Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
91. 'I want you.' (Axello)


__ADS_3

Dira menggeleng, "Aku gak apa-apa, kak. Aku gak sekolah karena mau nemenin kak Axell dirumah."


Tak ada jawaban dari Axell, laki-laki itu memilih untuk diam namun pandangan matanya tak pernah lepas dari wajah cantik Dira.


"Kak Axell cuci muka dulu, ya! Abis itu sarapan. Aku udah bawain sarapan dan obat buat kak Axell." Ucap Dira.


"Emangnya gue kenapa?" Tanya Axell yang kini merubah posisinya menjadi duduk.


"Semalem kak Axell demam." Jelas Dira.


Axell mengangguk, ia ingat semalem Dira mengompresnya. "Thank's untuk yang semalem. Yaudah, gue mandi dulu." Ucap Axell lalu bangkit menuju kamar mandi sambil sesekali memijat kepalanya.


Melihat Axell yang masuk kamar mandi, seperti biasa, Dira lalu menyiapkan baju ganti untuk Axell. Tak lama kemudian, Axell keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Laki-laki itu berjalan ke arah ranjang untuk mengambil baju ganti yang Dira siapkan tadi. Dengan tanpa malunya, Axell langsung memakai pakaiannya tanpa menghiraukan adanya Dira.


Sementara Dira, ia sekarang tak lagi mempermasalahkan Axell yang tiba-tiba suka ganti baju di depannya. Lagi pula Axell suaminya, kan? Jadi, apa salahnya?


Selesai mengenakan bajunya, bukannya makan, Axell malah kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap. "Kak Axell makan dulu!"


Tak ada jawaban, laki-laki itu tak bergeming sama sekali. Dira lalu mendekati Axell untuk memastikan apakah Axell tidur lagi atau hanya malas untuk makan.


"Kak... Kak Axell tidur lagi, ya?" Tanya gadis itu sambil menepuk pelan pundak Axell.


"Gue belum mau makan." Jawab Axell masih dengan mata terpejam.


"Tapi kak Axell harus minum obat." Jelas Dira.


"Gue gak mau minum obat, Dira. Gue cuma mau tidur bentar, nanti juga sembuh sendiri." Jawab Axell malas.


Dira menghela nafas, mendengar jawaban Axell, Dira jadi semakin khawatir. "Tapi kak Axell harus makan, Aku suapin, ya?" Ucap Dira menawarkan.


"Ck." Axell berdecak seakan ia merasa kesal. Padahal itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Diam-diam Axell tersenyum dalam hati.


Laki-laki itu perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Gue cuma demam dikit, tapi Lo jadi cerewet kayak gini."


"Maaf..." Lirih Dira yang tiba-tiba merasa tidak enak dengan Axell. Memang benar apa yang Axell katakan tentangnya tadi. Ia jadi banyak bicara sekarang.


Axell tak menjawab, ia malah mengangkat sebelah alisnya seakan menunggu apa yang akan Dira katakan setelahnya. "...Aku cuma khawatir sama kak Axell."


"Khawatir? Sama gue? Kenapa harus khawatir kayak gitu? Gue siapa Lo emang?" Jawab Axell malas. Bukan malas, sih. Lebih tepat ke menyindir sebenarnya.


Deg,


'Kok kak Axell nanyanya gitu, sih?'


"Karena kak Axell kan suami aku. Wajar kalo aku khawatir sama kak Axell, dan itu gak salah." Jawab Dira pelan.


Axell mendengus geli, "Suami ya?" Axell tersenyum kecut mendengar Dira mengatakan Suami. Padahal kenyataannya Dira seperti belum bisa menerima itu. "Status doang kan?" Lanjut laki-laki itu.


Deg,


Mendengar apa yang Axell katakan padanya barusan entah mengapa Dira seakan tertampar. "Kok kak Axell bilang gitu?" Tanya Dira yang sekarang berdiri dari duduknya.


Axell menghela nafas, ia menggeleng pelan, "Gak. Ya udah sini! Katanya mau nyuapin gue."

__ADS_1


...***...


Di tempat lain, lebih tepatnya di SMA Bhakti Bangsa


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu dan semua murid sedang berjalan bergantian untuk keluar dari dalam kelas masing-masing untuk mengistirahatkan otaknya setelah belajar beberapa jam tadi.


"Rel, gue mau nanya." Celetuk gadis yang kini berjalan mendekat ke meja Verrel yang sekaligus duduk di samping Nayla.


Nayla yang saat ini tengah memainkan ponselnya itu pun seketika pasang telinga, tapi tak beralih pandang sedikit pun dari ponselnya. Gadis itu malas menatap wajah gadis yang kini tengah berdiri di depan Verrel.


Verrel menoleh ke arah gadis itu sebentar lalu kembali memasukan buku pelajarannya ke dalam tasnya.


