
Satu bulan sudah Ara menjalani masa hukumannya dengan ke sekolah mengayuh sepeda padahal jarak yang lumayan jauh. Dia juga tak bisa jajan dengan bebas.
Sementara Nara kini semakin dekat dengan Tara, bahkan usaha cemilan Nara berjalan lancar.
"Bu, sepertinya kita butuh pegawai untuk membantu pembuatan cemilannya karena semakin banyak pesanannya,". ucap Nara memberikan sebut saran.
"Wah, hebat kamu Nara. Baru satu bulan berjalan sudah banyak orderannya. Nanti ibu coba tanya beberapa tetangga siapa tahu ada yang mau bergabung, kira-kira butuh berapa orang?" tanya Bu Resy untuk memastikan.
"Dua orang dulu, Bu. Gampang nanti jika orderannya bertambah lagi, baru kita tambah pegawai," ucap Nara sumringah.
Nara sangat senang dan antusias menjalani usaha barunya tersebut. Di sela kesibukannya sebagai pelajar SLTA yang baru duduk di kelas dua, dia sudah mulai bisa mencari nafkah.
Dia tak mengeluh sama sekali walaupun pembuatan cemilan tersebut memakan waktu yang cukup lama. Dia selalu saja bersemangat pada saat membuatnya.
Apa lagi pada saat tahu semakin hari semakin melimpah orderannya. Rasa cape tidak di rasakan sama sekali oleh Nara, hanya rasa bahagia dan puas yang saat ini sedang dia rasakan.
"Nara, ayah bangga sekali sama kamu. Kecil-kecil sudah bisa usaha seperti ini, tapi kamu juga harus jaga kesehatan, jangan sampai drop. Dan ingat harus bisa bagi waktu antara sekolah dan usaha," pesan Ayah Bimo.
"Itu sudah pasti, ayah. Aku ini sudah dewasa, jangan katakan kalau aku ini anak kecil, ayah. Kan aku sudah bisa cari duit sendiri, hhaaa," Nara terkekeh.
Kepiawaian Nara dalam membuat berbagai macam cemilan memang patut diacungi jempol. Dari sebuah keisengan dan hanya sebatas hobi, kini bisa untuk mendapatkan uang.
Orang tua Tara juga merasa heran karena semua cemilan Nara memang benar-benar gurih nikmat dan rasanya renyah.
"Tara, kamu nggak tanya pada Nara?"
"Tanya apa sih, mah?"
"Tanya dari mana Nara belajar buat cemilannya. Rasanya itu bervariasi tapi tidak membosankan. Di mini market dan toko Snack mamah, yang nomor satu di cari itu cemilan buatan Nara," ucap Mamah Hety.
"Entahlah, mah. Aku nggak pernah tanya, hanya dia pernah cerita suka sekali praktek bikin ini dan itu jika di laman sosial media ada menu masakan atau cemilan baru," ucap Tara.
"Oh iya, apa sekolah Nara nggak terganggu sejak dia buat usaha cemilan ini? apa lagi semakin hari pesanan membludag loh," tanya Mamah Hety.
__ADS_1
"Sepertinya, nggak sih mah. Nara itu pinter bagi waktunya antar belajar, sekolah, dan mengerjakan usahanya itu. Karena yang aku lihat, di sekolah nilainya tak pernah berubah."
"Juga selalu mengerjakan tugas sekolah dengan benar bahkan jika ada ulangan dia juga selalu mendapatkan nilai yang bagus."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tara, Mamah Hety semakin kagum pada Nara.
"Dari mana kamu tahu nilai Nara selalu baik?" tanya Mamah Hety.
"Ya jelas tahu, mah. Aku kan duduk di samping Nara. Jika sedang ujian atau tes, dia juga fokus dalam mengerjakannya. Tak pernah mencontek seperti yang lainnya,' ucap Tara.
"Hem, calon menantu yang baik ini," canda Mamah Hety seraya menuk turunkan alisnya.
"Hhhaaa mamah bisa saja, kita kan baru kelas dua SLTA. Pasti belum terpikirkan untuk sejauh itu mamah," ucap Tara terkekeh.
