
Tanpa sepengetahuan Nara, Bu Resy memberi tahu kabar gembira ini pada Mamah Rifda. Ia mengirimkan chat pesan padanya.
Drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam ponsel Mamah Rifda.
[Selamat siang, Mba Rifda. Ada kabar gembira, tadi saya iseng bertanya pada Nara tentang isi hatinya pada Willdan. Dan sepertinya gayung bersambut. Ia tersipu malu dan mengatakan bahwa apa mungkin Wildan suka padanya. Ini berarti lampu hijau dari Nara. Jadi mba bisa katakan saja pada Willdan supaya tak usah ragu jika ingin mengatakan tentang perasaannya pada Nara.]
Mamah Rifda begitu senang pada saat membaca chat pesan dari Bu Resy. Ia tak lupa membalas pesan Bu Resy.
[Syukur Alhamdulillah, saya sangat senang dengar kabar ini. Semoga kita benar-benar bisa menjadi saudara. Saya sangat berharap anak saya menjadi suami dari Nara. Karena saya sudah sangat cocok dengan Nara.]
Bu Resy juga sangat senang pada saat mendapatkan balasan chat pesan tersebut. Ia senyam senyum sendiri.
**********
Malam Minggu datang, entah kenapa Wildan ingin sekali menyambangi rumah Nara.
"Aku nggak pernah main ke rumah Nara jika menjelang malam apa lagi khusus malam Minggu, ingin sekali kesana," batin Willdan seraya mondar di depan teras depan rumah.
Kegelisahan Willdan sempat tertangkap oleh orang tuanya yang kebetulan akan melangkah keluar.
"Willdan, kamu kenapa gelisah sekali seperti itu?" tanya Papah Rendra.
"Iya Willdan, apa ada suatu masalah?" tanya Mamah Rifda.
"Mah-pah, aku ingin sekali main ke rumah Nara apa nggak apa-apa ya?" tanya Willdan ragu.
"Loh, main saja memangnya kenapa?" Mamah Rifda memicingkan alisnya.
"Aku kan nggak pernah main kalau menjelang malam. Jadi aku ragu khawatirnya nggak etis atau nggak sopan," ucap Willdan.
"Wildan, ini baru menjelang stengah tujuh. Kalau mau main, main saja gih. Nanti keburu Nara di apelin cowo lain bagaimana?" goda Papah Rendra.
__ADS_1
"Tapi apa Nara mau menerima aku ya, khawatir ia marah kalau tiba-tiba aku main begitu saja."
Terus saja Willdan gelisah hingga membuat orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.
"Wildan-Willdan, kamu ini sangat tampan tapi kok seperti pemuda yang nggak percaya diri hingga gelisah seperti itu?" goda Mamah Rifda terkekeh.
"Iya Willdan, kamu ini tampan seperti papahmu ini jadi jangan pernah minder dengan diri sendiri. Papah saja dulu selalu percaya diri saat mengejar cinta mamahmu," ucap Papah Rendra seraya mengedipkan matanya pada istrinya.
"Oh ya, Wildan. Mamah ingin menunjukkan sesuatu padamu, mendadak mamah ingat sesuatu."
Mamah Rifda menunjukkan chat pesan kiriman dari Bu Resy pada Willdan. Sejenak Willdan pun menjadi lebih percaya diri setelah melihat chat pesan tersebut.
"Sekarang kamu sudah tak minder dan gelisah lagi kan?" tanya Mamah Rifda memastikan.
"Iya, mah. Terima kasih, aku jadi lebih bersemangat untuk bisa mendekati Nara. Mah-pah, sekarang juga aku akan ke rumah Nara."
Saat itu juga Willdan mencium punggung tangan orang tuanya. Ia pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Nara dengan sangat antusias.
"Semoga saja apa yang aku lihat di chat tersebut benar-benar membuktikan bahwa Nara juga ada rasa suka padaku. Jika benar seperti ini, aku menjadi lebih mudah untuk mendapatkan cintanya."
