
Mamahnya merasa iba juga melihat kondisi Tya yang semakin hari terlihat semakin kusut dan berantakan sekali. Tya lontsng lanting setiap hari kerjanya hanya memata-matai segala aktifitas Willdan.
"Aku harus bagaimana ya, supaya Tya tidak seperti ini. Jika dulu suamiku tidak memaksakan Tya menikah dengan anak sahabatnya itu, pasti saat ini Tya sudah bahagia pilihan hatinya sendiri."
"Tetapi nasi sudah menjadi bubur dan takkan bisa berubah lagi menjadi nasi. Akan sampai kapan juga Tya merasa kecewa seperti itu ya? apakah sebaiknya aku dan suamiku datangi saja rumah Wildan?"
"Biarlah kami mengesampingkan ego kami yang penting Willdan bisa kembali pada Tya. Ya hanya cara ini saja yang bisa di lakukan untuk saat ini."
Hingga pada akhirnya Mamah Mia benar-benar akan menyambangi rumah Wildan dengan mengajak serta suaminya.
"Pah, aku ingin bicara denganmu sebentar saja bisa kan?" tegur Mia pada Meo yang sedang asik membaca surat kabar.
"Iya mah, bisa. Katakan saja memangnya ada apa sih, kok raut wajah mamah terlihat sangat serius seperti itu?" Meo pun menutup surat kabarnya dan ia fokus melihat ke arah istrinya.
"Pah, temani aku ke rumah Wildan sekarang juga yuk?" ajak Mia.
"Untuk apa sih mah, kita datang ke sana bikin malu saja?" ucap Meo tak suka.
"Untuk meminta maaf pada Wildan dan orang tuanya," ucap Mia sekenanya.
"Papah nggak mau mah, malulah," tolaknya ketus.
"Apa papah tidak melihat kondisi, anak kita saat ini? sejak ia di ceraikan oleh suaminya, ia menjadi murung. Dan pada saat ia ingin meminta balikan lagi pada Willdan, katanya baik Wildan maupun orang tuanya tak mau memberinya kesempatan," ucap Mia menjelaskan.
"Lah seperti tidak ada pria lain saja! masih banyak pria yang lebih baik dari Willdan, kenapa pula harus kembali padanya? apa kamu tak menasehati Tya supaya membuka hati untuk pria lain saja? terang saja ia di tolak mentah-mentah oleh Wildan dan orang tuanya," ucap Meo.
"Itu semua karena kesalahan kita kan, kenapa pula papah tak mau barang sejenak mengesampingkan ego. Siap tahu saja jika kita yang kesana, baik Wildan atau pun orang tuanya tak lagi benci pada Tya. Dan siapa tahu saja, mereka bisa memaafkan Tya," rengek Mia terus saja membujuk suaminya supaya bersedia menemani dirinya ke rumah Wildan.
Sejenak Meo hanya diam saja, seolah ia sedang berpikir dengan segala perkataan yang barusan diucapkan oleh istrinya. Hingga pada akhirnya ia pun menyetujui kemauan istrinya tersebut.
"Ya sudah ayo kita ke rumah Wildan sekarang juga," ajak Meo dengan penuh keterpaksaan.
__ADS_1
Saat itu juga Mia dan suaminya melangkah menuju ke garasi mobil dan saat itu juga Meo melajukan mobilnya ke arah rumah Wildan.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di pelataran rumah Wildan. Kebetulan Wildan juga pulang ke rumah sejenak karena ada sesuatu berkas kantor yang tertinggal di rumah.
"Untuk apa pula orang tua Tya datang kemari menyebalkan sekali," batin Wildan kesal pada saat melihat kedatangan orang tua Tya.
"Wildan, apa kabarmu?" sapa Mamah Mia menyunggingkan senyuman seraya mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah baik," Tante."
Dengan senyum keterpaksaan Wildan membalas uluran tangan Mamah Mia dan juga Papah Meo.
