
Niko terbangun dari tidurnya dengan kepala yang pusing. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi.
"ach... dimana ini..." gumam Niko terduduk di ranjang.
"di rumahku." suara sang kakek yang seketika membuat Niko mengingat kejadian semalam.
Niko menatap sinis pada kakeknya lalu berjalan menuju pintu. Ketika hendak memutar kenop pintu kakeknya mengancamnya.
"jika kau keluar dari kamar ini kau tidak akan pernah bertemu keluarga kesayanganmu ." ancam sang kakek.
Niko mengabaikan ancaman sang kakek dan ketika sudah membuka pintu hendak melangkah keluar,sang kakek kembali mengancam.
"berani meninggalkan kamar ini akan ku buat kekasihmu itu menderita ." ancam kakek, seketika Niko menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
"apa yang kakek inginkan?jangan pernah sedikitpun kakek berani mengusiknya!!!." suara Niko datar menatap sang kakek yang duduk di sofa sudut kamar.
"aku ingin kau mengikuti kemauanku dan aku tak akan mengusiknya." sang kakek mempermainkan emosi Niko yang labil di usianya.
Niko keluar kamar , bingung dengan rumah besar itu akhirnya dia memutuskan ke balkon lantai tiga rumah itu. Dia berusaha berpikir agar semua baik dengan situasi ini.
Sang kakek menghampirinya.
"Kau harus melepaskan salah satu,bertemu keluargamu atau kekasihmu itu." kakek memperingatkan ancamannya.
"aku bukan orang seperti itu,papa mama mengajarkanku kebaikan bukan ke egoisan ." ucap Niko datar.
"itu orang tuamu bukan aku,aku adalah peraturan itu sendiri." tegas kakek.
"lalu mengapa kau tidak wariskan saja kepada yang mengikuti peraturanmu!." seru Niko penuh emosi.
"putuskan, kau ingin bertemu keluargamu atau kekasihmu...malam ini juga kita akan terbang ke Hongkong ." tegas kakek.
__ADS_1
Niko terdiam,dia tidak bisa melawan hanya dengan kata jika dia kaburpun akan diseret kembali ke hadapan kakeknya.
Niko mengacak rambutnya dan berteriak kencang melepas kekesalannya,ketidak berdayaannya.
Sunyi dan Niko memandang lepas ke depan bersama sang waktu.
Kakeknya masih mengawasinya di sofa dan menikmati tehnya.
Niko teringat pesan ibunya Orchid ,dia berfikir semua tergantung keputusan Orchid karena dialah kekuatan baginya.
Niko masuk menghampiri kakeknya dan mengatakan apa yang di inginkannya.
"biarkan aku bertemu Orchid juga keluargaku ,setelah itu aku akan membuat keputusan." pinta Niko menatap kakeknya.
"baiklah,kau akan bertemu mereka tapi kau akan tetap bersamaku jadi tidak perlu repot mengambil keputusan." tegas kakek.
Niko tidak punya pilihan lain,setidaknya dia bisa bertemu sebelum mengikuti kakeknya.
Untuk saat ini lebih baik mengikuti kemauannya dan menunggu kesempatan.
Dalam benaknya kakek ingin melihat kekalahan Orchid yang berani menantangnya.
Piter menghubungi Orchid untuk bersiap tiga puluh menit lagi dia akan menjemputnya ,Piter mengerti putra bungsunya tidak memiliki kesempatan seperti dirinya dalam cinta, situasinya sangat berbeda dengan dirinya dulu.
Mobil keluarga Ardiansa sudah sampai di kediaman keluarga Prabu. Maxim keluar mobil dan bertemu dengan Julli yang berada di beranda rumah hendak masuk.
"pagi Tante.." sapa Maxim .
"pagi juga Max,tumben jam segini kemari ..." Julli membalas dan melirik jam ditangannya.
"oh,,iya Tante,,aku kesini menjemput Orchid." Maxim menjelaskan.
__ADS_1
Sebelum Julli bertanya lagi,Orchid membuka pintu dan terlihat sudah siap pergi.
"loh,,sayang kok kamu sendiri?mana Frans ?." Julli mencari Frans yang biasa nempel Orchid kemana mana.
"tadi aku udah pamit kak Frans bu... dan ku bilang aku mau pergi sendiri kali ini." terang Orchid .
Julli mengangguk paham lalu Maxim dan Orchid berpamitan.
Mobil keluarga Ardiansa melaju menuju alamat yang diberi sang kakek.
Setelah tiga puluh menit mereka sampai dan di sambut pengawal pribadi sang kakek.
"silahkan ikuti saya, tuan sudah menunggu." pengawal menundukkan kepalanya sesaat lalu berjalan menuju lantai dua di ikuti keluarga Ardiansa dan Orchid .
"tuan,mereka sudah tiba." pengawal memberitahu sang kakek.
"suruh mereka masuk." singkat sang kakek .
Pengawal menghampiri keluarga Ardiansa dan mempersilahkan masuk keruangan .
Mereka semua berada di satu ruangan dimana sang kakek tengah duduk di kursi kebesarannya dan Niko berdiri di balkon menatap langit ,tidak tahu jika keluarganya dan Orchid sudah tiba.
"bicaralah dengannya, malam ini kami akan terbang dan aku tidak tau kapan kalian akan bertemu lagi." sang kakek menebar ancaman halusnya dan melirik Orchid .
"terimakasih ." singkat Piter .
Sang kakek hanya diam dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Sejak memasuki ruangan itu mata Lucy yang sembab mencari cari sosok yang sangat di sayanginya.
Ketika tirai pintu tertiup angin ,terlihat punggung putra kesayangannya yang tengah berdiri di luar.
__ADS_1
Ketika sang kakek sudah keluar ruangan,Lucy berlari memanggil putranya.
Kenal dengan suara yang memanggilnya ,Niko menoleh dan segera menghambur dalam pelukan mamanya.