Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
109. Cerita Bunda Resty.


__ADS_3

Bunda Resty kembali tersenyum, "Ada beberapa faktor pendukung yang membuat Axell memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, sayang. Selain karena Ayahnya yang terlalu keras dalam hal mendidik putranya, Axell juga merasa lelah karena di usianya yang bahkan masih remaja, ia sudah harus di sibukkan dengan kesibukan di kantor. Ditambah lagi, saat Axell baru mengenal yang namanya cinta, ia harus kecewa karena ditinggalkan kekasihnya dulu." Ucap Bunda Resty yang menceritakan tentang putranya itu.


"Ditinggalkan, Bun?" Tanya Dira penasaran. "...Bunda tau nggak, apa penyebabnya?" Sambung Dira yang begitu ingin tahu tentang mengapa hubungan Axell dan mantan kekasihnya yang sudah pasti Dira tebak adalah Renata itu berakhir.


Bunda Resty menggeleng pelan, "Bunda tidak tau pasti apa penyebab dari berakhirnya hubungan mereka, karena Axell memang enggan bercerita waktu itu..." Jawab Bunda Resty. "...Kamu pasti kenal Bastian dan Verrel, kan?" Tanya Bunda Resty pada menantunya itu dan langsung mendapat anggukan kepala dari Dira. "...Kalo menurut cerita yang Bunda dapat dari mereka, Gadis itu memilih untuk meninggalkan Axell karena menyukai salah satu dari sahabat Axell sendiri, sayang?" Jawab Bunda Resty.


"Sahabat kak Axell, Bun? Tapi siapa? Bukannya Sahabat kak Axell cuma kak Bastian dan kak Verrel?" Tanya Dira semakin penasaran.


Bunda Resty kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, ada satu lagi. Dulu mereka berempat dan sangat dekat dari SMP. Bahkan tak jarang mereka sering datang ke sini. Tapi semenjak hal itu, dia... Ah, siapa ya namanya, Bunda lupa, sayang. Dia sudah tidak pernah main lagi kesini. Bahkan karena hal itu, kabarnya dia sampai memutuskan untuk pindah sekolah ke SMA lain." Jelas Bunda Resty.


"Sampai pindah sekolah, Bun?" Tanya Dira memastikan.


"Iya, sayang. Semenjak perselisihan Axell dengan anak itu, sifat Axell perlahan berubah. Bahkan Bunda sampai hampir tak mengenal putra Bunda sendiri. Axell jadi lebih banyak diam, dan memilih untuk tinggal sendiri di apartemen." Ucap Bunda Resty menambahkan.


Dira mengangguk mengerti, sekarang ia tahu alasan kenapa Axell bersikap posesif terhadapnya. Axell melakukan itu semua hanya karena ia takut kehilangan Dira. Apalagi dengan status keduanya yang bukan sekedar pacaran, melainkan suami istri. Jadi wajar kalo Axell bertindak demikian, dan Dira mengerti akan hal itu.


"Ada satu hal lagi, sayang." Ucap Bunda Resty menambahkan.


Dira yang tadi fokus melihat ke arah Axell itupun mengalihkan pandangannya pada Bunda Resty, "Apa, Bun?" Tanya gadis itu.


"Selain berselisih dengan salah satu temannya, Axell juga sedang marah dengan Ayahnya waktu itu." Jawab Bunda.


"Marah? Dengan ayah? Tapi apa masalahnya, Bun?" Tanya Dira sambil kembali memperhatikan Ayah dan Axell secara bergantian. "...Yang Dira liat, Ayah dan kak Axell seperti tidak terjadi apa-apa."


Bunda Resty tersenyum mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Dira. "Itu semenjak Axell menikah denganmu, sayang. Hubungan yang sempat renggang antara Ayah dan Axell kini berangsur membaik. Apalagi sekarang dengan hadirnya kamu dalam hidup Axell, Bunda seperti menemukan kembali putra Bunda." Ucap bunda Resty.

__ADS_1


"Benar begitu, Bun." Tanya Dira ragu.


"Iya, sayang. Bunda terima kasih sekali sama kamu. Karena kamu mau menikah sama Axell..." Ucap Bunda Resty sembari mengusap lembut kepala Dira, "...Kalau saja Axell menikahnya bukan dengan kamu, entah Axell bisa kembali berubah seperti sekarang atau tidak." Tambah bunda Resty.


Entah mengapa setelah mendengar cerita dari Bunda Resty, Dira jadi sedikit lebih banyak tahu tentang Axell. Bahkan tanpa sadar, kedua sudut bibir gadis itu terangkat membentuk sebuah senyuman. Tapi, ada satu lagi yang membuat gadis itu penasaran.


