
Dengan semangat begitu membara, Willdan melangkah pasti ke ruang kelas Nara untuk mengajar. Pandangan mata Wildan langsung tertuju ke bangku di mana saat ini Nara sedang duduk dan tak sengaja mereka pun saling melempar pandangan dan Nara pun tersenyum pada Wildan.
Jantung Wildan berdetak kencang pada saat melihat senyuman manis Nara ke arahnya, hatinya menjadi berbunga-bunga begitu riangnya.
Ia pun tak sadar membalas senyum manis Nara, hingga semua murid yang ada di kelas tersebut menatap ke arah Nara. Sontak saja Nara menjadi tersipu malu di buatnya.
"Waduh, kenapa semua teman sekelas menatapku hanya karena Pak Wildan membalas senyumanku ini. Apa aku salah ya, jika tersenyum padanya pada saat ia menatapku. Masa iya, saat aku di tatap olehnya aku diam saja atau murung saja kan nggak enak?" batin Nara mulai salah tingkah meligat ekspresi semua temannya hingga akhirnya ia pun tertunduk malu.
Wildan pun menyadari akan sikapnua yang tak sadar membalas senyuman Nara membuat semua murid menatap ke arah Nara.
"Ehem, kalian kenapa nggak fokus dengan pelajaran yang sedang saya terangkan? kenapa kalian malah menatap ke arah Nara?"
Sontak saja teguran dari Willdan membuat semua muridnya beralig tatapannya dari Nara dan kini mereka fokus kembali kepada pelajaran yang sedang di terangkan oleh Wildan. Mereka tak ingin mendapatkan teguran lagi.
Kini Nara bisa bernapas lega karena semua temannya tak lagi menatap ke arahnya. Ia pun bisa kembali fokus dalam belajarnya.
Hingga tak terasa sudah satu jam berlalu dari pelajaran yang di terangkan oleh Willdan. Semua siswi masih kurang puas karena tak bisa lebih lama lagi menatap wajah tampan Willdan.
Begitu pula dengan Willdan masih kurang puas untuk bisa lebih lama lagi bisa menatap Nara.
"Kenapa pula jam pelajaran jatahku di kelas Nara hanya satu jam saja, bagaimana aku bisa protes ya supaya setiap hari ada jatah mata pelajaranku di kelas Nara? ah itu sepertinya tidaklah mungkin."
"Atau bisakah aku menjadi wali kelas di kelas Nara itu ya. Ya ampun sebegini gelisahnya aku memikirkan hal ini?'
__ADS_1
Gerutuan terus saja ada di dalam hati, Willdan yang benar-benar telah di mabuk cinta pada Nara.
Jam begitu cepat berjalannya, kini sudah waktunya Willdan untuk kembali bertugas kembali di kantor. Dan kebetulan tugas mengajar di kampus telah selesai.
"Hah, hanya sekejap mata aku bertemu dengan Nara. Padahal keinginan bertemunya begitu lama, tapi setelah ketemu hanya sebentar saja." Gumamnya seraya melajukan mobilnya menuju arah pulang karena ia akan berganti pakaian khusus untuk ke kantor.
Hanya beberapa menit saja, Wildan telah berganti pakaiannya dan ia pun langsung melajukan mobilnya arah kantor.
Wildan berkutat begitu sibuknya dalam menjalani aktifitas kantornya hingga tak terasa waktu sudah menjelang pukul empat sore.
Dengan beangat antusiasnya Wildan melajukan mobilnya arah pulang karena ia ingin segera membersihkan badannya dan akan pergi lagi ke toko oleh-oleh Nara. Hampir setiap sore Willdan menyambangi toko oleh-oleh Nara.
Dia pintar beralasan jika sedang di toko Nara. Hampir setiap hari ia membeli dagangan Nara yang ada di toko dengan alasan ada karyawan kantor yang memesannya.
"Tak apa setiap hari aku membeli berbagai macam cemilan produksi Nara. Di samping aku bisa berbagi pada sesama, aku juga bisa menambah pendapatan toko Nara. Satu pekerjaan mendapatkan dua sekaligus kebaikan," batin Wildan.
Ia sama sekali tak berkeluh kesah walaupun setiap hari harus mengeluarkan uang untuk membeli produk oleh-oleh Nara. Yang terpenting setiap hari dia bisa bertemu dengan Nara.
Berbeda situasi dengan Tara, setelah lulus sekolah dia tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan daya pikirnya sejak ia mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu.
Kini waktunya dihabiskan untuk membantu usaha mamahnya di mini market dan toko snack.
"Tara, apa kamu tidak bisa menghubungi Nara kembali untuk bisa menyetok kembali cemilan yang ia buat di mini market dan toko Snack kita?" tanya Mamah Hety.
__ADS_1
"Mah, sudah berapa kali aku bilang jika Nara sudah tak ingin lagi dihubungi olehku. Walaupun aku ingin sekali tetap berteman dengannya tetapi ia sudah tidak mau."
"Kenapa tidak mamah saja yang menghubunginya, bukankah mamah masih menyimpan nomor ponselnya? karena aku sudah tidak menyimpan nomor ponselnya mah, sudah aku hapus pada saat terakhir Nara marah padaku saat aku menelpon dirinya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tara sebenarnya hati Hety sedih, tetapi mau bagaimana lagi sedangkan ia tidak enak hati untuk menghubungi Nara. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin sekali menghubunginya untuk kembali bekerja sama dalam penjualan cemilan.
Jarena semua produk cemilan yang dihasilkan Nara begitu laku keras di mini market dan toko snack milik Hety. Jadi ia merasa rugi jika tidak ada lagi produk-produk cemilan buatan dari Nara.
Kemurungan kini sedang melanda Mamah Hety hingga sangat terlihat di wajahnya, membuat suaminya menjadi heran.
"Mah, kenapa wajahmu bermuram durja seperti itu? sebenarnya ada apa? apakah Tara berulah lagi?" tanya Papah Hesa menyelidik.
"Nggak kok, pah. Tara susah berubah, ia membantu mamah mengurus dua usaha mamah dengan sangat baik kok. Ia pun rajin datang ke mini market atau ke toko snack. Justru ada hal lain yang membuat mamah seperti ini," ucap Hety seraya menghela napas panjang.
"Coba mamah ceritakan saja pada papah, siapa tahu papah bisa bantu permasalahan yang sedang dihadapi oleh mamah," ucap Papah Hesa.
Akhirnya Mamah Hety menceritakan semua tentang permasalahan di mini market atau di toko snack. Di mana para pelanggan banyak sekali yang berminat dengan hasil produksi cemilan milik Nara.
Sejak Nara menghentikan pengiriman cemilan ke mini market dan toko Snacknya, usahanya menjadi tak begitu ramai. Bahkan hingga detik ini banyak pelanggan yang selalu bertanya cemilan produk Nara.
Mendengar keluh kesah yang di katakan oleh Hety, suaminya ikut bisa merasakan kesedihan istrinya.
"Mah, apa sebaiknya kira ke rumah Nara saja. Dan nanti biar papah yang bicara pada Nara dan orang tuanya. Papah yakin pasti Nara bersedia kok menyetok ke toko kita lagi," saran Hesa mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Tapi apa kita nggak malu atas apa yang pernah di lakukan oleh Tara pada Nara? mamah merasa minder dan malu jika bertemu dengan Nara dan orang tuanya. Yang ada nanti mereka beranggapan bahwa kita ini tak punya rasa malu sama sekali," ucap Hety ragu.