Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
34. Lo punya perasaan sama dia? (Axello)


__ADS_3

"Selamat tidur." Ucap Axell lirih.


Eh,


Dira yang tadi sudah mulai memejamkan matanya tiba-tiba membuka matanya kembali, setelah mendengar dua kata yang lolos dari mulut Axell. 'Gue nggak salah denger kan, tadi?' Batin Dira berkata.


Dira lalu menoleh ke arah lelaki yang tidur tengkurap di sampingnya. Dira sempat mengira kalau Axell sudah tertidur dari tadi. Tapi ternyata tebakan Dira, salah. Axell belum tidur. Dan untuk sesaat pandangan mata keduanya terkunci. Sampai akhirnya Axell kembali mengulangi kata-katanya lagi.


"Selamat tidur, Dira."


Dira diam. Ia masih berpikir, 'Ada apa dengan Axell hari ini? Ada apa dengan kepalanya? Kejedot pintu kah?' Begitu pikir Dira.


Merasa Dira mengabaikan ucapnya, tangan Axell terulur untuk mengusap puncak kepala Dira.


Deg,


Jantung Dira, tiba-tiba berdebar kencang.


"Hey, kenapa?" Tanya Axell Sambil mengusap lembut rambut Dira.


"Kak Axell, kenapa?" Tanya Dira bingung. Ini pertama kalinya lelaki di depannya ini menyentuhnya setelah mereka menikah. Meskipun hanya mengusap rambut miliknya.


"Gue nggak apa-apa." Jawab Axell yang mendapat anggukan kepala dari Dira.


Seketika hening kembali menyapa keduannya, sampai akhirnya Axell kembali membuka suara. "Dir, menurut Lo..." Ucapan Axell menggantungkan kalimatnya sejenak, "...Pernikahan kita ini, gimana?" Sambung Axell melanjutkan kata-katanya tadi.


Mendengar apa yang di katakan Axell padanya tadi seketika mengubah arah pandangan Dira. g8adis itu kini beralih menatap langit-langit kamar. Melihat gadis di sampingnya yang beralih menatap langit-langit di kamarnya, membuat Axell mengikuti apa yang Dira lakukan.


"Sorry." Satu kata yang keluar dari mulut Axell membuat Dira kembali menatap wajah lelaki di sampingnya itu. Dira mengernyitkan dahinya bingung, apa yang akan di katakan Axell selanjutnya.


"Sorry gara-gara ayah sama bunda jodohin kita, Lo jadi terkekang kayak gini. Lo harus terjebak dengan pernikahan ini sama gue." Ucap Axell lirih sambil menatap Dira penuh arti.


Mendengar apa yang di katakan oleh Axell tadi seketika membuat Dira tersenyum tipis Sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak apa-apa, kak. Semua udah terjadi, kan. Dan gue gak pernah nyesel sama keputusan yang gue ambil." Jawab Dira berhenti sesaat untuk menghela nafasnya. "Sebenarnya, gue bisa aja nolak kalau gue mau waktu itu. Tapi balik lagi, gue mau liat papa bahagia. Bagaimana pun, cuma papa orang tua kandung gue satu-satunya. Ya, meski pun sekarang gue juga udah punya Mama Diva dan Mama Diva juga sayang banget sama gue. Tapi tetep aja, gue pengen bisa bahagiain Papa. Dengan cara nerima perjodohan ini." Jawab Dira menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini.


Axell menarik salah satu sudut bibirnya setelah mendengar apa yang di katakan Dira padanya. Gadis di sampingnya ini sekarang sudah mulai mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.


"Terus?" Tanya Axell menggantung.


"Apanya?" Jawab Dira yang tak mengerti apa yang di maksudkan Axell.


"Bubungan Lo, sama sahabat Lo itu. Lo punya perasaan sama dia?" Tanya Axell To the point.


'Arfen? kenapa jadi bahas dia?' Batin Dira.

__ADS_1


Dira menggeleng kan kepalanya, "Gue nggak tau, kak. Perasaan gue cuma sekedar suka atau cuma emang ngerasa nyaman aja. Selama ini emang cuma dia yang jadi temen cowok gue satu-satunya. Gue jarang ngebuka diri sama orang lain." Jawab Dira.


'Tapi, gue bukan orang lain, Dir!' Batin Axell.


Axell menganggukkan kepalanya, "Tapi hubungan kita gak main-main, Dira." Ucap Axell mencoba mengingatkan status mereka pada gadis di sampingnya itu.


Entah cemburu atau apa, Axell seperti tidak rela kalau Dira sampai larut dengan perasaannya sendiri pada Arfen.