"Wah, lagi heboh ngomongin apa nih? paoeh ikutan dong?" tiba-tiba Papah Hesa nongol dari dalam rumah.
Jika waktu libur memang semua berada di rumah, mereka akan mengadakan liburan jika sudah benar-benar merasa suntuk dan butuh refreshing.
"Ini, pah. Sedang membicarakan kepiawaian calon mantu dalam membuat aneka cemilan," canda mamah Hety terkekeh.
"Hem, masa mamah sama papah mainnya keroyokan begini? aku jelas kalah dong," Tara mengerucutkan bibirnya.
"Waduh, anak kita sudah mulai ngambek mah. Cabut ahhhh lari.....
Papah Hesa tertawa ngakak seraya berlari masuk ke dalam rumah.
Begitu juga yang di lakukan oleh Mamah Hety. Sementara Tara yang melihat tingkah orang tuanya hanya bisa terkekeh.
"Selalu dan selalu, mamah sama papah tuh begini. Tapi aku suka karena mereka selalu perhatian denganku," batin Tara seraya tersenyum sendiri.
"Hem, Nara sedang apa ya? kok aku tiba-tiba kangen padanya?" Tara meraih ponselnya dan langsung menelpon Nara via Video call.
"Hay, Tara. What happen, gwe sedang berjuang nih?"
__ADS_1
Terlihat di layar ponsel Nara sedang sibuk.
"Wah, maaf ya. Gwe nggak tahu kalau lor lagi sibuk bikin cemilan. Btw gwe boleh bantu nggak nich? kalau boleh, gwe otw sekarang juga."
"Cus nggak pake lama, gwe akan seneng jika loe bantu gwe hhee."
Saat itu juga Tara mematikan panggilan telponnya pada Nara. Dia pun berlari masuk untuk mencari keberadaan orang tuanya untuk berpamitan ke rumah Nara.
Dia sangat antusias jika akan menyambangi rumah Nara, bahkan dia selalu saja membawa oleh-oleh untuk Nara dan keluarganya. Tak pernah dia datang dengan tangan kosong, walaupun dia masih anak sekolah tapi tahu etika bertamu.
Tak berapa lama sampai juga mobil Tara di pelataran rumah Nara. Dua langsung di sambut oleh Ade yakni adik laki-laki Nara yang saat ini akan baru masuk di bangku SLTP.
"Hay Kak Tara, yuk masuk. Kata Kak Nara, langsung ke dapur saja," ucapnya seraya menerima bingkisan dari Tara.
"Ka, ini buat ku?" tanya Ade.
"Iya, buatmu."
"Thanks ya Ka Tara yang tampan," puji Ade sumringah.
Tara hanya menyunggingkan senyuman pada Ade. Setelah itu dia melangkah ke arah dapur, dimana Nara sedang sibuk dengan ibu serta dua pegawainya mengolah adonan yang akan dibuat cemilan.
"Hay, gays. Cepat kemari, katanya mau bantuin," pinta Nara terkekeh.
"Nara, Taranya baru datang sudah di perintah saja," tegur Bu Resy.
"Nggak apa-apa, Tante. Aku datang kemari memang mau bantuin, Nara. Ini ada sedikit kue untuk semua yang ada di sini," Tante. Biar kerjanya lebih semangat." Tara menyerahkan tas berisi kue pada Bu Resy.
Terima kasih ya, Tara. Seharusnya nggak usah tiap hari kamu membawa apapun kalau kemari tinggal kemari saja," ucap Bu Resy merasa tak enak pada Tara.
"Santai saja, Tante."
"Ya, mah. Tara ini kan sultan jadi ya nggak repot, ya kan bro?" canda Nara seraya sibuk dengan adonan cemilan di depannya.
__ADS_1
"Nara, kamu nggak boleh mengatakan hal itu. Maafkan Nara ya, Tara."
"Nggak apa-apa, Tante. Saya mah sudah paham dengan sifatnya Nara kok. Dia kan suka sekali bercanda," ucap Tara langsung menghampiri Nara dan membantunya.