
Sepulang dari sekolah, Ronald langsung menemani Nara untuk berbelanja di sebuah toko untuk keperluan membuat kue dan cemilan.
Nara dengan penuh teliti dalam memilih segala bahan-bahannya. Untung saja dia semalem sudah mencatat segala kebutuhan yang di perlukannya untuk pembuatan cemilan tersebut.
Butuh waktu satu jam untuk Nara berbelanja.
"Ronald, thanks ya sudah menemani gwe belanja dan juga meminjamkan uangnya," ucap Nara pada saat selesai belanja.
"Sama-sama, Nara. Loe nggak usah buru-buru mengganti uang yang gwe pinjamkan pada loe ya? loe gantinya nanti saja jika semua cemilan loe sudah habis terjual," ucap Ronald menyunggingkan senyum manisnya.
"La dong, gwe jadi tambah nggak enak dech nantinya."
"Loe nggak usah sungkan apa nggak bisa? katanya gwe ini sahabat baik loe, tapi loe masih bersikap seolah gwe ini atasan loe bukan sahabat loe," canda Ronald terkekeh.
"Hem siap, bos kuh," canda Nara pula seraya memberikan hormat pada Ronald.
"Nara, gwe sangat bahagia saat bersama loe seperti ini. Tapi bagaimana jadinya jika loe tahu kalau gwe ini adalah Tara? apakah loe masih mau dekat dengan gwe atau loe marah lagi seperti dulu?" batin Ronald terus saja gelisah.
Karena dia yakin, suatu saat nanti pasti Nara akan tahu jari dirinya. Entah itu cepat atau lambat.
"Woy, kenapa loe malah bengong sih? mau di jalanin nggak ini mobilnya, kalsu nggak gwe mau naik taxi on line saja," tegur Nara menepuk bahu Ronald hingga dia terlonjak kaget.
"Astaga, Nara. Kalau gwe jantungan bagaimana, loe mau di minta pertanggungjawaban nya?" Ronald terhenyak kaget seraya memegangi dadanya.
"Hhaa...loe yang nanggung gwe yang jawab," canda Nara terkekeh pelan.
"Hem, bisa saja dech loe!"
"Hhee, maaf dech. Gwe kan cuma bercanda, masa muka loe berubah manyun gitu seperti nyet nyet," kembali lagi Nara terkekeh.
"Sialan loe, masa gwe di samain sama monyet," Ronald sejenak menggelitik pinggang Nara.
Karena hanya dengan cara itu, Nara tidak akan menggodanya lagi. Dia tahu betul kelemahan Nara.
"Hhaaa ampunnn..."
__ADS_1
Ronald pun menghentikan kelitiknta terhadap Nara, di saat dia sudah mengatakan ampun.
"Ronald, kok loe tahu saja kelemahan gwe? padahal yang tahu akan ini hanya Ara dan Tata," ucap Nara menatap menyelidik ke Ronald yang akan melajukan mobilnya.
"Maksud loe apa sih? gwe sama sekali tak paham dech," ucap Ronald pura-pura tak tahu dengan ucapan Nara.
"Hem, nggak jadi dech. Sudah jalanin mobilnya keburu Maghrib baru sampai rumah,' pinta Nara.
'Ini juga mau gwe jalanin kok," ucap Ronald.
Saat itu juga, Ronald melajukan mobilnya. Sementara Nara kembali melamun.
"Kadang aku lihat sifat Ronald ada yang mirip dengan Tara. Tetapi ada juga yang tidak. Kadang jika sedang mirip, aku sempat mengira Ronald ini adalah Tara. Lantas kapan ya aku bisa bertemu dengan Tara?" batinnya sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan Tara.
Tak terasa sampai juga di pelataran rumah, Nara. Ronald membantu Nara membawa semua belanjaannya.
'Nara, kok kamu bisa belanja sebegitu banyaknya? padahal ibu belum beri kamu yang, karena pada saat ksmu berangkat tadi nyelonong pergi saja," ucap Bu Resy.
"Hhheedi pinjemin sama Ronald, Bu," jawab Nara tersipu malu.
