Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Terhasut


__ADS_3

Waktu pelajaran sekolah tak terasa telah usai. Pada saat Nara akan pulang bersama Tara mereka dihadang oleh, Ara.


"Nara, sebaiknya loe pulang sama gue aja bagaimana?" meraih tangan Nara yang membuat Tara merasa kesal padanya.


"Apa loe tuli? bukankah Nara tadi mengatakan kalau dia itu sudah menjadi kekasih gue jadi loe nggak usah ganggu dia lagi!" Tara melepas paksa pegangan tangan Ara pada Nara.


"Iya nih, Ara. Loe nggak tahu malu banget sih! apa kuping loe benar-benar bermasalah ya?" ucap Nara seraya menjauh dari Ara dan bergelayut manja di lengan, Tara.


Setelah itu Nara membawa paksa Tara melangkah menuju ke mobilnya. Karena dia tak ingin jika Tara semakin di bully oleh Ara.


Namun lagi-lagi Ara menghadang langkah kaki Tara dan Nara.


"Loe mau apa lagi sih? apa belum puas menghina Tara?" tanya Nara lantang.


"Gwe nggak menghina Tara, karena apa yang gwe katakan adalah kenyataan. Gwe tahu loe mau bertahan dengan Tara karena dia itu anak orang kaya. Bahkan kekayaan orang tuanya melebihi kekayaan orang tua gwe. Makanya loe berkeras hati tetap bertahan dengan Tara walaupun ia buruk rupa," ejek Ara terkekeh.


Perkataan dari Ara ini tak bisa di tolerir oleh Nara. Ia pun menjadi marah dan menghampiri Ara.


"Plak"


Satu tamparan mendarat di pipi Ara.


"Itu pantas buat loe yang punya mulut murahan! semakin loe menghina gwe dan Tata, semakin gwe itu benci sama loe! lihat saja gwe akan mengatakan hal ini pada bokap loe supaya loe di hukum lagi!" ancam Nara.


"Nara, sudahlah ayok kita pulang. Nggak penting juga meladeni orang macam Ara, yang ada nanti loe malah tambah dosa."


Tara menuntun Nara dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya. Sementara Ara hanya bisa menatap tak suka pada mereka berdua.


"Gwe yakin sekali jika Nara masih mau dekat dengan Tara karena orang tuanya yang kaya raya tersebut. Tidak mungkin dia akan tetap bertahan jika Tara hanya anak orang biasa. Apa lagi wajahnya sekarang menyeramkan," batin Ara kesal.


Sementara dalam perjalanan pulang, pikiran Tara mulai teracuni oleh ucapan Ara.

__ADS_1


"Apa benar, Nara seburuk itu ya? dia masih mau denganku karena orang tuaku yang kaya raya? berarti dia tak tulus cinta padaku," batin Tara di penuhi dengan tanda tanya.


Diamnya Tara membuat Nara pun menjadi tanda tanya, hingga dia memberanikan diri bertanya pada Tara.


"Tara, loe kenapa diam?' tanya Nara


"Nggak apa-apa kok, gwe cuma ...


"Cuma apa, katakan saja pada gwe. Apa loe itu masih saja memikirkan segala yang di katakan oleh Ara dan yang lainnya?" tanya Nara lagi.


"Nggak, Nara. Loe jangan tersinggung ya, gwe mau tanya satu hal sama loe boleh kan?" tanya Tara ragu dengan pertanyaan yang akan dia tanyakan.


"Katakan saja, kenapa loe gugup seperti ini?" Nara semakin menjadi penasaran.


"Nara, apa loe serius dan benar-benar tulus cinta sama gwe? apa bukan karena gwe ini anak orang kaya?"


Pertanyaan yang di lontarkan oleh Tara sangat menyakitkan Nara.


