cowo? Tapi selama ini, Lo... Gue yakin Lo masih sendiri, Dir." Ucap Arfen.
"Gue gak bisa jelasin, Ar. Sorry. Ada satu hal yang gue belum siap kasih tau sama Lo, termasuk Nayla." Ucap Dira pelan sambil menitikkan air matanya.
Arfen yang menyadari kalau Dira mulai menangis pun kini menggenggam tangan Dira.
"It's Ok, Dir. Kalau Lo belum siap cerita. gue tahu, Lo butuh privasi." ucap Arfen yang lembut.
"Akan ada saatnya Lo tahu, Ar." Ucap Dira pelan. Tak ada jawaban, Arfen hanya menatap mata Dira dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulut Arfen.
"Tapi kita masih bisa kayak dulu lagi kan?" Tanya Arfen penuh harap.
__ADS_1
"tak ada yang berubah Ar, Lo tetep sahabat gue." Jawab Dira dan disambut pelukan hangat dari Arfen.