
"Nara, di luar ada Tara. Kamu temui gih sekarang juga," pinta Ayah Bimo.
"Tara? sejak kapan dia ada di luar, ayah? dan untuk apa pula datang kemari?" tanya Nara mengernyitkan alisnya.
"Kamu temui saja sana, nggak enak juga kan. Dia jauh-jauh datang kemari," pinta Ayah Bimo.
"Iya, ayah."
Saat itu juga Nara melangkah menuju ke teras depan rumah. Ia pun menemui Tara dengan rasa tak sukanya.
"Ada apa loe datang kemari, kita kan sudah nggak ada hubungan sama sekali," ucap Nara tak suka melihat kedatangan Tara.
"Duduklah, masa iya ada tamu nggak di hormati sama sekali. Gwe ingin ngobrol denganmu, Nara," pinta Tara.
Hingga dengan rasa sungkan, Nara duduk di hadapan Tara.
"Cepat katakan, karena waktu gwe ngga banyak. Gwe sedang banyak kerjaan," pinta Nara ketus.
"Nara, gwe ingin minta maaf sama loe. Dan gwe ingin kita kembali lagi, mau ya?"
Mendengar apa yang di katakan oleh Tara, membuat Nara tersenyum sinis.
"Enak amat loe minta maaf dan minta balikan lagi setelah apa yang loe perbuat sama gwe. Loe pikir gwe ini apa, seenaknya loe seperti itu datang dan pergi sesuka hati," ejek Nara kesal.
"Gwe nggak pernah pergi, justru loe kan yang menjauh dan mutusin gwe begitu saja," ucap Tara.
__ADS_1
"Ya memang gue yang telah mutusin loe, karena sikapmu itu. Mana ada cewek yang mau diduain, hanya cewek bego aja yang mau menerima hal seperti itu," ucap Nara ketus.
"Nara, gue sama Laura itu hanya untuk sesaat saja. Gue sama sekali tak ada rasa cinta sedikitpun padanya, cinta gue sepenuhnya hanya untuk loe," Tara mulai merayu Nara.
"Persetan dengan ucapan kata cinta loe, gue sudah nggak percaya lagi sama loe. Setelah apa yang gue lakukan untuk loe selama ini. Intinya tak usah berbasa-basi lagi dan tak usah merangkai kata-kata lagi atau merayu gue lagi, karena sekali gue sudah kecewa dengan seorang cowok gue tidak akan kembali lagi pada cowok itu," ucap Nara.
"Gue tekankan sekali lagi, loe nggak usah deket-deket dengan gue lagi karena gue sudah muak dengan ucapan loe. Sekarang juga loe pergi dari rumah gwe dan jangan pernah injakan kaki loe di sini. Berapa kali gwe harus katakan, jika LOE GUE END. Sudah tak ada hubungan lagi dan tak akan gwe sudi balikan lagi sama loe," ucap Nara.
Setelah mengucapkan banyak hal, Nara bangkit dari duduknya dan ia berlalu pergi begitu saja menuju ke dapur lagi.
"Gwe pikir akan mudah mendapatkan permintaan maaf dari Nara dan gwe bisa balikan lagi dengannya supaya nyokap bokap baik lagi dan peduli lagi sama gwe. Tetapi ternyata gwe salah."
Tara begitu kecewa karena usahanya telah gagal total, ia pun bangkit dari duduknya dan seraya melangkah ke mobilnya dan melajukannya arah pulang.
Seperginya Tara, Bu Resy dan Ayah Bimo mulai kepo. Karena kebetulan kedua orang tuanya juga ada di dapur.
"Untuk apa berlama-lama, Bu. Bukannya kita sedang banyak kerjaan?" ucap Nara.
"Iya sih, tapi masa iya kamu menemuinya hanya beberapa menit saja? dia kan jauh-jauh datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu," ucap Bu Resy.
