
" siapa kalian?." tanya orang yang mendatangi mereka.
"sulit bagi orang biasa ke sini di malam hari,siapa dia?." batin Arrasy yang berada lebih dekat dari arah orang itu datang.
Suara itu membuat yang lain menyambangi Arrasy.
"maaf... kami hanya kemalaman di sini." Exxa beralasan .
"jangan membodohiku." seru orang itu,yang kemudian menyerang mereka dengan membekukan kaki.
" maaf jika kami mengganggumu, kami tidak bermaksud membuat masalah disini." seru Indra .
" sudah terlambat,jika kalian tidak mengatakan siapa dan tujuan kalian,maka kalian akan membeku dan jadi patung di sini." seru orang itu.
"kakak...dia Guardians ." bisik Orchid pada Exxa.
" oh ... jadi begini cara Guardians di wilayah ini menangani orang asing." sarkas Exxa.
Arrasy yang mengerti ikut menimpali " oh.. jadi ini Dokan yang kakak ceritakan padaku tadi."
"Dokan si serius, ternyata anda seperti rumor yang beredar , sedingin Alpen ." tatap Indra .
" jadi kalian tau siapa aku,,,kalau begitu... hukuman akan dipercepat." seringai Dokan.
Es mulai merambat dari kaki mereka naik perlahan ke tubuh mereka.
"apa paman tidak mau memaafkan kami ..." Orchid masih berharap kebaikan.
" tidak ada maaf untuk anak anak nakal seperti kalian,,, " seru Dokan.
"Orlo ... bantu kami... ini benar benar dingin dan kakiku serasa mati ..." lirih Exxa.
" paman ... sekali lagi maafkan kami." Orchid positif thinking .
"percuma kau memohon,,,,,," Dokan menatap Orchid .
"aku seperti pernah melihatmu...🤔 tapi entah dimana..." Dokan tidak ingat dimana pernah melihat Orchid .
"jika paman tidak mau memaafkan kami,aku juga minta maaf...aku tidak bisa membiarkan saudaraku menderita." seketika es yang menyelimuti kaki Orchid mencair.
Dokan masih tidak menyadari sampai Orchid melangkah mencairkan es yang membekukan saudaranya.
" tidak mungkin ..." gumam Dokan terkejut.
"apa kau harus menunggu kita mati rasa baru membebaskan kita? orang tua itu jelas tidak berperikemanusiaan pada kita semua." keluh Indra yang tak sanggup menopang tubuhnya setelah es yang hampir menutupi seluruh tubuhnya mencair.
Exxa dan Arrasy juga terjatuh ,kakinya tak bisa digerakkan.
Dengan sabar dan telaten Orchid meningkatkan suhu tubuh saudara saudaranya yang terlihat kesal.
__ADS_1
" siapa kalian? dan bagaimana bisa kalian keluar masuk portal sesuka hati kalian,sedang ku lihat kalian manusia biasa." Dokan penasaran sekaligus kesal merasa di kalahkan anak kecil dan manusia biasa.
"tidak penting siapa kami,,,yang penting kami tidak membuat masalah." balas Arrasy.
" jika paman bertanya dengan baik baik dan tidak membahayakan kami pasti sedari tadi kami memberitahu siapa kami." sambung Indra .
"kami dari keluarga illiyin juga...sama sepertimu ... hanya beda generasi." sinis Exxa.
" maaf paman kami harus segera menyelesaikan pekerjaan kami." tatap Orchid .
Ke empat saudara itu berpaling dari Dokan hendak membetulkan posisi kabin, serta merta Dokan menyerang dengan melesatkan kristal es .
Orchid yang menyadari segera mengaktifkan perisainya hingga kristal kristal es seperti besi itu tidak melesat menyentuh saudara saudaranya.
Ketiga saudaranya yang mendengar suara benturan kristal es dan perisai segera berbalik.
"Paman kami akan meladeni mu nanti,,, saat ini kami akan mempersiapkan pesta kejutan buat ayah kami,jadi maaf jika aku harus melakukan ini..." Orchid malas membuang waktu segera menggunakan netranya bersamaan dengan melipat ruang dan waktu,mengirim Dokan ke dimensi lain dan mengurungnya agar tidak ada makhluk lain yang mengganggunya di dimensi itu...
Dokan mengamuk terus berusaha keluar dari kurungan yang di buat Orchid .
" akhirnya kau menyingkirkannya juga..." Exxa berseloroh.
