
Alberto dan Oscar sudah berada di paviliun.
Ayah dan anak itu tidak segera tidur justru mengobrol di sofa ruang tengah.
"ini adalah kedua kalinya aku melihat sihir seperti tadi." Alberto memulai bicara.
"kedua ... memangnya dimana papa melihatnya pertama kali?." Oscar tertarik.
"di Mesir ,waktu itu aku menyaksikannya di rumah rekan bisnisku." terang Alberto .
" apa papa tadi mendengar ledakan juga?." tanya Oscar penasaran.
"ledakan...tidak,papa turun karena tangisan Julli sampai di telingaku." jelas Alberto .
"ini aneh...bagaimana mungkin tidak terdengar,bahkan ledakannya lebih keras dari ledakan sorenya..." Oscar gamang.
"kau itu sensitif sekali,,,imajinasimu itu akut nak." Alberto menepuk nepuk pundak Oscar .
"aku tidak berimajinasi ... tidak hanya aku ,Frans juga mendengarnya." Oscar tidak mau di ejek.
Alberto tertawa mendengar pembelaan Oscar .
__ADS_1
"papa... siapa sebenarnya putri mereka itu? dia sangat aneh, senyumnya juga sangat misterius." Oscar mengingat Orchid yang dilihatnya sore dan pagi buta ini.
"Julli dan Prabu bilang dia putri dari orang yang menyelamatkan keluarganya dari kenakalan Frans ,hanya itu yang mereka katakan." terang Alberto .
"apa papa juga melihat anak itu ketika menyelamatkan paman tadi? tanya Oscar .
"tentu aku melihatnya,aku tidak buta...anak itu diselimuti cahaya." Alberto mengingat.
"apa papa tidak melihat yang lain? sepasang sayap cahaya itu yang hampir memenuhi ruangan?." Oscar menyelidik.
"aku tidak melihatnya, aku rasa kau terlalu memikirkannya...atau kau menyukainya?!." selidik Alberto menatap putranya.
"heiii papa akan berusaha lebih keras mendapatkannya jika kau menyukainyaaaa.hehc dasar pemalu." Alberto berteriak pada putranya.
Oscar menutup pintu kamarnya dan bersandar memejamkan mata,pikirannya melukiskan senyum Orchid dan jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
"apa aku menyukainya." lirih Oscar pada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian Oscar melangkahkan kakinya keranjang, menghempaskan tubuhnya dan mencoba tidur.
Alberto pun sudah berada di ranjangnya.
__ADS_1
Seperti biasanya dia melakukan ritualnya berbicara sendiri seolah istrinya bersamanya,mengeluhkan putra semata wayangnya.
"sayang...ku harap Oscar mendapatkan apa yang di sukainya, dalam hal ini ku harap dia tidak seambisius seperti menghadapi orang lain, harga dirinya sangat tinggi dan tidak mau kalah...aku khawatir dimasa depan tidak ada wanita yang bisa bertahan menghadapinya. Kau tau sayang...putramu sedang tertarik pada putri angkat Julli. Hmmm seharusnya kau di sini dan melihat wajah putramu semerah tomat tadi." Alberto tersenyum .
Akhirnya Alberto pun tertidur dengan senyum menghiasi wajahnya.
Oscar tidak bisa tidur ,dia hanya membolak balik tubuhnya di atas ranjang.
Tubuhnya lelah matanya tertutup tapi pikirannya melayang ,di dalam benaknya dia melihat Orchid tidur pulas di atas ranjangnya.
Oscar tidak menyadari bahwa kini dia terikat dengan Orchid ,rasa penasaran ditambah egonya yang tinggi akan membuatnya posesif atas ikatan itu. Ikatan yang akan mengubah kebiasaannya bahkan membuat hidupnya seperti roler coster untuk membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.
Waktu sudah memasuki subuh, Oscar bangun dari ranjangnya lalu duduk bersandar di sofa. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia melakukannya.
Tubuh dan pikirannya benar benar tidak sinkron , dia ingin tidur tapi matanya enggan menutup justru kini dia membuka bajunya lalu keluar ke balkon kamar.
Pagi itu dingin namun Oscar tidak merasa dingin justru dia merasa ingin sekali menyambut sang surya terbit dengan telanjang dada.
Dengan merentangkan kedua tangannya menutup mata dan menghirup udara dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan lahan ,dia merasa ada energi yang memeluknya hangat... lama lama pelukan itu terasa nyata,dia melihatnya dalam pikirannya bahwa yang memeluknya adalah Orchid yang tengah menutup mata seolah tidur enggan bangun.
Oscar tersenyum dan hendak melepas pelukan namun ketika matanya terbuka tidak ada siapapun hanya dia sendiri dibalkon ,seketika hatinya merasa kehilangan dan kecewa.
__ADS_1