"Gampang, Tante. Nanti saja bayarnya kalau usaha cemilan Nara susah benar-benar jalan dengan lancar. Saya pamit pulang ya, Tante. Gwe pulang dulu ya, Nara."
Ronald menyalami Bu Resy, setelah itu dia melangkah masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya arah jalan pulang.
"Nara, kamu mau mulai bikin cemilan sekarang? apa nggak terlalu cape?" tanya ibunya ragu.
"Iya, Bu. Tapi aku mau mandi dulu dan makan dulu, setelah itu baru mulai expektasi," ucapnya antusias.
"Ya sudah, ayok masuk. Nanti ibu bantu dech. Kamu nggak perlu khawatir ya." Bu Resy membantu Nara membawakan sebagian kantung kresek berisikan belanjaan.
Beberapa menit kemudian, Ronald telah sampai di rumahnya. Akan tetapi dia langsung duduk termenung di teras halaman.
Mamahnya yang sedang asik menyirami bunga kesayangannya menjadi penasaran dengan wajah murung anak semata wayangnya.
"Tara, kamu kenapa? kok diam seperti itu, apakah ada masalah dengan Nara, atau dengan sekolahmu?" tanya mamahnya menyelidik.
__ADS_1
"Ya, mah. Aku ada masalah dengan, Nara."
Mendengar akan hal itu, mamahnya langsung menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa lagi, ada masalah apa lagi kamu dengan Nara? berarti kalian sedang bertengkar?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut mamahnya.
"Bukan itu, mah. Tetapi aku sedang bingung dengan permintaan tolong, Nara," Tara menghela napas panjang seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Permintaan tolong, coba jelaskan sejelas-jelasnya biar mamah nggak bingung dan siapa tahu bisa bantu kamu," ucap mamahnya lagi.
"Nara memintaku untuk membantunya mencari tahu dimana keberadaan, Tara. Karena dia tidak akan tenang jika belum bertemu dengan Tara. Dia akan terus di hantui rasa bersalah. Aku bingung, mah. Bagaimana aku akan membantunya mencari, Tara? karena Tara itu akuntansi sendiri?" ucapnya bingung.
"Tara, menurut mamah sih sebaiknya kamu berkata jujur saja pada, Nara. Dari pada nanti dia tahu dari orang lain atau tahu sendiri semisal datang kemari tanpa sadar," ucap mamahnya.
"Aku juga sempat berpikiran seperti itu, mah. Tapi aku juga takut ada penolakan karena aku telah bohong padanya."
Tara semakin gundah gulana dan gelisah memikirkan akan hal itu.
"Lebih baik kamu jujur sekarang, dengarkan dan lakukan apa yang mamah katakan, Tara sayang. Mamah yakin, Nara pasti akan mengerti," mamahnya terus meyakinkan Tara supaya lekas berkata jujur pada Nara tentang jari dirinya.
"Iya, mah. Aku pasti berkata jujur pada Nara, tapi tidak sekarang ini. Tunggu waktu yang tepat."
"Ya sudah, tak usah kamu terlalu memikirkan hal ini. Sekarang sebaiknya kamu mandi dan istirahat," ucap mamahnya.
"Astaghfirullah aldazim, aku kan mau kerumah Nara lagi, mah. Nara hari ini akan memulai membuat cemilannya dan rencananya aku ingin membantunya. Boleh kan, mah?" Tara meminta izin mamahnya.
"Memangnya kamu tak cape, Tara?" tanya Mamahnya.
"Nggak, mah. Aku juga ingin tahu bagaimana cara Nara membuat cemilan itu," ucap Tara antusias.
"Ya sudah sana mandi, pesan mamah jangan lama-lama jika nanti main di rumah, Nara. Nggak enak juga kan sama orang tuanya juga sana tetangga kanan dan kiri," pesan Mamahnya.
'Siap, mamahku sayang."
Tara langsung berlari masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya dan langsung masuk kamar mandi. Rasa bahagia kini sekali terpancar pada wajah Tara sejak dirinya bisa dekat lagi dengan Nara.
__ADS_1