Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Lulus Juga


__ADS_3

Kehidupan berjalan sesuai dengan aliran air yang mengalir begitu saja. Tak terasa Nara sudah lulus sekolah dari SLTA, dan ia lulus dengan nilai yang sangat baik. Bahkan ia mendapatkan bea siswa dari sekolahnya. Ia saat ini telah mempersiapkan diri untuk mencari universitas yang ia inginkan.


"Nara, ayah dan ibu bangga padamu. Kamu lulus dengan nilai terbaik dan juga mendapatkan bea siswa. Kamu akan melanjutkan ke perguruan mana?" tanya Ayah Bimo.


"Aku ingin ke sebuah universitas favorit di kota ini, ayah. Aku ingin ambil jurusan agro bisnis atau informatika," ucap Nara antusias.


"Semoga apa yang kamu cita-citakan menjadi kenyataan ya, Nara. Ayah dan ibu akan selalu berdoa untukmu dan untuk adikmu, supaya kelak sukses," ucap Ayah Bimo.


"Amin... semoga doa-doa ayah dan ibu diijabah oleh Allah, sehingga aku bisa membanggakan dan membahagiakan ayah dan ibu," ucap Nara.


Lain halnya di tempat Tara, ia harus kecewa karena sejak berpisah dengan Nara kehidupan pribadinya menjadi tak karuan, bahkan di dalam sekolahnya ia selalu mendapatkan nilai yang buruk saat lulus pun dia sangat mengecewakan orang tuanya.


"Tara, kenapa kamu bisa mendapatkan nilai buruk seperti ini? padahal yang papah tahu dulu kamu adalah anak yang pintar dan selalu membanggakan kami. Kenapa menjelang lulus sekolah malah nilaimu sungguh jelek seperti ini? lantas jika nilai jelek akan melanjutkan kuliah dimana?" tanya Papah Hesa heran.


"Entahlah Pah, aku juga tak tahu akan melanjutkan kuliah di mana. Padahal aku ingin kuliah di kota J dan aku ingin tahu di mana kelak Nara kuliah di situ pula aku akan kuliah. Tetapi melihat nilaiku anjlok seperti ini sudah tak mungkin lagi aku bisa kuliah di kota J," ucap Tara seraya menghela napas panjang.


"Papah ingin tanya kenapa kamu bisa menjadi seperti ini berubah drastis? papah rasa Tara yang sekarang bukanlah Tara yang dulu."


"Dulu kamu selalu membanggakan papah, kini yang sering kamu lakukan adalah membuat papah kecewa sangat teramat membuat papah kecewa."


Papah Hesa begitu sangat kecewa dan ia sudah tak bisa berharap apapun dari anak semata wayangnya itu. Padahal ia sempat berhayal jika kelak Tara yang akan menggantikan dirinya memimpin perusahaan.


"Pah, jangan terus memojokan Tara. Apa papah lupa, jika Tara pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gangguan pada kepalanya mungkin saja karena hal itu banyak sekali perubahan pada diri Tara terutama pada nilai pelajarannya," ucap Hety.


"Itu bukan suatu alasan yang tepat, mah," sanggah Papah Hesa.


"Tapi Tara sering mengeluh pada mamah, jika tiap kali ia berpikir tentang mata pelajaran, kepalanya terasa sakit sekali," ucap Hety.


"Lantas jika seperti itu, bagaimana dengan masa depan Tara kelak, mah?" tanya Hesa bingung.

__ADS_1


"Entahlah Pah, sebaiknya kita jalani saja seperti aliran sungai jangan terlalu memojokkan Tara terus. Kasihan juga nanti dia banyak pikiran yang mengakibatkan sakit kepala yang tak kunjung sembuh," nasehat Hety.


"Ya sudahlah, Papah akan menuruti apa yang mamah katakan barusan. Mau bagaimana lagi, memang mungkin sudah takdir kita memiliki anak seperti itu. Aku juga sudah tidak akan memikirkan lagi tentang kelak siapa yang akan memimpin perusahaanku jika aku sudah tidak bisa apa-apa lagi," ucap Hesa.