"Jadi loe benar-benar percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ara. Jadi loe berpikiran bahwa gwe ini mau sama loe karena kekayaan orang tua loe? astaga, Tara. Tega banget loe menuduh gwe seperti itu. Ya sudah, mulai hari ini dan selamanya loe menjauh saja dari gwe. Dan gwe juga akan menjauh dari loe dan takkan lagi gwe menyetok cemilan ke mini market dan toko snack


"Pak sopir, tolong berhenti di sini saja. Aku mau naik ojek saja." Pinta Nara merasa tersinggung dengan ucapan Tara.


"Nara, jangan seperti ini. Gwe minta maaf ya, bukan maksud gwe menyinggung perasaan loe," pinta Tara akan tetapi Nara tetap tak peduli dia pun tetap meminta turun pada sopir.


Hingga pada akhirnya sopir menghentikan laju mobilnya. Dan saat itu juga Nara pun turun, dia langsung naik ojek yang kebetulan sedang melintas.


"Aduh, apa yang aku perbuat barusan? kenapa juga aku malah lebih percaya pada Ara dari pada Nara? bodohnya aku malah membuat marah Nara, bagaimana ini? padahal hanya dia yang ada di pihakku dan selalu ada untukku," batin Tara menyesal.


Hingga Tara memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah tapi terlebih dahulu mampir ke rumah Nara untuk meminta maaf.


'Pak, kita ke rumah Nara dulu sebentar ya," pinta Tara.

__ADS_1


"Baik, den."


Tak berapa lama, mobil yang di tumpangi oleh Tara sudah sampai di pelataran Nara. Akan tetapi Nara belum sampai di rumah.


"Tante, Naranya ada?" tanya Tara pada Resy.


"Loh, bukannya sama kamu? dia belum sampai rumah," ucap Resy heran merasa ada yang tak beres dengan sikap Tara.


"Oh ya sudah, Tante. Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya," Tara pun melangkah ke dalam mobilnya karena dia tak ingin Resy semakin banyak bertanya padanya.


"Kalau Nara belum sampai di rumah, lantas dia kemana ya?" batin Tara.


Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Nara akan tetapi tak aktif. Hingga dia memutuskan untuk pulang saja.


Seperginya mobil Tara dari pelataran rumah Nara, pulanglah Nara karena dia telah melihat terlebih dahulu mobil Tara yang akan datang ke rumah, makanya dia bersembunyi tidak langsung ke rumah.


"Nara, tadi Tara mencarimu. Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Resy.


Nara pun tak sungkan, dia bercerita panjang lebar pada ibunya tentang apa yang barusan telah di katakan oleh Tara padanya.


"Nara, kamu nggak boleh seperti itu pada Tara. Dia seperti itu karena dirinya sedang goyah dengan kondisinya yang tak baik," ucap Resy.


"Bu, Tara nggak percaya padaku. Dia berpikir aku dekat dengannya karena dia itu anak orang kaya. Dia mengira aku tak tulus padanya," ucap Nara kesal.


"Nara, kamu harus berpikir dewasa. Jangan menghadapi permasalahan dengan amarah seperti ini. Semua kan bisa di bicarakan secara baik-baik dan secara kekeluargaan," ucap Resy mencoba menasehati Nara.


Namun Nara masih saja kecewa dengan ucapan dari Tara makanya dia belum bisa menerima nasehat dari ibunya. Nara hanya berlalu pergi begitu saja dari hadapan ibunya.


Sementara Tara sampai di rumah juga dalam kondisi tidak baik. Wajahnya sangat terlihat murung membuat Hety bertanya-tanya.


"Tara, kenapa pulang sekolah langsung murung? apa di sekolah terjadi sesuatu?" tanyanya.

__ADS_1


Tara juga bercerita panjang lebar pada Hety. Cerita dari Tara membuat Hety menggelengkan kepalanya.


"Tara-Tara, kamu itu kenapa sih? malah membuat masalah seperti ini? hduhhhh...


__ADS_2