Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Mulai Menyelidiki Tentang Nara


__ADS_3

Perjalanan pulang dari kampus, Nara lagi-lagi tak sadar jika sudah di ikuti oleh mobil seseorang. Mobil yang pemiliknya diam-diam mengagumi dan cinta pada pandangan pertama. Nara kini mendapatkan fans baru yang akan bersaing dengan Andre.


"Hem, ternyata rumah Nara di sini. Anak orang kaya juga tapi kenapa ia memakai motor tak seperti gadis pada umumnya. Yang menomor satukan gengsinya," gumam pemuda ini dari balik kemudinya.


Ia masih belum puas mengamati Nara, lagi-lagi ia tercengang pada saat melihat Nara menyebrang jalan menuju ke sebuah toko besar bertuliskan TOKO OLEH-OLEH NARA.


"Bannernya memakai nama Nara, apakah itu benar-benar memang toko cemilan milik Nara?" batinnya semakin penasaran.


Hingga pemuda ini memutuskan untuk menyambangi toko cemilan yang lumayan besar tersebut. Tetapi ia sengaja menunggu Nara kembali ke rumahnya terlebih dahulu.


Setelah ia benar-benar melihat Nara kembali menyeberang dari toko oleh-oleh ke rumah. Ia pun melajukan mobilnya menyeberang jalan menuju ke toko oleh-oleh Nara.


Pemuda ini langsung mendapatkan sambutan yang baik yang ramah oleh para pelayan toko tersebut. Ia sengaja masuk untuk melihat-lihat dan dia begitu terpana karena begitu banyak beraneka macam cemilan dan semua diberi label oleh-oleh Nara.


"Mbak, maaf. Mau tanya, ini semua diproduksi oleh Nara yang ada di label ini?" tanya pemuda itu menyelidik.


"Iya, mas. Non Nara yang rumah di seberang jalan itu loh, mas."


Seorang pelayan menunjuk ke arah rumah Nara.


Pemuda itu penasaran dengan rasa cemilan tersebut hingga ia pun membeli banyak macam cemilan yang ada di toko oleh-oleh Nara.


"Penasaran juga bagaimana rasanya, wah ini ada nomor ponselnya juga. Nanti aku akan coba hubungi nomor ini," gumamnya seraya tersenyum.


"Mbak, terima kasih ya."


"Iya, mas. Semoga menjadi langganan ya."


Pemuda ini membawa kardus berisi beberapa cemilan yang dia beli di toko oleh-oleh Nara dan meletakkan di dalam mobil Nara. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju arah pulang dengan begitu puas, karena bisa mengetahui di mana rumah Nara.

__ADS_1


"Aku penasaran loh, apa memang ini usaha Nara pribadi ataukah hanya namanya saja yang digunakan oleh orang tuanya untuk label usaha orang tuanya?" gumamnya terus saja berpikir kerasa tentang Nara.


Pemuda ini benar-benar telah jatuh cinta pada Nara, sehingga ia ingin menyelidiki lebih lanjut tentang pribadi Nara.


Tak berapa lama pemuda ini telah sampai di rumah mewahnya di sebuah kawasan pusat kota J. Ia pun keluar dari mobil dengan membawa kardus besar berisi cemilan tersebut.


Orang tuanya yang kebetulan sedang bersantai di teras halaman merasa heran, melihat anaknya membawa kardus besar. Suami istri ini langsung memicingkan matanya.


"Wildan, apa yang kamu bawa itu?" tanya Mama Rifda penasaran.


"Ini mah, aku tadi iseng beli beberapa cemilan ini," ucap Willdan.


Ia pun membuka kardus cemilan tersebut dan menunjukkan isinya pada mamah dan papahnya.


"Loh, ini kan cemilan langganan mamah sama papah," ucap Papah Rendra.


"Masa sih, pah-mah?" Willdan masih belum percaya.