*Ciyeee... Axell. Udah mulai suka, nih. 🤭


"Gue tau." Jawab Dira.


...***...


Keesokan paginya, Dira bangun lebih dulu. Ia mandi dan bergegas untuk ke dapur untuk membuat sarapan.


Sementara itu,


Ting,


Axell yang juga sudah bangun dari tidurnya pun mendengar ada sebuah notifikasi, tanda pesan masuk di salah satu ponsel yang tergeletak di meja. Axell memutuskan untuk bangun dan meraih salah satu ponsel yang layarnya masih menyala itu.


"Arfen?" Lirih Axell setelah membaca si pengirim pesan. "Ini kan ponsel Dira." Ucapnya lagi. 'Kapan 'tuh cewe ngaktifin nih ponsel?' Batin Axell bertanya. Karena memang seingat Axell, ia sendiri yang menon-aktifkan ponsel Dira kemarin, setelah Arfen menelpon gadis itu.


Pg cantik.


Udah bangun?


Gw mau ajak lo jalan nanti,


Bisa ya.


Axell meremat ponsel Dira kuat setelah membaca isi pesan yang Arfen kiriman pada Dira. Tapi tunggu, Axell ingat satu hal.


Bukankah kemarin waktu Arfen menelpon Dira, Axell yang menerimanya dan mengatakan salah sambung? Tapi kenapa Arfen tidak menanyakan hal itu pada Dira? Atau mungkin, Dira yang memberitahu Arfen kalau dirinya yang menerima telepon itu? Atau memang Arfen yang tak berniat menanyakannya?


Entahlah,


Axell hanya mengendikan bahunya acuh, tak mau ambil pusing. Axell lalu menekan tombol Delete pada ponsel Dira, menghapus pesan yang baru saja ia baca tadi. Setelah menghapus pesan dari Arfen, Axell kembali meletakkan Polsek Dira dan bergegas untuk mandi.


...***...


Di dapur,

__ADS_1


"Non, jangan non. Nanti Bibi bisa di marahin nyonya!" Pinta Bi Irah pada gadis yang sedang sibuk memasak itu. Bi Irah takut di marahi majikannya, karena membiarkan menantunya itu memasak di dapur.


"Nggak apa-apa, Bi. Bunda nggak bakal marah kok. Dira kan cuma mau bikin sarapan." Jawab Dira santai sambil sibuk memasukan nasi ke dalam bumbu halus yang sedang ia tumis.


"Tapi, non-"


"Udah, Bi. Mending bibi bantu Dira!" Pinta Dira sambil sibuk mengaduk-aduk nasi.


"Bantu apa, non?" Tanya Bi Irah pada Dira.


"Bikinin Lemon tea anget ya, Bi! sama segelas susu hangat buat kak Axell." Jawab Dira yang beralih membuat telur dadar.


"Baik, non." Jawab Bi Irah.


"Ayah sama Bunda kalau pagi sukanya minum apa ya, Bi?" Tanya Dira ingin tahu.


"Kalau Bunda suka teh, sayang. Kalau Ayah lebih suka kopi." Sahut Bunda Resty sambil berjalan mendekat kearah Dira.


Mendengar jawaban dari Bunda Resty membuat Dira menoleh ke belakang, dimana kini Bunda Resty berjalan mendekat kearahnya.


"Pagi Bunda." Sapa Dira pada Bunda Resty sambil tersenyum.


"Pagi juga, sayang." Balas Bunda Resty sambil mengelus rambut Dira. "Wah... menantu Bunda lagi bikin apa?"


"Bikin nasi goreng, Bun." Jawab Dira.


"Kok bisa pas gini, ya? Bunda lagi pengen nasi goreng..." Jawab Bunda Resty. "... Menantu Bunda emang pengertian." Sambung Bunda Resty sambil mencubit gemas pipi Dira.


"Bunda, bisa aja." Jawab Dira.


...***...


Kini sarapan sudah siap di atas meja, tinggal menunggu Ayah Marvellyo dan Axell yang masih belum datang untuk sarapan.


"Sayang, kamu panggil suami kamu gih!" Pinta Bunda Resty pada menantunya itu.


"Baik, Bun." Jawab Dira dan langsung berjalan menuju ke kamarnya. Saat Dira memasuki kamar tepat saat Axell berjalan ke arah pintu.


"Kak, ditungguin Bunda dibawah, buat sarapan." Ucap Dira.


"Ini gue juga baru mau turun." Jawab Axell.


Drrtt... drrtt...

__ADS_1


__ADS_2