
Pagi menjelang, Nara berangkat ke sekolah. Pada saat dia akan mengayuh sepedanya tiba-tiba langkahnya terhenti karena tepat di depannya berhenti sebuah mobil yang ternyata adalah mobil dari Ronald.
"Nara, sebaiknya loe berangkat dengan gwe saja. Sekarang juga loe taruh sepeda loe," pinta Ronald menatap pada, Nara.
"Nggak usah deh, gwe nggak ingin ngerepotin loe. Mending gwe naik sepeda seperti biasa berangkat sendiri aja sekalian olahraga," tolak Nara secara halus.
Akhirnya Ronald turun dari mobilnya dan dengan gerak cepat dia meminta sepeda Nara dan mengayuhkannua menuju ke pelataran rumahnya yang kebetulan ada Bu Resy dan suaminya.
"Tante-Om, nitip sepedanya Nara ya? biar mulai detik ini Nara ke sekolah sama aku saja."
Belum juga orang tuanya Nara mengiyakan, Ronald telah berlari kecil menuju ke arah mobilnya sembari dia meraih tangan Nara untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.
Dengan sangat terpaksa Nara pun mengikuti langkah kaki Ronald yang begitu cepat. Dia pun ke sekolah ikut dengan Ronald.
"Loe itu jadi orang kok maksa banget sih," ucap Nara mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan gwe ya, Nara. Gwe tak ingin melihat loe itu kecapean, bukankah loe juga akan membuat beberapa cemilan untuk diproduksi dan dipasarkan di mini market serta toko snack Mama gwe," ucap Ronald.
"Iya juga sih tapi kan jika setiap hari seperti ini sama saja gue semakin menambah beban loe jangan selalu merepotkan loe saja," ucap Nara merasa tak enak hati.
"Santai aja, loe nggak usah seperti itu. Katanya gue ini teman baik loe dan bagi gue itu bukan sebuah beban. Gwe juga nggak merasa direpotkan karena kita kan satu tujuan satu arah yakni ke sekolahan," tersungging senyuman manis di bibir Ronald.
"Ya sudah kalau begitu gue ucapin terima kasih deh sama loe. Semoga segala kebaikan loe diterima oleh Allah dan rezeki loe dilipat gandakan olehNya." ucap Narw seraya menengadahkan kedua tangannya dan memejamkan matanya barang sejenak setelah itu dia mengusapkan kedua tangan ke wajah.
"Astaga kalau sudah seperti ini loe mirip ustadzah saja nih hehehe," Ronald terkekeh seraya melirik dari kaca spion mobilnya.
"Hem, gwe serius malah loe becanda begitu. Kagak lucu kok tertawa," Nara pasang wajah cemberut lagi.
"Iya deh gwe minta maaf, btw kapan loe akan mulai buat cemilannya!" tanya Ronald.
__ADS_1
"Astaga, gwe lupa belum pinjam uang ibu. Karena gwe lagi nggak ada uang, aduhh padahal gwe sudah berniat jika sepulang sekolah mau belanja untuk membuat cemilannya." Nara menepuk jidatnya sendiri.
"Balik dulu gih kerumah gwe, untuk minta uang sama ibu," pinta Nara.
"Nggak usah, loe pake uang gwe dulu kan bisa. Nanti sepulang sekolah gwe akan temani loe dech belanja," ucap Ronald tetap melajukan mobilnya.
"Tuh kan, gwe repotin loe lagi."
Nara manyun lagi.
"Hey girl, jangan seperti itu. Bibir loe jelek banget tahu," canda Ronald terkekeh.
Nara pun menyunggingkan senyumnya, supaya Ronald tak lagi menggodanya.
"Nara, gwe boleh nggak bantuin loe saat buat cemilannya?" tanyanya di sela mengemudi mobilnya.
"Tambah lagi dech beban gwe nanti ke loe. Jadi hutang budi gwe ke loe berlipat-lipat apa gwe sanggup bayar?" ucap Nara.