"Tapi, Bun. Sebenarnya, apa yang membuat kak Axell marah dengan Ayah?" Cicit Dira yang teringat tentang hubungan Axell dan Ayah Marvellyo yang sempat renggang. Tiba-tiba gadis itu merasa tegang, "Apa karena ayah yang meminta kak Axell untuk menikah dengan Dira ya, Bun?" Entah mengapa setelah menanyakan itu, senyum yang tadi menghias di wajah Dira perlahan menghilang. Gadis itu bahkan kini menunduk. Ia takut kalau apa yang sedang ia pikirkan itu benar adanya.


Bunda Resty menggeleng cepat, "No no no. Itu tidak benar, sayang..." Sahut Bunda Resty cepat. Wanita paruh baya itu meraih dagu menantunya agar dapat melihat wajah Dira dengan jelas. "...Bukan seperti itu..." Ucap Bunda Resty yang menampik apa yang sedang Dira pikirkan.


"...Coba kamu liat suamimu!" Titah Bunda Resty yang langsung di turuti oleh Dira. Gadis itu lalu kembali melihat ke arah Axell. "... Diusianya yang bahkan masih remaja, Axell tidak bisa bermain bebas seperti teman seusianya. Disaat teman-temannya masih bebas bermain, Axell sudah disibukan dengan sekolah dan urusan kantor. Terkadang Bunda juga kasihan dengan Axell, tapi Bunda tidak bisa melawan kemauan Ayah..." Bunda Resty menghela nafas pelan sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Axell adalah anak Bunda satu-satunya. Jadi mau tidak mau, ia harus mengemban tugas sebagai satu-satunya pewaris. Jadi, kalau tidak belajar sejak dini, takutnya nanti Axell belum siap untuk itu semua. Dan sekarang, hasil dari didikan ayah telah membuahkan hasil. Axell bahkan sudah bisa berdiri di kakinya sendiri. Banyak tender yang sudah Axell menangkan dan juga bisnis yang Axell rintis sendiri, berkembang pesat. Contohnya d'AXE Cafe." Sambung Bunda Resty.


Dira diam dengan pandangan mata yang masih tertuju pada Axell yang masih lincah bermain. Ternyata kehidupan Axell tidak sesempurna yang ia pikirkan.


Bunda Resty tersenyum melihat Dira yang sedari tadi memperhatikan Axell. "Sekarang ada yang mau Bunda tanyakan sama kamu." Ucap Bunda Resty yang berhasil membuat Dira menoleh ke arah Bunda Resty.


"Apa, Bun?" Tanya Dira.


Bunda kembali tersenyum sebelum akhirnya satu pertanyaan keluar dari Bunda Resty, "Bagaimana perasaan kamu dengan Axell sekarang, sayang?"


Deg,


Dira gelagapan sendiri. Gadis itu kini diam, bukan berarti ia tidak mau menjawab pertanyaan dari Bunda Resty. Hanya saja...

__ADS_1


"Kenapa, sayang?" Tanya Bunda Resty yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari menantunya itu.


"Em... anu Bunda..." Gadis itu nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "...Dira-"


"Yang, minum..." Ucap Axell yang tiba-tiba datang dengan wajah dan rambut yang basah dengan keringat. Dira yang seketika menoleh saat mendengar suara Axell itupun langsung mendapati Axell yang sudah duduk di bawah dengan posisi kaki yang di luruskan di depan bangku yang ia duduki itu. Tangan Dira refleks mengulurkan segelas jus jeruk yang tadi sudah Bi Irah bawakan tadi. "Ini, kak." Ucap Dira.


Axell menerima gelas berisi jus yang Dira berikan dan langsung meminumnya hingga tandas.


"Makasih, yang." Ucap Axell sambil mengembalikan gelas yang sudah kosong tersebut pada Dira. Kini laki-laki itu bersandar pada kaki Dira dengan kepala yang ia sandarkan pada lutut gadis itu.


"Istirahat dulu, kak!" Ucap Dira. Tangan gadis itu bahkan bergerak untuk membasuh keringat yang membanjiri wajah tampan suaminya itu dengan handuk kecil.


Bunda Resty yang melihat interaksi antara menantu dan putranya itu tersenyum. Tanpa mendengar jawaban dari Dira, Bunda Resty tahu, ada cinta yang sedang tumbuh bersemi diantara kedua.


"Ya udah, sayang, Boy... Bunda sama Ayah masuk dulu." Ucap Bunda Resty yang berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan pasangan muda itu.


"Iya, Bun." Sahut Dira dan Axell kompak. Jika Dira kini sedang membasuh wajah Axell, beda halnya dengan Axell. Laki-laki itu kini sedang menikmati pemandangan indah di atasnya, wajah gadis yang kini selalu menemani hari-harinya.


"Yang... kamu-"


Drrtt... drrtt...


Ucapan Axell terhenti karena ponsel Axell yang tiba-tiba bergetar karena ada panggilan masuk.


O SHITT...

__ADS_1


__ADS_2