Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Ulang Tahun


__ADS_3

Satu bulan kemudian rumah produksi yang baru sudah mulai digunakan, para pekerja yang baru juga sudah mulai bekerja di rumah produksi yang baru tersebut.


Permintaan para konsumen untuk cemilan dari Nara semakin hari semakin besar semakin bertambah dan berkembang lebih banyak lagi.


"Alhamdulillah ya bu, adanya rumah produksi yang baru usaha cemilan kita juga semakin maju semakin bertambah banyak," ucap syukur Nara seraya tersenyum lepas.


"Iya Nara, permintaan begitu banyak jadi tidak sia-sia kita mempunyai rumah produksi baru. Bahkan kita juga mampu membeli kendaraan sendiri untuk transportasi pengiriman barang ke luar kota, karena lebih praktis kita menggunakan transportasi sendiri daripada kita melalui sistem paket ongkosnya begitu mahal," ucap Bu Resy.


"Ayah bangga loh sama anak gadis ayah, masih muda belia tapi sudah sukses usahanya." Ayah Bimo mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum ke arah Nara.


"Adanya seorang anak sukses itu juga karena dukungan dari kedua orang tua terutama doa. Jika ayah dan ibu tidak mendukung aku dan tidak mendoakan aku mungkin aku tidak akan sukses seperti sekarang ini," ucap Nara.


"Tapi ingat satu hal ya Nara, sesukses apapun dirimu harus ingat untuk berbagi rezeki kepada yang membutuhkan. Juga tidak boleh takabur atau sombong," pesan Ayah Bimo.


"Itu nomor satu ayah, aku tidak akan pernah melupakan segala pesan dari ayah maupun ibu," ucap Nara tersenyum riang.


"Tumben Wildan nggak kemari, Nara? biasa jika hari libur ia sudah datang kemari," tanya Bu Resy.


"Entahlah, Bu. Tadi aku mencoba menghubungi nomor ponselnya tetapi tidak ada yang aktif," ucap Nara.


"Atau mungkin sedang sibuk mengurus pekerjaan kantornya," ucap Ayah Bimo.


"Masa iya hari Minggu hari libur masih saja mengurus pekerjaan kantor? ayah ini bagaimana sih?" celetuk Bu Resy.


"Memangnya Ibu nggak pernah melihat apa? jika di hari libur pun sesekali ayah berkutat di depan laptop di ruang kerja?" ucap Ayah Bimo.


"Iya juga sih, mungkin seperti ayah juga," ucap Bu Resy.


"Happy birthday to you happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday to you."


Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyanyikan lagu ulang tahun tepat di depan pintu ruang tamu.

__ADS_1


"Panjang umur, sedang dibicarakan orangnya datang," ucap Bu Resy terkekeh.


"Waduh, berarti dari tadi tante-Om dan Nara sedang membicarakan aku ya? pantas saja telingaku terasa panas," ucap Wildan.


Ia meletakkan kue ulang tahun di meja ruang tamu beserta beberapa makanan yang ia pesan dari restoran. Ia di bantu oleh sopir pribadinya karena kebetulan ia pagi ini tak menyopir sendiri.


"Mas, memang siapa yang ilang tahun?" tanya Nara heran.


"Hem, masa hari lahir sendiri lupa? nggak lucu," Willdan mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun, Mas Wildan. Aku memang lupa, coba aku lihat kalender dulu."


Nara bangkit dari duduknya melihat kalender yang tak jauh dari ruang tamu, dia baru menyadari jika hari ini memang hari lahirnya.


"Kenapa dari tadi ayah dan ibu juga diam saja? tidak mengatakan kalau hari ini hari ulang tahunku," Nara tersenyum kecut


"Hehehe kami sengaja melakukan itu, kami juga tahu kok Wildan akan datang kemari dengan membawa kejutan untukmu," ucap Bu Resy terkekeh.


