Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
45. Ketiduran dimobil.


__ADS_3

"Yakin?" Tanya Verrel ragu. Bukan itu sebenarnya maksud Verrel. Ia hanya ingin melihat ekspresi wajah dari Axell selanjutnya.


"Pagi tadi, gue lihat si Zaki pegang dahi lo. Gue kira Lo lagi demam tadi." Jelas Verrel dan sukses membuat Axell melayangkan tatapan tajam ke arah Dira. Dan hal itu sukses membuat Verrel kembali tersenyum miring, Umpannya tepat sasaran.


'Gotcha'


Melihat reaksi Axell yang seperti ini membuat Verrel kian gencar melanjutkan aksinya. Tangan kekarnya tergerak untuk mengambil ponsel dari dalam saku celananya.


"Ini Lo bukan, sih?" Ujar Verrel sambil menunjukan sebuah gambar yang berhasil ia tangkap tadi. Ya, Verrel lah yang dengan sengaja memotret Dira dan Zaki pagi tadi.


Bahkan Verrel dengan sengaja memperlihatkan gambar dua muda-mudi dengan seragam sekolah yang sama dengan mereka pagi tadi ke arah Axell sesaat dan bergantian ke arah Dira.


Disitu terlihat dengan jelas posisi tangan zaki yang menempel pada dahi seorang gadis yang tak lain adalah Dira sendiri. Axell yang melihat foto Zaki tengah memegang dahi Dira pun seperti merasakan sesuatu yang entah antara marah, kesal dan rasa tak terima. Tangan Axell terkepal dengan sempurna bahkan rahangnya mengeras.


"Gue duluan." Ujar Axell sambil bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kantin.


"Lah, Xell. Mau kemana Lo?" Tanya Verrel pada sahabatnya itu. Asli. Pertanyaan Verrel tadi hanya basa-basi. Jelas saja ia tahu, kalau sahabatnya itu tengah menahan sesuatu, emosi yang seakan siap meledak. Itu yang Verrel tangkap dari wajah Axell tadi.


"Si Axell kenapa?" Tanya Nayla yang tak mengerti dengan sikap tiba-tiba dari Axell.


Verrel yang mendengar apa yang dikatakan Nayla hanya mengendikan bahunya acuh. Ia pura-pura tak tahu.


'Fix, gue tahu. Pasti emang ada sesuatu antara Lo sama Dira.' Batin Verrel.


Sementara Dira, ia tampak meremas ujung rok seragamnya. Ia teringat akan kata-kata Axell pagi tadi yang memperingatkannya tentang Arfen.


'Gue Deket sama sahabat gue aja dia marah. Gimana kalo dia mikir macem-macem antara gue sama Zaki tadi?'


...***...


Saat pulang sekolah, Axell yang tengah berada di ruang OSIS terlihat tengah mengutak-atik ponselnya. Ia sedang mengetikan pesan yang sudah pasti akan ia kirimkan pada Dira.


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Lo tunggu gue di mobil bentar!^^^


^^^Gue masih ada urusan.^^^


Send.


"Xell!" Panggil Verrel pada sahabatnya itu. Axell diam, ia masih melihat-lihat ke arah layar terang di genggamannya itu.


Merasa Axell tak berniat meresponnya membuat Verrel berdecak. "Ck. Woy! Xell! Gue mau nanya sesuatu sama Lo." Kesal Verrel yang merasa di abaikan oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


Sementara Axell, ia hanya menatap Verrel sesaat sambil mengangkat satu alisnya. Lalu beralih menatap ponselnya lagi.


Verrel yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya pun akhirnya bertanya, "Lo jujur sama gue! Lo ada hubungan apa sama Dira".


Mendengar apa yang di tanyakan oleh Verrel langsung membuat Axell menatap sahabatnya itu. Beberapa waktu yang lalu, Verrel juga pernah bertanya pada Axell tentang perasaannya pada Dira. Tapi Axell menepisnya, karena pada waktu itu Axell memang tidak menaruh perasaan pada Dira. Hanya rasa penasaran yang Axell rasakan pada gadis itu, karena menurutnya, Dira adalah gadis yang cenderung tertutup. Tapi kalau sekarang, sudah beda lagi ceritanya.


Axell diam. Ia belum berinisiatif untuk menjawab pertanyaan dari Verrel.


"Ok, Xell. Gue kasih tahu sama Lo. Sebenarnya, gue sering lihat Lo berdua berangkat sekolah bareng belakangan ini. dan juga... Gue pernah liat, Lo kasih uang ke 'tuh cewe. Jadi pertanyaannya... Abis ngapain Lo berdua?" Ucap Verrel yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


'*O SH*ITT.' Umpat Axell dalam hatinya.