Belum juga Nara menjawab omongan ibunya, Ayah Bimo sudah berkata terlebih dahulu.
"Memangnya kalian sedang ada masalah apa sih?" tanya Ayah Bimo.
"Loh, memangnya Ayah belum tahu? aku pikir ibu cerita pada Ayah," ucap Nara heran.
__ADS_1
"Wah berarti Ayah kudet nih, lagi pula ibu tidak pernah menceritakan semua hal. Hanya hal-hal yang penting saja yang sering ibu ceritakan mengenai kebutuhan rumah tangga saja," canda ayah Bimo terkekeh.
"Ya Nara, ibu memang belum cerita mengenai hubunganmu dan Tara yang telah putus, karena kita kan sedang sibuk mengurus pesanan cemilan sehingga tidak ada waktu untuk ibu bercerita tentang hal itu," ucap Bu Resy.
"Apa putus? kok begitu cepatnya hubungan kalian putus, padahal waktu itu Tara berkata ingin benar-benar serius sampai kalian ke jenjang pernikahan, belum apa-apa sudah putus saja," ucap Ayah Bimo seraya menggelengkan kepalanya.
"Taranya yang nggak bisa berkomitmen, ayah. Dia yang nggak bisa setia pada Nara, hingga pada akhirnya Nara yang memutuskannya. Kalau ibu sih yang mana yang terbaik buat diri Nara saja karena dia kan yang kelak akan menjalaninya," ucap Bu Resy.
"Ayah tidak pernah melihat kesedihan di wajahmu Nara, makanya Ayah pikir juga hubunganmu dengan Tara tidak ada masalah sama sekali. Eehh... malah tahu-tahu sudah putus, bikin ayah kaget saja deh," ucap Ayah Bimo terkekeh.
"Itu bukan sifatku Ayah, untuk apa aku menyesali atau menangisi Tara yang telah menduakan aku dengan seenaknya. Masih banyak yang lebih penting dari kisah percintaan, ayah. Yang terutama itu usaha cemilanku dan sekolahku supaya aku kelak menjadi orang sukses dan bisa membanggakan serta membahagiakan ayah ibu dan adikku," ucap Nara.
"Dunia ini tak selebar daun kelor, lagi pula usiaku juga masih terlalu muda. Masih banyak pria yang lebih baik dari pada Tara yang kelak salah satunya akan menjadi pendamping hidupku," ucap Nara dengan sangat yakin.
"Ayah bangga padamu, Nara. Kamu itu bukan gadis yang cengeng, segala permasalahannya kamu bisa atasi dengan kepala dingin tanpa ada air mata atau kemarahan bahkan berputus asa. Ayah selalu melihat keceriaan di dalam pancaran matamu itu," Puji Ayah Bimo.
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku itu baik karena aku bukan tipe wanita cengeng," ucap Nara sumringah.
"Bagus, Ayah setuju. Ayah yakin kelak kamu akan mendapatkan seorang pria yang terbaik diantara yang paling baik. Semangat terus ya Nara, ayah selalu dukung apapun yang menjadi keputusanmu itu." Ayah Bimo mengusap rambut Nara.
Setelah itu ia berlalu pergi dari dapur dan menuju ke ruang tengah untuk melihat acara televisi kesukaannya. Sementara Nara dan Bu Resy asik berkutat dengan usaha cemilan Nara. Mereka begitu antusias dan fokus. Saat ini mereka belum ada karyawan hingga mereka harus lembur setiap harinya.
Para karyawan yang dulu pernah ikut bekerja di usaha cemilan Nara sedang susah di hubungi. Hingga Nara dan ibunya haris bekerja keras sendiri. Kadang kala Ayah Bimo juga turut membantumu jika ia sedang tak leldh dengan urusan kantornya.
Mereka selalu bekerja sama satu sama lain, tidak ada istilah lelah.
__ADS_1
Sementara Tara terus saja murung saat sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.