Ia terus saja membayangkan hal-hal indah di lakukan bersama dengan Nara. Hingga tak terasa mobilnya kini sudah berada di pelataran rumah Nara.
"Nak Willdan, mari masuk," sapa Ayah Bimo yang kebetulan sedang bersantai di teras halaman.
"Iya, om. Terima kasih. Maaf ya om, saya mengganggu," ucap Willdan merasa tak enak hati.
"Nggak usah sungkan, Nak Willdan. Mari kita masuk saja ke dalam supaya ngobrolnya nanti lebih nyaman."
Ayah Bimo merangkul bahu Willdan dan mengajaknya masuk rumah menuju ke ruang tamu.
Wildan menjatuhkan pantatnya di soga ruang tamu, sementara Ayah Bimo melangkah masuk mencari keberadaan Nara. Karena ia tahu kedatangan Wildan adalah untuk bertemu dengan Nara.
Lagi-lagi kepergian Willdan di ikuti oleh Tya. Ia penasaran jika malam Minggu apa yang di lakukan oleh Wildan.
__ADS_1
"Bukankah ini rumah yang punya toko oleh-oleh itu ya, lantas untuk apa juga Wildan datang kemari? masa iya Wildan menyambangi rumah dari mahasiswinya?" gumam Tya di balik kemudinya.
Ia sengaja menepi cukup lama karena ingin tahu apa saja yang di lakukan oleh Willdan di rumah Nara.
Sementara saat ini Ayah Bimo sudah ada di dapur untuk memberitahu pada Nara tentang kedatangan Wildan.
"Nara, ada Nak Willdan di ruang tamu," ucap Ayah Bimo di dapur.
Karena kebetulan saat ini Nara sedang asik memasak untuk makan malam. Ia memang gadis yang rumahan yang sangat baik. Tak suka keluyuran dan ia suka sekali berkreasi dengan masakan atau cemilan.
Nara lekas menemui Wildan yang ada di ruang tamu.
"Mas Wildan, sudah lama ya. Maaf ya, aku bau bumbu karena sedang memasak untuk makan malam," ucap Nara merasa minder apa lagi melihat kedatangan Wildan dengan penampilan yang sangat memukau.
"Wah, justru aku yang minta maaf mengganggu aktifitasmu ya Nara."
"Nggak kok Mas Wildan, kebetulan sudah selesai memasaknya. Hanya saja aku belum mandi lagi, biasa setelah memasak aku mandi," ucap Nara tersipu malu.
"Nara, setiap hari di rumah saja. Jika menjelang malam Minggu atau waktu bersantai tidak pernah mainkah?" tanya Willdan mulai menyelidik aktifitas keseharian dari Nara.
"Hhee banyak orang yang bilang aku ini bagaikan katak dalam tempurung. Nggak pernah kemana-mana, Mas. Karena aku tak suka keluyuran dan lebih suka berkutat di dapur dengan kreasi masakan atau cemilan," ucap Nara.
"Sempurna, inilah gadis yang aku cari. Gadis yang murni dan tak banyak tingkah. Juga sangat pintar," batin Willdan seraya tak sadar ia tersenyum sendiri.
"Mas Wildan, kamu kenapa?" tanya Nara yang heran pada saat melihat Wildan tersenyum sendiri.
"Hhee nggak apa-apa, Nara. Hanya ingat sesuatu yang lucu saja," ucap Wildan seraya menutupi rasa gugupnya.
"Eh ada Nak Willdan, sudah lama ya? ajak sekalian untuk makan malam di sini Nara. Oh ya, Nak Willdan. Ikut makan malam di sini ya, Nara sudah masak. Sesekali makan masakan Nara," ajak Bu Resy.
"Oh ya Bu, tolong temani Mas Willdan dulu. Aku mau mandi sebentar, bau bumbu."
"Mas Wildan, aku mandi sejenak ya. Nggak enak jika masih bau bumbu ada di dekat Mas Willdan."
__ADS_1
Saat itu juga Nara melangkah menuju ke kamarnya untuk sejenak membersihkan badannya.