
Maxim berbisik pada sang kakek meminta waktu berbicara setelah semua keluarga besar pulang.
Sang kakek mengiyakan sambil menerima ucapan terimakasih tamu tamunya.
Selang beberapa waktu hanya tinggal sang kakek , keluarga Ardiansa ,Frans dan Orchid sedangkan pengawal dan asisten sang kakek menunggu di luar ruangan.
"kakek,,,terimakasih telah mempercayaiku dan untuk itu dengarkan aku dan pertimbangkan lagi." Maxim memulai pembicaraan .
"tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi,kau memenuhi kwalitas yang ku inginkan sisanya biar asistenku yang mendampingimu menjalankan semuanya." tegas kakek yang tidak ingin penolakan.
"tanpa mengurangi rasa hormatku kejujuranku akan menggoyahkan keinginan kakek." Maxim masih berusaha agar kakeknya melunak.
"memangnya kejujuran seperti apa yang bisa menggoyahkan ku !." seru kakek kekeh dengan keputusannya.
"aku memang cucumu dan darah ayahku mengalir di dalam diriku,sebelum keputusan kakek,aku sudah mengambil jalanku sendiri meski kakek akan membenciku,membenciku lebih dari kakek membenci ayahku yang tidak menuruti keinginan kakek." Maxim terus menahan diri dengan sopan dan lembut.
"jalan seperti apa yang kau tempuh hingga kau mengabaikan kekayaan dan kekuasaan yang ku wariskan untukmu!?!." kakek mulai geram.
__ADS_1
"jalanku dan ayah sama hanya beda muara,aku mempercayai mengikuti menjalankan apa yang kakek benci ... yaitu jalan Islam . Aku tidak akan menukarnya dengan kekayaan dan kekuasaan." Maxim menerangkan jati dirinya yang baru dihadapan kakeknya.
"apa ayahmu tau itu?!." bentak kakek.
"ibu dan ayahku sudah tahu dan mereka berhak tahu lebih dulu." terang Maxim .
"aku sudah lama bersabar dan kalian tetap melawanku! maka terimalah akibatnya,pengawal..." sang kakek mulai menunjukkan kekuasaannya.
Para pengawal masuk kedalam dan hanya dengan satu kata saja membuat kehebohan di ruangan itu.
"bawa pergi !." perintah kakek pada pengawal.
Lucy berteriak dan menangis mempertahankan tangannya pada Niko . Piter tidak bisa berbuat apa apa. Maxim memberontak ingin mempertahankan Niko tapi dengan sigap pengawal yang lain menghalanginya.Frans menahan Orchid untuk tidak ikut campur masalah keluarga itu.
Sang kakek pergi dari hotel bersama asisten para pengawal dan tentunya Niko .
Hanya tinggal tangis di ruangan itu.
__ADS_1
Piter meminta maaf atas ketidak berdayaannya .Lucy dan Maxim memeluknya.
"tidak, kau tidak perlu meminta maaf sayang...kau sudah mengorbankan segalanya dari awal hubungan kita, aku rasa sekarang akulah yang harus berperan, aku akan berusaha." Lucy mencoba tegar untuk suaminya yang merasa bersalah.
"ayah,kita pasti bisa mengambil Niko kembali...ini Indonesia bukan China ." Maxim mencoba memotivasi ayahnya.
"tidak nak...kau tidak tau seperti apa kakekmu,lebih baik untuk sekarang kita jangan menghalanginya agar kita tetap bisa bertemu dengan Niko .Hanya itu yang bisa kita lakukan,mengikuti permainannya dengan menguatkan Niko ." Piter menerangkan .
"maaf ,aku dan adikku harus pulang." Frans mencoba berpamitan.
Keluarga Ardiansa menoleh .
"maaf kalian harus menyaksikan semua ini." Maxim menghampiri di ikuti ayah ibunya.
"maaf sayang,mungkin Niko tidak akan ada disisimu untuk waktu yang tidak pasti,semua karena ayah,maafkan ayah sayang." Piter memeluk Orchid .
"sayang maafkan ibumu ini yang tidak bisa menjaga Niko ,,, tetaplah ada untuknya,aku yakin hanya kau yang dia percaya saat ini." Lucy memeluk dan menangis.
__ADS_1
"ayah, ibu, kak Maxim ... aku akan membantu memerankan diriku,jangan khawatir...sekarang kita hanya perlu tenang untuk menghadapi ini." Orchid mencoba tegar meski dia sendiri merasa tidak berguna.
Frans dan Orchid pamit pulang dan diantar ke luar hotel sampai masuk mobil.