"Perlu banget ya, Lo tahu?" Bukannya menjawab, Axell malah melontarkan pertanyaan pada Verrel dan langsung membuat Verrel kembali berdecak.


"Ck. Ya gue ngerasa Lo berdua ada Something-something yang berusaha Lo berdua tutup-tutupin." Jawab Verrel.


"Udah? Gue cabut." Ucap Axell lalu berjalan pergi meninggalkan ruang OSIS.


"Kebiasaan Lo, Xell!" Cibir Verrel pada Axell. Kesal karena sahabatnya itu yang tak mau berterus terang.


"Ok, Xell. Kita lihat sampai kapan Lo nutupin ini semua." Ucap Verrel.


...***...


'Ini cewek kenapa? Apa dia beneran sakit?' Batin Axell saat melihat Dira tidur. Tangannya bahkan terulur untuk menyentuh dahi Dira.


"Gak panas." Pungkasnya


Sebenarnya tadi Axell sangat kesal saat Verrel menunjukan foto Dira dengan Zaki pagi tadi. Ingin sekali Axell meluapkan kekesalan yang bergejolak dalam dirinya. Tapi melihat wajah Dira yang tidur seperti ini, tiba-tiba rasa yang tadi sempat hampir meluap hilang dengan sendirinya


Drrtt... drrtt...


Tiba-tiba ponsel Dira bergetar, lebih tepatnya ponsel Dira yang terjatuh dan ditemukan oleh Axell kemarin. Dahi Axell berkerut membaca nama si pemanggil.


📲 Nayla is Calling...


Axell diam. Iya tak ingin menerima telepon dari Nayla. Tapi juga tak ingin me-rejectnya. Axell lebih memilih untuk membiarkan telepon itu berhenti dengan sendirinya. Dan benar saja, ponsel Dira berhenti bergetar. Dan,


Ting,


Satu pesan masuk di ponsel Dira.


📥 Nayla.

__ADS_1


Dir, jalan yuk!


Gue lagi dijalan mau ke apart Lo, nih.


Lo lagi dimana?


Axell membaca pesan yang Nayla kirimkan. Ia tampak menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya ia harus membawa Dira pulang kerumah. Kalau ia membawa Dira ke apartemen dalam keadaan Dira tertidur begini, bukan tidak mungkin ia akan bertemu dengan Nayla nanti.


Sebenarnya Axell tidak keberatan kalau pun ia bertemu dengan Nayla, atau bahkan Nayla sampai tahu kalau dia dan Dira sudah menikah. Tapi bagaimana dengan Dira? Apa gadis itu bersedia kalau pernikahannya dengan Axell di ketahui oleh Nayla.


Axell lalu melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Jarak dari sekolah ke rumah Ayah Marvellyo hanya memakan waktu tiga puluh menit. d5an sekarang mobil Axell telah sampai di rumahnya.


Tin... tin...


Bunyi klakson mobil Axell seakan meminta pada pak Udin untuk membukakan pintu gerbang untuknya. Dan tak butuh waktu lama, pak Udin langsung membukakan pintu untuk anak majikannya itu.


Axell keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang. Ia berinisiatif untuk mengendong Dira untuk masuk ke rumah.


Saat akan memasuki rumah, pintu terbuka dan menampilkan Bunda Resty di balik pintu.


"Lho, Boy. Dira kenapa?" Tanya Bunda Resty panik saat melihat putranya tengah menggendong menantu kesayangannya ala Bridal style itu.


"Nggak apa-apa, Bun. Dira cuman tidur. Axell gak tega mau bangunin." Jelas Axell.


"Yaudah kamu bawa Dira ke kamar ya!" Titah Bunda Resty.


"Iya, Bun. kalo begitu, Axell ke atas dulu." Pamit Axell pada Bundanya. Ia lalu berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Eh... Den Axell." Sapa bi Irah.


"Bi, tolong!" Ucap Axell bermaksud meminta Bi Irah untuk membukakan pintu kamarnya.


"O... iya, den. Silahkan!" Ucap Bi Irah setelah membukakan pintu untuk Axell.


"Terima kasih." Ucap Axell singkat dan menutup pintu dengan kakinya. Axell lalu meletakkan tubuh Dira dengan pelan ke atas ranjang. Dipandanginya wajah damai Dira yang tengah tertidur itu.


"Kalo gue perhatiin, lo kurusan sekarang, dari semenjak kita ketemu pertama kali. Apa Lo tertekan dengan pernikahan kita ini? Sorry kalo gue....


.


.


.

__ADS_1


*Yang kek biasanya ya, dan gak bosen² aku minta Vote dan likenya.. dan Jan lupa juga,, Yang udah baca Absen dong!!! Komen di jam berapa kalian baca eps. ini.. Ok😊..


__ADS_2