
Pada saat makan hari, Nara termenung sendiri. Ia pun memikirkan akan hari esok dimana ia akan menghadiri sebuah persidangan untu menentukan masa hukuman bagi , Tya.
"Aku sama sekali tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini, akan menghadiri persidangan seperti ini."
"Sebenarnya aku tak tega pada saat melihat lihat raut wajah Mbak Tya yang sangat sedih."
"Tetapi jika aku mengatakan pada Mas Wildan untuk mencabut tuntutan terhadap Mba Tya, pasti ia akan marah besar padaku. Begitu pula dengan ayah dan ibu."
"Tetapi jika aku ingat pada orang tua Mbak Tya, aku juga tidak tega."
Nara dalam hati memikirkan akan hari esok di mana ia akan menghadiri persidangan untuk mengetahui dan menentukan masa hukuman bagi, Tya.
Hingga tak terasa ponselnya berdering, ia pun tersentak kaget dari lamunannya.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Nara yang tak lain adalah dari kekasihnya yakni, Wildan.
Saat itu juga ia lekas mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo sayang, sedang apakah dirimu malam ini?"
"Aku sedang memikirkan hari esok, Mas."
"Apakah maksudmu memikirkan untuk acara persidangan besok?"
"Iya Mas, aku merasa tak tega pada saat tadi melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Mbak Tya."
__ADS_1
"Astaga....jadi kamu berpikiran besok akan bersaksi untuk bisa membebaskan Tya, begitu?"
"Entahlah Mas, di dalam hatiku ini merasakan dilema yang begitu dalam."
"Nara, dengarkan baik-baik apa yang aku katakan padamu. Tya saja tidak memikirkan apa sebab dan akibat yang dia lakukan. Apa ia pernah berpikir tega atau tidak teganya? Jika dia berpikir ke arah situ dia tidak akan melakukan hal keji ini padamu. Ia saja tega padamu, kenapa kamu malah ingin mengasihani dirinya?"
"Mas Wildan apa tidak pernah tahu tentang istilah Cinta itu buta? adanya Mbak Tya melakukan hal itu karena dia merasa cemburu padaku dan karena rasa cintanya yang begitu besar padamu."
"Nara, kok kamu malah membela Tya? padahal aku sudah bersusah payah mencari tahu menyelidiki semuanya tentang apa yang menimpamu, karena aku berpikir tidak ingin jika suatu saat nanti terulang lagi kejadian yang sama. Coba saja jika aku tidak menyelidiki hal ini, bisa jadi Tya akan melakukan hal yang lebih buruk lagi padamu. Pikirkanlah hal itu secara baik-baik."
"Iya Mas, aku minta maaf telah membuatmu emosi."
"Aku tidak emosi sayang, aku hanya tidak ingin kamu itu memberikan belas kasihmu kepada Tya. Belum tentu ia akan jera dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Aku harap besok kamu memberikan kesaksian yang sesuai dengan menimpamu dan tak usah lagi menambah suatu kata-kata yang intinya dirimu itu merasa kasihan pada, Tya."
"Baiklah Mas, aku mengerti dan aku tidak akan mengecewakanmu yang telah bersusah payah menyelidiki tentang apa yang telah menimpaku, terima kasih untuk segalanya."
"Iya sayang, tak usah kamu berterima kasih. Aku melakukan itu semua karena rasa cintaku yang besar pada dirimu dan satu hal aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai."
Tetapi di dalam hati Nara masih saja ada rasa yang mengganjal.
"Mbak Tya, aku minta maaf ya tidak bisa membantumu. Mungkin besok aku juga akan memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya dan aku benar-benar tidak akan berkata apapun yang intinya bahwa diriku ini merasa tak tega padamu," gumamnya.
Tak terasa mata Nara mulai mengantuk, dan ia pun memejamkan matanya saat itu juga.
Berbeda situasi di rumah kedua orang tua Tya, mereka sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Terus saja mereka berdua memikirkan hari esok di mana masa penentuan hukuman, Tya.
"Mah, aku tidak bisa tidur karena aku sedang memikirkan persidangan untuk masa hukuman anak kita," ucap Meo seraya menoleh ke arah Mia yang sama juga sedang berbaring tetapi tatapan matanya ke langit-langit kamar.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak merasakan hal yang sama? aku juga sedang memikirkan hal itu. Aku sedang memikirkan berapa lama Tya akan mendekam di dalam penjara," ucap Mia tanpa menoleh ke arah Meo sama sekali, ia terus saja menatap langit-langit kamarnya.
"Bagaimana ya Mah cara kita untuk bisa membujuk Wildan mencabut tuntutannya terhadap, Tya?" tanya Meo.
"Sekarang kamu baru merasakan penyesalan setelah Tya mengalami permasalahan pelik seperti ini?"
"Jika pada saat dulu kamu tidak keras kepala dengan memaksa Tya untuk menerima perjodohan mu itu pasti saat ini anak kita telah bahagia bersama pemuda yang ia cinta. Dan Tya tak harus mengalami hal yang menyedihkan seperti ini."
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, membuat amarah Meo meluap saat itu juga.
"Kenapa kamu menyalahkan aku terus untuk apa yang telah menimpa pada diri Tya? semua itu kesalahan dia sendiri, kenapa dia tidak bisa melupakan Wildan? padahal di dunia ini masih banyak pemuda yang lebih baik daripada Wildan, pemikiran dia saja yang terlalu sempit."
"Aku tak mau ya mah, kamu terus saja memojokkanku! seolah-olah apa yang telah menimpa Tya adalah sepenuhnya kesalahanku."
Setelah mendengar perkataan dari suaminya, Miapun tak ingin berkata lagi. Ia hanya bisa menghela napas panjang seraya mencoba memejamkan matanya walaupun ia sama sekali belum merasa mengantuk.
Hingga tak terasa pagi menjelang, keduanya segera bangun dan melakukan ritual mandi pagi mereka secara bergantian. Setelah itu mereka bergegas ke ruang makan untuk sarapan, tetapi baik Meo maupun Mia sama-sama tak berselera makan sama sekali.
Mereka menghentikan aktifitas sarapan mereka. Dan sepakat memutuskan untuk segera ke kantor polisi saja. Bahkan Mia membaea bekal makanan untuk ia berikan kepada Tya.
"Semoga saja Tya mau makan bekal yang aku bawa ini. Karena ini adalah makanan kesukaannya. Dan semoga Tya bisa tegar menghadapi ujian hidupnya ini."
"Ya Allah, aku mohon ampunan kesalahan Tya. Dan semoga pihak pengadilan bijaksana dengan tidak memberikan masa hukuman yang terlalu berat pada Tya."
Sejenak Mia memejamkan matanya berdoa untuk Tya, dan setelah itu a pun siap di jok mobil samping suaminya. Saat itu juga, Meo melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Karena menurut Komandan kepolisian, mereka di harapkan datang terlebih dahulu di kantor polisi. Jangan langsung menuju ke pengadilan yang ada tepat di samping kantor polisi.
__ADS_1
Hal yang serupa juga di lakukan oleh Nara, ia juga ke kantor polisi terlebih dahulu dengan di dampingi oleh Ayah Bimo.
Wildan selaku pelapor juga datang bersama orang tuanya yang juga penasaran masa hukuman bagi Tya.