"Sudah dong acara ngambeknya, sebaiknya kita lanjut acara tiup lilin dan potong kue. Jangan lupa doa apa yang kamu inginkan supaya tercapai di usiamu yang bertambah tua ini," ucap Ayah Bimo.


Saat itu juga keluarga Nara merayakan ulang tahun Nara secara sederhana, beserta Wildan. Dan setelah tiup lilin serta potong kue, tak lupa sejenak Nara berdoa.


"Ya Allah, di hari ulang tahunku ini aku tak banyak keinginan. Hanya ucapan rasa syukur yang teramat sangat padaMu atas nikmat dan anugerah yang Engkau berikan selama ini padaku."


"Engkau begitu baik, dengan menjauhkan aku dari orang yang tidak baik dan mendekatkan aku dengan Mas Wildan."


"Aku yakin tanpa banyak aku meminta padamu di hari ulang tahunku ini, semua yang baik akan kamu berikan padaku."


"Aku yakin, tak perlu aku sebutkan satu persatu keinginan yang ada di hati ini. Engkau telah mengetahuinya."


Setelah itu mereka pun menyabtap ramai-ramai kue ulang tahun tersebut.

__ADS_1


"Mas Wildan, kenapa tante-Om dan Mia nggak di ajak sekalian kemari!" tanya Nara seraya asik makan kue tersebut.


"Kebetulan mereka sedang ada acara keluarga yakni menghadiri acara tujuh bulanan saudaraku ya ganda di kota S. Kemungkinan mereka pulang besok pagi," ucap Willdan.


"Waduh kasihan sekali, jadi Mas Wildan sendirian dong di rumah?"


"Ya nggaklah, kan ada bibi, mamang, Ujang dan security. Banyak orang kok di rumah aku jadi nggak kesepian, karena aku juga sudah anggap mereka semua itu keluargaku sendiri," ucap Wildan.


Memang Willdan dan orang tuanya sangat baik terhadap semua orang. Bahkan terhadap para asisten rumah tangga, tukang kebun, security, sopir, dan pekerja yang lainnya yang ada di rumah. Tidak membedakan, dan selalu saja ramah dan tidak sombong.


Ini yang membuat para pekerja di rumahnya bertahan lama kerja bersama keluarga Wildan. Karena majikan mereka yang sangat baik dan tidak pelit. Ini juga yang membuat perusahaan Wildan juga berkembang pesat. Juga perusahaan Papah Rendra juga alami perkembangan yang sangat pesat.


Cukup lama mereka bercengkrama, dan Willdan ingin sekali mengajak AmNara healing seperti biasa jika hari libur ia pasti menyempatkan diri untuk healing berdua bersama Nara.


"Tante-om, bolehkah aku mengajak Nara untuk healing sejenak?" tanya Wildan untuk memastikan.


"Silahkan saja, tapi pulangnya jangan melewatkan jam enam sore. Dan kalian berdua yang hati-hati di jalan," pesan Ayah Bimo.


Saat itu juga Nara bergegss masuk ke kamar untuk sejenak berganti pakaian. Setelah itu ia melangkah bersama dengan Wildan menuju ke mobil Willdan.


"Pak, antar kami ke tempat wisata yang sedang ramai ya? yang sempat tadi aku katakan pada saat kita masih ada di jalan," pinta Wildan pada sopir.


"Baiklah, Den."


Melajulah mobil Willdan menuju ke sisru tempat wisata yang sedang viral dan banyak sekali pengunjungnya.


"Sayang, kamu pasti belum pernah kemari kan?" tanya Willdan.


"Jelaslah, aku ini kan anak rumahan nggak pernah keluyuran," ucap Nara.


"Pasti Mas Wildan sudah sepi kemari ya?" Nara balik bertanya.

__ADS_1


"Kamu salah Nara, aku juga sama seperti dirimu nggak suka keluyuran. Aku keluyuran seperti ini pada saat kena kamu," ucap Wildan akan tetapi Nara tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Wildan.


__ADS_2