Sementara Bastian yang duduk di meja samping Verrel menatap malas ke arah gadis tersebut.


"Apaan?" Tanya Verrel ketus.


"Ck. Lo tau, kenapa Xello gak masuk?" Tanyanya gak sabaran.


"Gak tau gue." Jawab Verrel malas tapi juga tidak bohong. Sebenarnya Verrel memang belum tahu, apa alasan Axell tidak masuk hari ini.


"Bohong banget! Gue gak percaya." Ucap gadis itu yang tak lain adalah Rere, Renata Isabella.


"Gak ada pasal yang mengharuskan Lo untuk percaya, Re! Mantan dilarang kepo!"Sahut Bastian asal.


"Nyambar aja 'tuh mulut." Cibir Rere pada Bastian. "Belum pernah di cabein?"


Bastian tergelak mendengar apa yang Rere katakan padanya, "Hahaha... Ngeliat Lo yang kek gini, gue jadi semakin bersyukur. Setidaknya hidup gue gak semenyedihkan kek hidup Lo... Udah di tolak mentah-mentah, masih aja nguber-nguber cowok yang jelas-jelas udah punya pacar..." Bastian lalu mengubah sorot matanya menjadi tatapan kesal. "Jadi cewek gak ada harga dirinya banget. Eh gue lupa..."


Rere hanya menatap malas ke arah Bastian, tapi ia juga sedang menunggu, apa yang akan Bastian ini katakan setelahnya. "Lo kan emang udah gak ada harganya." Sambung Bastian yang langsung membuat Rere mengepalkan kedua tangannya.


"Good job, Bas. Males gue liat mukanya!" Puji Nayla pada Bastian saat melihat Rere yang keluar dari kelas.


"Beuh... Apa lagi gue... Jyjyg."


...***...


Dira kembali menghela nafas. Laki-laki di depannya ini masih dengan pendirinya untuk tidak mau minum obat. "Ini kan cuma satu butir, kak." Ucap Dira pelan berharap Axell merubah keputusannya dan mau minum obat yang sedang berada di tangan Dira.


"Ck. Maksa banget, sih!" Jawab Axell.


"Biar kak Axell cepet sembuh!" Ucap Dira lirih. Gadis itu hampir menyerah, ternyata membujuk Axell sangatlah sulit. 'Ganteng-ganteng kepala batu!' Diam-diam Dira mengatai Axell dalam hati. Dih, Dira gak sadar diri banget. Yang kepala batu sebenarnya siapa?🤫


"Kalo gue minum obat ini, apa imbal balik yang bisa gue dapet?" Tanya Axell yang kini mulai meraih obat di tangan Dira.


"Kak Axell bisa cepet sembuh." Jawab Dira apa adanya, memang benerkan kalau sakit minum obat akan mempercepat penyembuhan. Tapi bukan itu sebenarnya jawaban yang ingin Axell dengar dari gadis di depannya ini.


Axell kembali berdecak, "Ck. Gak menarik."


Dira kembali menghela nafas, gadis itu benar-benar frustasi sekarang. "Terus kak Axell maunya apa?" Satu pertanyaan yang tiba-tiba menimbulkan senyum Axell dalam hati.


'I want you.'


"Kalo gue minta hak gue, emang Lo bisa ngasih?" Tanya Axell balik.


Deg,

__ADS_1


Nah, kan.


'Mikir Dira!'


"Udah, lupain... Gue gak serius." Ucap Axell yang kini mulai meminum obat yang tadi sudah ia ambil dari tangan Dira.


Setelah meminum obatnya, Axell meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Alis Axell terangkat sebelah saat melihat dua pesan masuk di ponselnya.


📥 Bastian.


Kenapa Lo gk masuk, Xell?


Bini Lo masih sakit?


Lagi-lagi Axell berdecak. Sesaat Axell merasa kesal. Kenapa Bastian menanyakan tentang istrinya. Lalu tak berselang lama, jari jemari Axell mengetikan pesan balasan untuk Sahabatnya itu.


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Istri gue gpp.^^^


^^^Gue cuma kecapekan.^^^


Send Bastian.


Lalu Axell kembali membuka pesan yang lainnya.


📥 Verrel ZM.


Kenapa Lo gk masuk, Bro?


Jangan bilang Lo abis apa-apain Dira semalem di apartemennya?


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Stop ngeliat koleksi mandi, Rel!^^^


^^^Otak Lo udah mulai terkontaminasi.^^^


Send Verrel ZM.


Axell kembali meletakkan ponselnya, laki-laki itu kini kembali berbaring untuk tidur. Kepalanya masih sedikit berdenyut. Tanpa ia sadari, Dira yang sedari tadi masih duduk di tepi ranjang sedang memperhatikan dirinya.


"Kak-


"Gue mau tidur."


.


.


.



*Cepet sembuh ya, anak Bunda 😘

__ADS_1


__ADS_2