
"Udah siap?" Tanya Axell pada Dira yang sedang mengelap bibirnya menggunakan tisu. Sebelumnya mereka telah berkumpul di meja makan untuk sarapan sebelum memulai aktivitas masing-masing.
"Udah, kak." jawab Dira sambil kembali meneguk air di depannya.
"Ok, Kalo begitu ayah berangkat dulu ya, Bun." Ujar Ayah Marvellyo lalu mengulurkan tangannya pada Bunda Resty.
"Hati-hati ya, Yah." Jawab Bunda Resty sambil mencium punggung tangan suaminya itu.
"Axell sama Dira juga mau berangkat dulu ya, Bun." Pamit Axell sambil mencium punggung tangan Bunda Resty.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut, Boy!" Titah Bunda Resty kepada putranya itu.
"Dira berangkat ya, Bun." pamit Dira pada mertuanya itu.
"Iya, nak. Kalo Axell nakal, bilang sama Bunda! Biar nanti Bunda yang jewer kupingnya." Ucap Bunda Resty pada menantunya itu.
"Iya, Bun." Jawab Dira. Lalu berjalan mengekori Axell yang lebih dulu berjalan di depannya. Sampai akhirnya langkah Axell terhenti dan membuat Dira yang berjalan di belakangnya itu langsung menabrak punggungnya.
Brukkk...
"Aduh!" Pekik Dira sambil mengusap dahinya yang terbentur punggung Axell tadi. "Kak Axell kok tiba-tiba berhenti, sih!" protes Dira.
"Lo duluan! Gue mau ngambil barang yang ketinggalan di kamar." Ucap Axell pada Dira lalu berjalan kembali ke kamarnya. Dira menghela nafasnya pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil Axell yang sudah di siapkan oleh pak Udin.
"Mari, non!" Ucap pak Udin sambil membukakan pintu untuk Dira.
Melihat pak Udin yang membukakan pintu mobil untuknya membuat Dira mengerenyitkan dahinya bingung. Pasalnya mobil yang akan ia naiki bukanlah mobil yang biasa Axell pakai.
Pak Udin yang mengerti raut wajah kebingungan dari menantu majikannya itu menjelaskan, "Den Axell kalo ke kantor pakai mobil yang ini, non. Katanya biar gak ada yang ngenalin kalo ketemu temennya di jalan."
"O. gitu ya, Pak." Jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan langsung masuk ke mobil.
Sementara Axell yang sudah sampai di kamarnya itu pun langsung bergegas mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas sekolahnya (Lebih tepatnya, Ponsel Dira yang sampai saat ini masih ia sembunyikan).
Laki-laki itu belum sempat mengambilnya tadi, karena Dira yang memang sudah lebih dulu bangun membuat Axell mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel tersebut.
Setelah mengambil ponsel, Axell segera berjalan kembali menyusul Dira yang lebih dulu masuk ke dalam mobil tadi.
Sekitar tiga puluh menit waktu perjalanan, kini mobil yang di tumpangi Dira dan Axell hampir sampai di depan gerbang sekolah SMA Bhakti Bangsa.
Mengetahui keadaan di sekitaran gerbang yang sudah cukup ramai karena sudah banyak murid yang berdatangan, membuat Axell meraih kaca mata hitam yang selalu ia simpan pada dasboard mobilnya.
Axell menggunakan kaca mata hitam itu agar tidak ada yang mengenali saat mobilnya berhenti di depan gerbang nanti.
"Aku turun dulu ya, Kak." Ujar Dira sambil mengulurkan tangannya pada Axell. Axell yang mengerti maksud dari uluran tangan Dira pun langsung menyambut baik uluran tangan gadis yang akan mencium punggung tangannya itu.
Melihat Dira yang mulai terbiasa mencium tangannya membuat Axell tersenyum. Senyum yang sangat tipis, bahkan Dira pun tidak menyadari kalo Axell tengah tersenyum.
"Pulang sekolah, gue jemput." Ujar Axell yang mendapat anggukan kepala dari Dira. Setelah keluar dari mobil Axell, Dira lalu bergegas menuju kelasnya karena bel sekolah yang sudah berbunyi, menandakan jam pelajaran yang akan dimulai.
__ADS_1
...***...
Di jam istirahat, Dira dan Melody sedang duduk untuk menunggu pesanannya masing-masing datang. Sebelumnya mereka telah memesan makanan pada ibu kantin.
"Eh Mel, kemarin kenapa Lo gak masuk?" tanya Dira pada Melody.
"O, Kemarin gue ada acara keluarga di Bandung. Napa, Dir? Lo kangen ya sama gue? Baru juga sehari doang." Tebak Melody dengan tingkat kepedean yang tinggi.
"Ck. Bukan gue yang kangen, Mel." Jawab Dira.
"Ini non, pesanannya?" Sela Bu Kantin yang baru saja datang dengan nampan berisi dua mangkuk bakso, Satu gelas Lemon tea hangat dan satu gelas es teh.
"Makasih ya, Bu." Ucap Dira dan Melody bersamaan yang mendapat anggukan kepala dari Bu Kantin itu.
"Terus siapa yang kangen, Dir?" ta8nya Melody Kepo.
