Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
39. Kepergok 2.


__ADS_3

Lagi,


Tanpa Axell maupun Dira sadari, sepasang mata tengah mengamati keduanya dari kejauhan. Ia tersenyum miring sambil menganggukkan kepalanya seakan baru saja menangkap basah seorang pencuri.


"Gotcha. Di tungguin dari tadi, eh... Ternyata lagi asyik-asyik dalem mobil, Ck... Ck... Ck..."


...***...


Di kantin sekolah, Dira dan Melody sedang menunggu makanan yang mereka pesan tadi. Sebelumnya mereka telah memesan makanan kepada ibu kantin.


"Eh Dir. Lo udah ketemu kak Nayla?" Tanya Melody.


"Belum, ada apa?" Tanya Dira.


"Tadi pagi Lo di cariin deh, sama kak Nayla." Ujar Melody menjelaskan. "Kek ada yang penting gitu, deh." Sambungnya.


Dira mengernyitkan dahinya bingung, mendengar apa yang di katakan Melody tadi. Kalau Nayla mencarinya kenapa dia tidak menelponnya. 'Ada apa ya?' Batin Dira bertanya sampai akhirnya ia teringat akan satu hal.


"Oh God!" Desah Dira pelan yang masih bisa di dengar oleh Melody.


"Kenapa, Dir?" Tanya Melody bingung.


"Nggak apa-apa, Mel. Gue lagi keinget sesuatu." Celetuk Dira yang tiba-tiba terlihat panik.


"Lo kenapa sih Dir? Aneh, deh!" Protes Melody.


"Nggak apa-apa. Bentar ya, gue pergi dulu." Ucap Dira yang langsung pergi dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Eh Dir. Kok gue di tinggal, sih!" p6rotes Melody setengah berteriak.


"Si Dira mau kemana?" Tanya Zaki yang baru saja datang dan duduk di samping Melody.


"Tau 'tuh!" jawab Melody ketus.


...***...


Setelah pergi dari kantin, kini Dira berjalan dengan tergesa-gesa sambil melihat ke kanan dan kiri, memastikan ia tidak bertemu dengan Nayla untuk sekarang.


Tadi saat Melody memberitahu kalau Nayla sedang mencarinya, Dira jadi ingat sesuatu. Dimana kemarin Nayla menelponnya saat ia sedang bersama dengan Axell. Pasti Nayla akan menanyakan tentang siapa lelaki yang kemarin sedang bersamanya?


"Duh, gue harus ngumpet kemana, nih? Gue nggak sampe boleh ketemu Nayla dulu! Kalau gue sampe ketemu sama Nayla, bisa habis gue. Gue harus jawab apa nanti kalo dia nanya macem-macem. Gue pasti ketahuan bohong kalo sama Nayla." Ucapnya sambil terus berjalan tak tentu arah.


Dan, tanpa Dira sadari, ada seseorang yang berjalan mengikutinya. Seseorang yang menggunakan Hoodie, topi serta masker serba hitam.


Dira terus berjalan menuju taman depan, karena di lihatnya tadi taman itu terlihat tidak terlalu ramai. m9ungkin karena jam istirahat, kebanyakan dari semua murid memilih untuk ke kantin dari pada taman.


Saat Dira hampir sampai di taman, ponsel Dira berbunyi karena ada yang menelpon. Diraihnya ponsel itu dari sakunya.

__ADS_1


📲 Kak Axell is Calling...


Melihat nama si penelepon membuat dahi Dira berkerut, ada apa Axell menelponnya? Begitu pikir Dira. Dira menghembuskan nafasnya pelan lalu menggeser tombol hijau untuk menerima telpon dari Axell.


"Hallo, kak."


"(....)."


"A-aku lagi emmmm..."


Belum selesai Dira menjawab apa yang di tanyakan Axell, tiba-tiba ada seseorang yang datang entah dari mana dan langsung membekap mulut Dira.


Dira yang terkejut itu pun reflek menjatuhkan ponselnya, membiarkan orang di seberang sana dengan sejuta pertanyaan yang mengambang di pikirannya.


Dengan cepat, seseorang yang tadi membekap mulut Dira itu pun lalu membawa Dira ke arah pohon besar yang ada di taman tanpa ada yang melihatnya sama sekali.


Di perlakukan seperti itu, tak membuat Dira tinggal diam. Dira bahkan sempat berontak untuk minta di lepaskan. Tapi karena tubuh Dira yang tak sebanding dengan tubuh si misterius itu. Jadi, mau tak mau Dira hanya bisa menurut.


"Jangan takut, Dir! Ini gue." Bisik seseorang yang tadi membekap mulut Dira. Cowok yang tak lain adalah,


"Arfen." Lirih Dira saat tangan Arfen mulai terlepas dari mulut Dira.


Arfen menampilkan senyum manisnya dan berkata, "Sorry, udah bikin Lo Takut!" Ucap Arfen merasa bersalah.


Dira menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Ia tak habis pikir dengan tindakan Arfen yang terbilang nekat tadi. Dimana Arfen yang anak SMA Bina Bangsa, yang notabene anak sekolah lain, berani datang ke sekolahnya. SMA Bhakti Bangsa, sekolah mertuanya sendiri.


"Ada apa sih, Ar?" Tanya Dira sambil menengok ke kanan dan ke kiri, takut-takut kalau Axell akan melihatnya. Bukan apa-apa, Dira masih ingat beberapa waktu yang lalu, dimana Axell pernah memperingatkannya untuk melarang Arfen datang ke SMA Bhakti Bangsa untuk menemuinya.