Begitu besar guratan rasa kecewa yang ada pada wajah Hesa, karena anak semata wayang yang ia harapkan kelak akan menjadi pewaris tunggal menggantikan dirinya memimpin perusahaannya, mungkin tidak akan bisa diharapkan lagi dengan kondisi otaknya yang tidak seperti dulu.


********


"Sudah lama aku tak bertemu dengan, Nara. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang ini. Tapi Nara sudah tak mau aku datang lagi di hadapannya itu. Apa sebaiknya aku telpon saja ya? pasti mamah saat ini masih punya nomor ponsel, Nara," batin Tara.


Ia pun memberanikan diri menemui Mamah Hety untuk meminta nomor ponsel Nara.


"Mah, apa masih punya nomor ponsel Nara?" tanya Tara agak ragu.


"Masih, memangnya kenapa? jika kamu ingin buat suatu masalah lagi, mamah tidak akan setuju," ucap ketus Hety.


"Aku hanya ingin tanya kabarnya saja, mah. Karena sudah cukup lama aku tak pernah berkomunikasi dengannya, sejak ia marah padaku mah. Waktu berlalu sudah lama, pasti saat ini Nara sudah tak marah lagi padaku,' ucap Tara.


Kring kring kring kring


Satu panggilan telpon masuk ke dalam nomor ponsel Nara, lantas ia pun menerima panggilan telpon tersebut.


"Hallo, maaf ini siapa ya?"


"Nara ini gwe, Tara."


"Ada apa lagi, bukankah gwe sudah katakan pada loe waktu itu. Supaya nggak usah hubungi gwe lagi. Kenapa loe keras kepala sih?"


"Nara, itu kan sudah berlalu cukup lama. Masa iya loe masih saja ingat hal itu? dan belum juga memaafkan gwe?"

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan loe, lantas untuk apa lagi?"


"Nara, gwe hanya ingin tanya bagaimana kabar loe? dan loe akan kuliah dimana?"


"Kabar gwe baik, loe nggak perlu tahu gwe mau kuliah dimana karena ini bukan urusan loe. Sebaiknya tak usah loe hubungi gwe lagi. Karena setiap loe menelpon gwe, itu akan membuat gwe ingat lagi semua kelakuan loe dulu pada gwe. Luka lama terlihat lagi."


Saat itu juga, Nara menutup panggilan telepon dari Tara. Ia begitu kesal setelah mendapatkan telpon dari Tara.


"Nara, kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Ibu Resy.


"Nggak ada apa-apa kok, bu," jawab Nara berbohong.


"Nara, ibu tadi dengar ada yang menelpon mu. Sepertinya itu Tara, iya kan?" tanya Bu Resy menyelidik.


"Iya, Bu. Tadi Tara menelpon."


Akhirnya Nara pun jujur pada ibunya, karena sudah terlanjur ibunya mengetahuinya.


"Nara, berapa kali ibu katakan padamu. Tak baik jika kamu terus menyimpan kesalahan orang lain. Jika kamu tak mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah pasti juga tak akan memaafkan kesalahanmu," ucap Bu Resy.


"Bu, aku sudah memaafkan Tara. Tapi bukan berarti aku harus bersikap baik padanya dan bersahabat dengannya lagi," ucap Nara.


"Ya sudahlah, ibu percaya padamu."


Bu Resy sudah tak ingin lagi berkata tentang Tara, karena yang ada nantinya Nara menjadi emosional atau berselisih paham dengan dirinya.


"Nara, ibu tak bisa berkata lagi padamu. Karena ibu yakin kamu bisa memilah mana yang baik dan yang buruk. Ibu percaya, kamu ini sudah dewasa," batin Bu Resy.


Sementara Tara bermuram durja setelah menelpon Nara.

__ADS_1


"Gwe pikir, setelah sekian lamanya. Nara sudah tak marah pada gwe. Ternyata gwe salah, gwe sudah tak bisa lagi dekat dengannya walaupun hanya sebatas menjadi seorang temen," keluh kesah Tara.


__ADS_2