"Siapa lagi, 'tuh, arah jam 12." Tunjuk Dira dengan dagunya pada seseorang yang berjalan ke arah mereka.
Melody yang mengikuti arah pandang Dira pun menoleh, dan mendapati seorang Zaki Arya Pradipta yang sedang berjalan kearah mereka berdua.
"Si Zaki? Lo berjanda, Dir?" Tanya Melody lirih.
"Enak aja berjanda. Amit-amit jabang bayi deh kalo gue jadi janda!" Ucap Dira sambil bergidik ngeri mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut gadis yang berada di sampingnya ini.
"Siapa yang jadi janda, Dir?" Tanya Zaki yang sudah mulai bergabung dengan keduanya.
"Apaan, sih? Nggak ada Zak. Lo salah denger tadi." Sahut Melody cepat.
"Siapa yang jadi janda, Jak?" Tanya Bastian yang baru saja datang dengan Verrel dan juga Nayla.
Plak.
Mendengar pertanyaan dari Sahabatnya tadi membuat Verrel spontan memukul kepala Bastian.
"Aduh! Eh monyet, Lo kira-kira, dong. Ini kelapa gue, main asal geplak aja Lo!" Protes Bastian ngegas pada sahabatnya itu.
"Kepala Babas, Kepala! Bukan kelapa!" Ucap Nayla membenarkan kata-kata Bastian.
"Sengaja gue. Kesel nih gue sama cowok Lo." Jelas Bastian.
"Abisnya, Lo sekolah dulu yang bener! Denger kata janda langsung gercep Lo?" Cibir Verrel yang tak mau kalah dengan Bastian.
"Gue kan cuma kepo sama mereka bertiga tadi?" Jawab Bastian tak mau kalah.
"Eh, lu berdua, gak usah pada bersisik!" Ucap Zaki sekenanya.
"Berisik Zaki, berisik! Bukan bersisik. Lo kata kita-kita ini ikan, bersisik?" Protes Verrel.
"Mungkin kali, Btw si Axell mana? Mok gak kelihatan?" Tanya Zaki.
__ADS_1
"O... Si Axell ada kepentingan. Biasalah pewaris tahta keluarga Marvellyo." Jelas Bastian.
"Bisa pelan-pelan gak kalo ngomong." Protes Verrel bermaksud agar Bastian mengecilkan suaranya saat membahas tentang keluarga Axell.
"Sorry, kelepasan gue." Jawab Bastian nyengir.
"Tapi tadi gue lihat mobil dia di depan." Ucap Zaki yang memang ia tadi merasa melihat mobil Axell di depan pintu gerbang.
"Idih, nih anak sok tempe." Ucap Bastian asal.
"Tahu Babas, tahu! Bukan tempe." Ucap Nayla yang kembali membenarkan kata-kata Bastian yang asal-asalan tadi.
"Lo salah lihat kali!" Ujar Melody. Zaki menggelengkan kepalanya berusaha menolak apa yang di katakan Melody tadi jelas-jelas ia melihat mobil Axell di depan gerbang dan melihat gadis yang ia yakini adalah Dira keluar dari mobil Axell pagi tadi.
Zaki lalu mengubah arah pandangannya ke arah Dira dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah lihat.
"Kenapa sih Zak, ngeliatin gue Mulu?" Tanya Dira yang sedari tadi bungkam. Ia menyadari kalau Zaki tengah memperhatikannya saat ini.
"Lo tadi berangkat sekolah sama siapa, Dir?" Tanya Zaki.
"Kenapa Lo kepo sama bidadari gue, Zak?" Tanya Bastian.
"Eh, iya, Dir. Gue tadi ngelihat Lo dianter sama cowo. Siapa dia? Cowo Lo?" Cerca Melody.
Belum sempat Dira menjawab, Nayla tak kalah membombardir Dira dengan sejumlah pertanyaan. "Lo berangkat sama cowo, Dir? Siapa? Arfen?"
Dira menggelengkan kepalanya, "Bu-bukan. D-dia itu... Sepupu gue dari Bandung." Jawab Dira setengah gugup dan sialnya, Zaki menyadari hal itu dan malah membuatnya tersenyum miring.
"Tapi wajah sepupu Lo kok kek gak asing menurut gue?" Ujar Zaki yang mencoba mencari kebohongan dari Dira.
"Maksud Lo apaan sih, Zak? Dia sepupu gue kok." Tanya Dira yang mencoba untuk tetap tenang menjawab pertanyaan dari Zaki.
"Gue tahu, Dira. Gue lihat Lo. Dan gue hafal betul siapa pemilik mobil itu tadi." jelas Zaki yang langsung membuat Dira tersedak.
"Uhuk... uhuk..."
'O-SHITT.' Batin Dira.
"Pelan-pelan, Dir! Lo gak apa-apa?" Tanya Melody.
Zaki lalu menatap kearah Nayla, Verrel, Bastian, Melody dan terakhir ke arah Dira. Sampai akhirnya satu pertanyaan lagi muncul dari mulutnya. "Lo ada Something sama dia?"
"Siapa yang Lo maksud?"
.
.
.
__ADS_1
*Budayakan Like, Komen dan Vote setelah baca ya guys! Karena itu yang bikin aku semangat buat Up cerita selanjutnya. OK .. Thank you..