Melihat sikap Dira yang seperti tengah mengamati sekitar itu pun membuat Arfen mengikuti arah pandang gadis di depannya itu. "Lo ngeliatin apaan sih, Dir? Nggak ada siapa-siapa di sini. Cuma ada kita." Ujar Arfen.


"Lo ngapain kesini sih, Ar? Nanti kalau ada yang liat gimana?" Tanya Dira pada Arfen.


Arfen mendengus pelan. "Lo susah banget di hubungin, Dir. Gue telepon nggak pernah Lo angkat. Gue chat juga gak pernah di bales..." Ucap Arfen menggantungkan kalimatnya.


Sementara Dira masih diam, ia menunggu apa yang akan di katakan oleh Arfen selanjutnya.


Tangan Arfen terulur untuk mengusap lembut puncak kepala Dira sambil menatap penuh arti ke arah Dira, "Gue kangen sama Lo." Ujar Arfen di akhiri dengan senyum manisnya.


Sadar dengan apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu, entah mengapa tubuh Dira seakan menolah untuk di sentuh. Dengan pelan, tangan Dira meraih tangan Arfen untuk turun dari kepalanya.


'Please, jangan gini, Ar! Batin Dira.


"Tapi gue pernah bilang sama Lo kan, jangan temui gue lagi kalo di sekolah!" Ujar Dira mengingatkan.


Melihat Dira yang menurunkan tangannya dari kepala gadis itu entah mengapa langsung memudarkan senyum dari bibir Arfen.


Kenapa Dira seolah-olah menolah untuk di usap kepalanya? Bukankah Arfen selalu mengusap kepala Dira kalau mereka bertemu?

__ADS_1


'Lo kenapa sih, Dir?' Batin Arfen.


"Lo kenapa? Hm?" tanya Arfen pelan.


Dira menggelengkan kepalanya pelan, "Gue gak apa-apa, Ar. Em... mending Lo balik! Gue nggak mau ada yang ngelihat Lo disini. Lo balik ya!" Usir Dira halus. Ia tak ingin Arfen merasa kalau ia sedang mengusirnya. Dira hanya Tak ingin Axell mengetahui kalau Arfen ada di sekolahnya saat ini. Semakin cepat Arfen pergi, maka semakin tipis kemungkinan Axell tahu.


"Tapi gue masih kangen sama Lo, Dir!" Ucap Arfen memelas.


Dira menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya menjawab "Iya, gue tahu. Kita masih bisa ketemu lain hari. Tapi Sorry, Ar. Untuk beberapa hari ini gue lagi sibuk." Jelas Dira beralasan.


Arfen menghembuskan nafasnya pelan setelah mendengar apa yang di katakan Dira barusan. "Ya udah, kalo gitu, gue pergi. Jaga diri Lo baik-baik. Kalo ada apa-apa, telepon gue!" Titah Arfen pada Dira.


Dira menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Iya."


"Bentar, gue hampir lupa." Ucap Arfen yang tengah mengambil sesuatu dari saku Hoodie-nya.


Dira mengernyitkan dahinya bingung. Sampai akhirnya tangan Arfen mengulurkan dua batang coklat besar untuknya. "Buat Lo." Ucap Arfen.


Dira menggelengkan kepalanya pelan. Laki-laki itu tak pernah lupa memberinya coklat setiap kali bertemu. "Thank's, ya." Ucap Dira sambil menerima coklat pemberian Arfen.


"Ok, gue balik dulu. Bye." Ucap Arfen lalu bergegas pergi dari sekolah Dira.


Setelah kepergian Arfen Dira mengusap dadanya pelan. Dira merasa tenang mengetahui ia masih sendiri, itu tandanya Axell tidak mengetahui kedatangan Arfen tadi.


Tapi,


Jika Dira merasa lega karena apa yang di takutkannya tidak terjadi, maka lain halnya dengan seseorang yang kini tengah mengepalkan tangannya menahan emosi, yang seakan siap meledak karena melihat interaksi antara Dira dan Arfen tadi.


Tadi saat Axell berada di kantin, ia hanya melihat Nayla, Melody dan juga Zaki tanpa adanya Dira. Lalu Axell bertanya pada dirinya sendiri dimana Dira berada? Karena hanya gadis itu yang tak terlihat di kantin.


Lalu Axell mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan teman-teman di kantin. Ia lebih memilih untuk mencari keberadaan Dira. Axell lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan langsung menelpon Dira untuk menanyakan keberadaannya.


Tapi, saat telepon itu tersambung, Axell hanya mendengar kata hallo dari gadis itu dan suara yang agak aneh menurutnya.


'Dira kenapa?' batin Axell bertanya.


Axell lalu mencari Dira mulai dari tempat-tempat yang sering Dira datangi jika biasanya jam istirahat. Dan saat Axell sampai di taman ia menemukan ponsel Dira tergeletak di rerumputan.


Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu, pikir Axell. Dengan sigap Axell mencari Dira di sekitar jatuhnya ponsel gadis itu tadi. Dan benar saja,


Saat Axell menemukan dimana Dira, Axell di suguhkan dengan pemandangan yang seketika membuat dirinya kesal bahkan marah. Tangan Axell bahkan terkepal melihat Dira berada di taman dengan seseorang yang tidak ia suka. Bahkan sekarang Axell benci orang yang saat ini tengah mengelus kepala gadisnya itu.


"Gue udah peringatin Lo baik-baik..."


.


.

__ADS_1


.


*Yang kek biasanya ya, dan gak bosen² aku minta vote dan likenya.. Dan Jan lupa juga,, Absen di jam berapa klean baca eps. ini.. Ok .. 😘


__ADS_2