"Aku pikir namanya saja yang hanya digunakan oleh orang tuanya untuk memberikan nama pada tokonya, berarti ini benar-benar produksi Nara, mah?" tanya Willdan masih belum percaya.


"Iya, Wildan. Bahkan di samping cantik dia juga sangat ramah, karena mamah sering ketemu dia pada saat dia sesekali ada di toko," ucap Mamah Rifda.


"Kok kamu bisa membeli semua cemilan ini, biasanya kamu itu nggak pernah mau untuk membeli hal-hal seperti ini," tanya Papah Rendra heran


"Iya, karena aku sedang menyelidiki salah satu mahasiswiku yang bernama Nara. Dan pada saat aku ikuti motornya sepulang kuliah, ia juga masuk ke toko oleh-oleh Nara ini, pah," ucap Willdan tanpa ada rasa malu menceritakan hal ini pada orang tuanya.


"Cie-cie, sepertinya Mas Willdan sedang jatuh cinta," goda Mita adiknya yang saat ini duduk di bangku SLTA tepatnya baru masuk kelas satu.


"Nggak sopan banget dech, baru datang saja langsung ikut ngomong," rajuk Willdan melirik sinis pada adiknya.

__ADS_1


"Yeee nggak apa-apa kali, mamah dan papah saja nggak komplen kok kenapa Mas Wildan komplen?" protes Mita.


"Sudah dech, kalian ini kalau ketemu pasti seperti ini. Tapi kalau nggak ada salah satunya, pasti saling menanyakan. Mah, dimana Mas Wildan kok nggak kelihatan. Mah, dimana Mita kok nggak kelihatan?" goda Mamah Rifda.


Baik Wildan maupun Mita sama-sama tersenyum malu.


"Namanya saja kakak beradik ya jelaslah saling cari mencari kalau nggak terlihat satu sama lain," ucap Willdan terkekeh.


"Betul itu, Mas. Walaupun kerap kali kita sering berselisih paham seperti tadi," ucap Mita membenarkan perkataan Kakaknya.


"Hem, kamu membela Mas pasti karena ada maunya iya kan?" goda Wildan menaik turunkan alisnya.


"Hhee Mas Wildan tahu saja dech, memang aku sedang ada maunya. Ada tugas dari sekolah yang tak aku mengerti. Ajarin aku mas, please." pinta Mita pasang wajah memelas.


"Hem, benarkan? ada maunya, yuk aku ajarin sekarang juga mumpung aku ada waktu," ajak Wildan.


Kakak adik ini langsung masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah, dimana Mita sudah membawa semua peralatan belajarnya. Sementara orang tuanya tetap asik di teras halaman dengan memakan cemilan yang barusan di beli oleh Wildan.


"Pah, apa Willdan suka ya sama Nara? hingga menyelidiki seperti itu?" tanya Papah Rendra penasaran.


'Bisa jadi itu, pah. Apalagi kan mereka satu kampus yang sama. Mungkin saja Wildan mengajar di kelas dimana ada Nara," ucap Mamah Rifda.


"Syukur dech kalau Willdan sudah bisa move on dari si Tia. Semoga kali ini Willdan berjodoh dengan Nara ya, mah," ucap Papah Rendra.


"Amin, ya pah. Kasihan jika ingat bagaimana Willdan di hianati oleh Tia di depan matanya. Bahkan terang-terangan mengundang Willdan di pesta pernikahannya," ucap Mamah Rifda seraya menghela napas panjang.


"Sudahlah, mah. Ini kan sudah menjadi masa lalunya. Semoga saja Willdan bisa meraih kebahagiaan untuk masa depannya," ucap Papah Rendra.


"Iya, pah. Kita dukung saja apa yang menjadi pilihan Willdan saat ini, yang terpenting anak kita bahagia," ucap Mamah Rifda.

__ADS_1


Mereka terus saja asik membicarakan anak sulungnya yang satu tahun lalu patah hati karena di hianati oleh kekasihnya dengan tiba-tiba menikah dengan pria lain.


__ADS_2