Sejenak Nara terdiam, melamunkan Tara. Hingga kini rada bersalah itu masih ada.
"Tara, loe dimana sih? gwe ketemu cowok yang mirip banget loe, bedanya pada penampilan dan cara bicaranya saja."
"Loe berpenampilan cupu, sedangkan cowok ini berpenampilan style. Loe tak banyak bicara, tetapi cowok ini suka sekali bercanda," batin Nara gelisah.
"Nara, gwe ada salah ucap ya? gwe minta maaf ya," ucap Ronald pada saat melihat raut wajah Nara yang tiba-tiba murung dan tak bersuara sama sekali.
"Ngapain sih minta maaf, gwe kan nggak marah sama loe. Lagi pula loe juga tak punya salah apa pun untuk apa juga pake acara minta maaf?" ucap Nara memicingkan alisnya.
"Ya habisnya loe tiba-tiba diam begitu saja. Hal ini buat gwe berpikiran ada satu ucapan gwe yang menyinggung hati loe," ucap Ronald.
__ADS_1
"Nggak ada kok, gwe diem karena gwe sedang ingat Tara. Loe mau nggak bantu gwe mencari keberadaan, Tara? karena jika gwe belum bertemu dengannya, selamanya gwe akan merasa sangat bersalah."
Sejenak Ronald panik pada saat Nara meminta dirinya untuk membantu mencari keberadaan Tara.
"Waduh, bagaimana ini? Tara itu kan gwe sendiri, jika gwe bantu dia mencari Tara ya jelas ke ujung dunia pun takkan ketemu," batin Ronald.
"Ronald, kok loe diem sih? loe nggak mau ya bantu gwe?" ada rasa sedih terpancar dari wajah Nara.
"Bukan begitu, kita bahas nanti lagi ya. Ini sudah sampai sekolahan. Kita harus siap-siap untuk upacara kan?" Ronald sengaja mengalihkan pembicaraannya.
"Hem, baiklah. Tapi janji ya loe bantu gwe mencari keberadaan, Tara?" pinta Nara dengan wajah memelas.
"Siap, Tuan Putri."
Setelah Ronald memarkirkan mobilnya, dia berjalan berdampingan dengan Nara menunju ke kelasnya. Hal ini sempat membuat cemburu banyak kaum hawa yang memuji ketampanan Ronald.
Hal ini juga yang memicu cemburu, Ara pada saat melihat keakraban mereka.
"Nara, kenapa sih loe nggak mau memberi pintu maaf untuk gwe? padahal gwe benar-benar menyesali kesalahan gwe dulu. Gwe rela melakukan apapun demi mendapatkan pintu maaf dari loe, Nara," batin Ara semakin tersayat melihat keceriaan Nara bersama Ronald.
*********
Tak terasa jam pulang sekolah telah tiba. Kembali lagi Nara berjalan berdampingan dengan Ronald tanpa menghiraukan Ara yang ada di belakang mereka.
"Nara, tunggu sebentar. Gwe ingin bicara sama loe, sepeda loe mana? apa nggak bawa, bagaimana kalau loe pulang sama gwe saja." ucap Ara mensejajarkan langkahnya dengan Nara.
Nara tak menjawab, dia hanya diam saja. Justru Ronald yang merespons.
"Heh, loe itu keras kepala banget sih! Nara sudah tak mau loe dekati tapi masih saja loe mendekat. Dasar cowok nggak punya malu! asal loe tahu ya, mulai detik ini dan seterusnya, Nara berangkat dan balik dari sekolah bareng gwe! jadi loe nggak usah pake nawarin diri loe untuk mengantarnya!" ucap Ronald dengan lantangnya.
__ADS_1
Narapun sengaja membiarkan Ronald menghadapi Ara . Karena Nara benar-benar sudah sangat benci padanya. Dengan apa yang pernah di lakukan oleh Ara.
Rasa sakit hati tetap saja hinggap di hati Nara hingga kini walaupun dia sudah di nasehati oleh ibunya untuk tidak berlarut-larut menyimpan kesalahan Ara.