
"Yang... kamu-"
Drrtt... drrtt...
Ucapan Axell terhenti karena ponsel Axell yang tiba-tiba bergetar karena ada panggilan masuk.
"O SHITT..." Umpatan yang keluar dari mulut Axell. Entah mengapa hari ini laki-laki itu merasa kesal hanya karena sebuah telpon.
Sebenarnya Axell hanya ingin bersantai seharian di rumah di hari Minggu seperti ini dan tak ingin ada yang mengganggu waktu senggangnya. Tapi, Sepertinya keinginannya untuk menikmati libur di hari minggunya akan terganggu.
Dengan malas, Axell berdiri dari posisinya yang masih bersandar di kaki Dira tadi dan beralih duduk di samping Dira. Tangganya terulur untuk meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan di meja dekat bangku tadi.
📞 Bastian is Calling...
Axell mengangkat satu alisnya saat membaca id si pemanggil. Terdapat nama Bastian pada layar terang tersebut. Tiba-tiba muncul tanda tanya di benak Axell. Ada apa Bastian menelponnya sepagi ini.
"Hallo." Ucap Axell datar. Seperti biasa. Axell memang seperti itu kan orangnya. Laki-laki itu lalu menekan tombol speaker pada ponselnya.
"Wait, santai dong, Bro! Lo kek gak seneng gitu, gue telpon." Jawab Bastian di seberang sana.
"Lo ganggu hari minggu gue, Bas." Ucap Axell yang kini menyenderkan kepalanya di pundak Dira sambil memejamkan matanya. Laki-laki itu masih mengatur nafasnya setelah berolahraga melawan Ayah Marvellyo bermain tenis tadi.
"Ganggu yang apa dulu, nih? Eh, Anjing... Otak gue kek ngajak Booking tiket pesawat tau, gak? Dengar suara nafas Lo yang kek abis maraton. Masih pagi woy...! Mentang-mentang udah sah, si Dira di gas Mulu." Ucap Bastian yang malah salah mengira kalau Axell dan Dira tengah melakukan pemersatuan bangsa-bangsa saat ini. Emang dasar si Babas.
"Sialan, Lo! Gue abis maen tenis, Anjing!" Balas Axell yang menampik apa yang ada di pikiran Bastian.
Tapi, bukan Babas namanya kalo gak punya mulut receh. "Tenis yang apa dulu, nih? Tenis yang main pukul pake tangan? Atau tenis yang maju mundur cantik?" Tanya Bastian yang semakin gencar menggoda Axell. Bahkan Axell dan Dira dapat mendengar dengan jelas, tawa pecah Bastian di seberang sana.
"Kayaknya otak Lo harus di restart ulang deh, Bas. Pikiran Lo udah mulai penuh dengan koleksi mandi... Gue lagi di rumah." Jawab Axell yang kini mengangkat kepalanya dari bahu Dira.
"Jadi Lo beneran main tenis, sama om Marvel?" Tanya Bastian yang kini mulai percaya dengan apa yang Axell katakan tadi. Jika Axell memang sedang berada di rumah, berarti ia memang benar bermain tenis dengan Ayah Marvellyo, dan Bastian hafal betul dengan aktifitas yang sering keduanya lakukan setiap Minggu pagi itu.
"Menurut, Lo?" Tanya Axell balik.
"Ok... Ok... Gue percaya." Jawab Bastian.
"Gak di butuhin." Sahut Axell cepat.
"Apanya?" Jawab Bastian yang gak kalah cepat juga.
"Pendapat Lo... Gak di butuhin disini." Balas Axell. Laki-laki itu kini meraih tangan Dira untuk ia genggam.
__ADS_1
"Sialan, Lo!" Kini giliran Bastian yang mengumpati Axell.
"Ada apa Lo telpon gue?" Tanya Axell To the point.
"Gak ada apa-apa sih, Bro. Si Verrel ngajakin nongki di d'AXE Cafe." Jawab Bastian.
Tak langsung menjawab, Axell malah menatap ke arah Dira.
"Woy... Xell! Lo masih di situ, kan?" Panggil Bastian di seberang sana karena merasa tak kunjung ada jawaban apapun dari Axell.
"Lo duluan. Satu jam lagi gue nyusul." Jawab Axell.
"Ok." Jawab Bastian. Dan telepon langsung di tutup sepihak oleh Axell.
Tuutt...
Axell lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Yang..."
"Kak..."
Panggil Axell dan Dira secara bersamaan.
"Kak Axell aja yang duluan." Jawab Dira yang meminta Axell untuk mengatakan apa yang akan dikatakannya.
"Kan Ladies first." Ucap Axell sambil menampilkan senyumnya.
Dira menghela nafas setelah mendengar apa yang Axell katakan. "Itu... Tadi..."
"Tadi yang mana?" Jawab Axell yang tak mengerti apa yang di maksud oleh gadisnya itu.
"Yang kak Bastian tadi bilang?" Ucap Dira yang masih terlihat ragu.
"Banyak yang Bastian bilang tadi." Jawab Axell yang masih belum mengerti apa yang gadisnya itu maksudkan.