" ayo kita lanjutkan..." ajak Indra .
Mereka membetulkan posisi kabin,menghidupkan perapian ,menghias kabin ala pelaut dan tidak lupa menyiapkan makanan untuk besok.
Setelah selesai mereka semua tidur di depan perapian .
Asyera menemui Oscar setelah kembali dari rumah utama.
" ha......." Asyera terhenti dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Dia menunggu beberapa saat.
" assalamualaikum ... " salam halus Asyera pada dua pria yang berada tidak jauh darinya.
"wa'allaikum sallam ..." balas ke dua pria itu kemudian menoleh melihat siapa yang mengucap salam.
"Asyera... apa dari tadi..." tanya Oscar .
"mmm..." singkat Asyera memperhatikan Oscar .
"ahc ...iya,mumpung kau kesini,aku mau titip sesuatu buat Wira ." Alberto kemudian beranjak.
Asyera masih tertegun di tempatnya ,mendengar Alberto tapi tidak menanggapi.
Oscar yang menyadari nya merespon .
"mmm... jangan melihatku seperti itu." Oscar tertunduk dan Asyera tersadar.
__ADS_1
"aku tidak bermaksud...sejak kapan..." Asyera tidak melanjutkan.
" siang ini..." balas Oscar .
"Asyera, ini untuk Wira ,katakan ini dariku dan Laura ." Alberto menyerahkan kotak perhiasan kecil yang indah.
"terimakasih ,Wira pasti senang..." senyum Asyera.
" Oscar ... maukah kau mendoakan keluargaku ..." tanya Asyera dengan harapan.
"oooh iya , aku tidak mengatakannya tadi. Asyera, putraku akhirnya memilih ... dan bodohnya dia kesana kemari mencari padahal aku sendiri tau tapi dia tidak pernah menanyakannya." terang Alberto.
" bukan salah anakmu...kau yang tidak baik sebagai ayahnya...jika Laura masih ada,tentu dia tidak akan menunggu selama ini...kau tidak tau kan bagaimana dia menangis karena ketidak tahuannya itu..." cibir Asyera.
" iya...kau benar,,," pasrah Alberto .
" aaaach sebaiknya dia segera jadi putraku." gumam Asyera.
" kurasa kau tidak ada kesempatan...dia sudah mengincar seorang gadis tropis." papar Alberto .
" dia tidak akan menolak pesona putriku, pasti seru... putra posesifmu mengejar putri airku ... " celoteh Asyera membayangkan drama kehidupan.
"aku tidak akan mengejar putrimu." tegas Oscar .
" jika Wira memintamu menikahi putriku ,apa kau bisa menolak?! " tanya Asyera dengan tawa di hati.
" aku tidak mau,aku hanya akan dengan dia yang membuat hatiku bahagia." balas Oscar .
" baiklah ... kau sendiri yang menolak sebelum bertemu, jika kau melihat putriku,,,jangan harap kemudahan dariku ,meski Wira meminta sekalipun." Asyera semakin tertawa di dalam hati.
" sudahlah,,,untuk apa berdebat hal yang belum tentu terjadi." Alberto mencoba meredakan ketegangan.
"ach iya, aku mau kau bertarung dengan Exxa yang sudah menguasai enam seni beladiri .Waktu berlatihmu sebulan,dua hari lagi kau bisa bertemu Wira ... kami akan berada di London ." terang Asyera.
"jadi aku bisa bertemu Wira ?" senang Oscar .
"ya... kau ingin tau mamamukan...jadi aku akan sedikit mempersulitmu dengan penolakanmu." kini tawa Asyera lepas.
" aku akan menghadapinya...dan semoga keluargamu selalu dalam kemenangan juga kebahagiaan melimpah." Oscar penuh karisma .
" aamiin..." sambung Asyera.
" baiklah ... aku pergi,dan trimakasih Alberto juga Oscar putraku ." Asyera tertawa dan menghilang .
" kurasa kau akan dalam kesulitan lagi...keluarga itu benar benar di luar dugaan ." Alberto menasehati .
Oscar hanya diam dengan nasehat ayahnya juga memikirkan bagaimana mengalahkan Exxa si gila .
Oscar segera beranjak dari duduknya mengambil laptopnya berselancar di dunia maya untuk mempelajari beberapa teknik beladiri agar bisa menghadapi Exxa.
__ADS_1
Begitulah Oscar jika mode angkuhnya aktif .