"Silahkan masuk saja, om-tante. Mohon maaf karena kebetulan saya sedang ada meeting dan terburu-buru. Ini pulang juga karena ada berkas yang tertinggal di rumah."
Namun pada saat Willdan akan melangkah menuju mobilnya sejenak Mamah Mia menahan kepergiannya.
"Wildan tunggu sebentar jangan pergi dulu, apa memang benar-benar tidak ada waktu sedikit saja untuk mendengarkan apa yang ingin kami bicarakan padamu," bujuk Mamah Mia memelas.
"Kemarin anaknya yang datang mengemis-ngemis maaf, sekarang tinggal orang tuanya. Lihatlah mah, mereka sama sekali tidak punya rasa malu sedikit pun setelah apa yang mereka lakukan pada, Wildan," ucap Papah Rendra merasa tak suka melihat kedatangan orang tua Tya.
Akhirnya Wildan pun mengajak orang tua Tya untuk menemui orang tuanya.
"Mah-pah, ini Tante dan Om katanya ingin bicara. Aku pergi dulu ya mah-pah, karena terburu-buru sedang memimpin meeting."
Saat itu juga Wildan pergi tanpa menghiraukan orang tua Tya.
"Mba-mas, mohon maaf ya kedatangan kami mungkin mengganggu waktu istirahat kalian," ucap Mamah Mia.
"Sudahlah katakan saja apa maksud kedatangan kalian kemari, tak usah berbadan basi segala," ucap Papah Rendra ketus.
"Pah, jangan seperti itu dong," tegur Mamah Rifda lirih seraya menyikut suaminya.
__ADS_1
"Duduklah, Mba Mia-Mas Meo." Pinta Mamah Rifda.
Suami istri itupun duduk di teras halaman, di temani oleh orang tua Wildan.
"Mba Rifda-Mas Rendra, kami datang kemari untuk meminta maaf atas kesalahan kami di masa lalu."
"Yang salah itu kamu bukan Tya, kami yang telah memaksanya untuk menerima perjodohan kami."
"Tolong jangan benci anak kami, mba- mas. Karena ia benar-benar tidak bersalah sama sekali."
Mendengar apa yang di katakan oleh Mamah Mia, justru membuat Papah Rendra tersenyum sinis.
"Sudah aku duga, lantas untuk apa pula kalian kemari meminta maaf? pasti ujung-ujung supaya anak kalian bisa kembali pada Willdan kan?"
"Misalkan Wildan mau pun kami tak akan memberi restu dan takkan setuju. Tetapi kalian lihat sendiri kan, bagaimana reaksi anak kami pada saat melihat kedatangan kalian?"
"Itu karena ia sudah teramat kecewa dengan perlakuan Tya dan kalian berdua yang pada waktu itu begitu menghina anak kami."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Papah Rendra, membuat amarah Papah Meo tak bisa di kendalikan. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Mah, bukankah sudah aku katakan tadi. Percuma saja kita datang kemari yang ada kita hanya di permalukan saja. Sebaiknya kita pulang saja. Percuma kita mengemis maaf di sini."
Saat itu juga Papah Meo berlalu pergi tanpa pamit dari rumah orang tua Wildan. Hal ini tentu saja membuat Mamah Mia bertambah malu.
"Mas-Mba, maafkan sikap suami saya ya. Kalau begitu saya permisi pamit pulang, dan terima kasih atas waktunya."
Saat itu juga Mamah Mia bangkit dari duduknya dengan terburu-buru mengejar suaminya yang sudah duduk di depan kemudinya.
"Pah, kamu itu malah menambah runyam suasana saja. Seharusnya tahan sedikit rasa emosimu demi anak kita!"
"Apa kamu mau terjadi hal buruk pada Tya? bukankah kamu tahu jika Tya itu suka nekad?"
__ADS_1
Terus saja Mamah Mia protes dengan sikap kekanak-kanakan suaminya barusan.