Dira kembali menghela nafas pelan sambil menatap wajah Axell.
"Yang mana sih, yang?" Tanya Axell lagi.
"Kak Bastian... Sudah tau hubungan kita?" Tanya gadis itu.
__ADS_1
Axell mengangguk, "Udah." Jawab laki-laki itu dengan santai seperti tanpa beban.
"Sejak kapan?" Tanya Dira lagi. Gadis itu begitu penasaran tentang sejak kapan Bastian tahu status mereka yang sudah menikah.
Axell menghela nafas, ia lupa memberitahu gadisnya itu. "Beberapa waktu lalu, yang. Aku terpaksa kasih tau Bastian tentang pernikahan kita. Karena dia masih terus ngarepin kamu." Jelas Axell.
"Tapi..."
"Udah, yang... Gak ada tapi. Cuma Bastian yang tau." Putus Axell. Laki-laki itu mengerti penolakan yang Dira tunjukkan.
Mendengar jawaban dari Axell, Dira hanya menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi, sudah terlanjut terjadi, kan.
"Sebenarnya aku berencana go publik tentang hubungan kita yang sebenarnya. Tapi kayaknya kamu belum siap, yang." Ucap Axell.
Dira menatap Axell terkejut. "Kak... Aku masih kelas sebelas." Jawab Dira.
"Tau. Tapi, apa salahnya sih, yang? Semua guru di sekolah kita sudah tau tentang status kita yang sebenarnya. Dan juga, sekolah itu milik ayah. Kamu bahkan masih bisa tenang bersekolah meskipun berstatuskan seorang istri. Jadi apa yang masih kamu takutkan?" Tanya Axell. Laki-laki itu tidak habis pikir dengan apa yang sedang gadisnya itu pikirkan sekarang. Kenapa gadis itu begitu takut dengan statusnya yang di ketahui banyak orang.
Hening. Untuk sesaat Dira diam mencerna apa saja yang Axell katakan. Memang benar sekolah itu milik mertuanya. Tapi yang sedang Dira pikirkan itu adalah tanggapan dari teman-temannya di sekolah. Apa yang mereka pikirkan kalau tahu status Dira dan Axell bukanlah pacaran melainkan suami istri.
Melihat reaksi Dira yang hanya diam termenung, membuat Axell menghela nafas pelan. Sepertinya ia harus memberikan pengertian lebih pada gadisnya itu.
Kini kedua tangan Axell terangkat untuk membingkai wajah Dira. Ia pandangi wajah gadis yang termenung di depannya itu.
Cup,
Satu kecupan Axell berikan pada kening Dira. "Yang, dengerin kata-kata aku baik-baik... Pernikahan kita itu suci. Aku tau... kita memang menikah di usia yang masih sangat muda, bahkan kita masih sama-sama berstatuskan pelajar. Pernikahan kita memang terkesan buru-buru, tapi kita menikah bukan gara-gara Married by accident, seperti orang-orang di luaran sana. Kita menikah karena perjodohan yang udah orang tua kita tentukan. Mungkin awalnya kita memang tidak saling kenal. Tapi lihat sekarang, kita sudah bisa menerima kehadiran satu sama lain, bahkan kita saling mencintai. Sebisa mungkin kita harus berusaha untuk menjaga pernikahan kita. Jadi aku minta sama kamu, jangan terlalu memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan tentang pernikahan kita nanti." Ucap Axell memberikan pengertian dengan sikap dewasanya.
"Tapi aku beneran belum siap, kak." Ucap lirih gadis itu.
"Udah, gak usah dipikirin. Semua akan baik-baik saja." Ucap Axell sambil mengelus lembut rambut Dira.
Gadis itu mengangguk pasrah. "Tapi jangan dulu kasih tau mereka."
"Iya." Jawab Axell. Mau tidak mau laki-laki itu harus menuruti kemauan Dira. Daripada nanti gadisnya itu marah. "Ok, Kalo gitu, kamu ganti baju, aku juga mau mandi. Kita ke kafe habis ini."
...***...
Pukul 10.15 Axell dan Dira sudah sampai di d'AXE Cafe. Saat baru memasuki kafe, pandangan Axell langsung tertuju pada sebuah meja yang biasa mereka tempati, dimana di meja tersebut sudah terdapat Bastian, Verrel dan juga... Nayla.
Keduanya pun berjalan mendekat dengan tangan yang saling terpaut satu sama lain. Nayla yang mengetahui kedatangan keduanya itupun merasa senang saat melihat Dira yang berjalan mendekat. Tapi reaksi berbeda ia tunjukan saat melihat wajah laki-laki yang berjalan di samping Dira, Axell.
__ADS_1
Entah mengapa sekarang Nayla menjadi malas berinteraksi dengan teman sekelasnya tersebut. Menurut Nayla, semenjak Dira berpacaran dengan Axell, sifat dari gadis itu perlahan berubah menjadi tertutup. Dan juga gaya berpacaran keduanya yang terlalu... intens. Nayla berpikir kalau Axell lah orang di balik perubahan sikap dari Dira sendiri.
"Sini, Dir. Duduk samping gue...