
Mendengar akan hal itu, Andre hanya mengangguk pelan tanpa berani membantah.
Setelah sejenak menegur Andre, Wildan kembali ke depan. Ia mulai fokus lagi dalam mengajar semua muridnya. Akan tetapi Andre tetap saja tidak bisa fokus, ia malah semakin menggerutu di dalam hatinya setelah mendapatkan teguran dari Willdan.
"Kenapa pula aku tak melihat kedatangan dari dosen itu! huh menyebalkan sekali, mentang-mentang ia dosen hingga semaunya sendiri! aku yakin ia menghukum aku karena ia tak terima aku duduk di samping Nara! Hem secara otomatis ia itu dendam padaku! licik juga tuh dosen, dengan menggunakan kekuasaannya seenaknya sendiri!" batin Andre sangat kesal.
"Jika aku tak punya hati nurani pasti aku sudah membongkar percintaannya dengan Nara. Tetapi aku tak tega jika Nara menjadi terkena imbasnya juga. Jika aku hanya memikirkan egoku saja sudah aku sebarkan seantero kampus jika tuh dosen pacaran dengan Nara," batin Andre masih saja menggerutu.
Pelajaran pun tak terasa sudah usai, dan Willdan dengan berat hati harus meninggalkan kelas Nara. Entah kenapa ia sangat berat jika berpisah dengan Nara. Padahal setiap hari pun ia selalu saja bertemu dengan Nara.
Tetapi jika meninggalkan Nara di kampus, ia begitu tak rela karena ia tahu ada dia pemuda yang menyimpan rasa suka pada Nara.
"Jika tak ada pemuda yang suka pada Nara, pasti aku akan tenang meninggalkan Nara sendirian. Kalau tidak, ada yang mengungkapkan rasa cinta pada Nara tapi jangan di hadapan aku. Hingga aku tak selalu khawatir seperti ini."
"Padahal dulu pada saat aku berpacaran dengan Tya tidak merasakan takut kehilangan seperti ini. Tapi entah kenapa dengan Nara aku selalu khawatir, ia akan pergi dari hidupku begitu saja."
Wildan terus saja menggerutu di dalam hatinya tiada hentinya sepanjang perjalanan menuju ke ruangan dosen.
Ia begitu terkejut pada saat sampai di ruang dosen. Karena ada dua dosen wanita yang sedang berdebat satu sama lain memperebutkan dirinya.
Bahkan pada saat ia datang, langsung saja dua dosen wanita itu mencekal lengan kanan dan kiri Wildan, membuat nya tersentak kaget.
"Bu, ada apa ini? kok kalian mencekal saya seperti ini?" tanya Wildan heran.
"Pak Wildan, katakan pada Bu Endang kalau anda lebih memilih saya kan?"
__ADS_1
"Halah, anda bohong. Pak Wildan sukanya pada saya. Iya kan pak?"
Wildan merasa kesal karena kedua tangannya di tarik ke kanan dan ke kiri oleh dua dosen wanota yang statusnya perawan tua.
"Hentikan!" Wildan menepis kedua lengannya yang di cekal oleh dua dosen wanita.
"Bu Endang -Bu Eka! saya tidak memilih satupun diantara kalian berdua, karena saya sudah punya calon istri. Jadi jangan bersikap seperti ini, sungguh memalukan. Apa kalian tidak malu dengan diri sendiri? aku saja malu dengan sikap kalian seperti ini!" ucap lantang Wildan tak suka dengan sikap dua dosen wanita itu.
Setelah mendapatkan teguran kasar dan penolakan dari Willdan, kedua dosen wanita tadi pergi dari hadapan Wildan dengan tertunduk malu.
Wildan terus saja murung selama di dalam ruangan dosen tersebut. Ia segera mengemasi semua peralatan mengajarnya dan bergegas pergi meninggalkan ruangan dosen tersebut.
Sementara dosen pria lainnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut merasa heran pada saat melihat Wildan pergi dengan wajah murung. Akan tetapi mereka tak berani bertanya apa pun pada Willdan atau pun pada dua dosen wanita tersebut. Mereka hanya saling berbisik-bisik satu sama lain.
Wildan melangkah kesal menuju ke parkiran mobil.
Setelah itu ia pun langsung melajukan mobilnya menuju arah pulang terlebih dahulu. Setelah itu ia akan datang ke rumah Nara untuk membantu di toko oleh-olehnya.
Dengan langkah cepat ia masuk menuju ke kamarnya dan segera berganti pakaian tanpa menunggu lama lagi ia masuk kembali ke dalam mobilnya yang masih terparkir di pelataran rumahnya.
Sikap Wildan yang begitu terburu-buru menjadi tanda tanya bagi orang tuanya.
"Willdan, kenapa kamu sepertinya gugup sekali? memang ada keperluan yang mendadak atau bagaimana tanya?" Papah Rendra penasaran.
"Aku akan ke toko oleh-oleh Nara, pah. Karena kebetulan Nara sedang mendapatkan pesanan yang begitu banyak, aku ingin membantunya," jawab Wildan sekenanya.
__ADS_1
"Kamu sering sekali menelantarkan perusahaanmu demi urusan toko oleh-oleh Nara, apa tidak apa-apa Wildan?" tegur Mamah Rifda.
"Tidak apa-apa, mah. Bukannya hal ini sudah sering kali aku lakukan pada saat belum bersama dengan Nara. Kasihan juga Nara, mah. Aku nggak ingin dia terlalu capek," ucap Wildan.
"Kenapa kamu tidak mengusulkan kepada Nara supaya menambah pekerja lagi, supaya semuanya bisa teratasi dengan cepat dan tidak terlalu memakan waktu yang lama?" saran Mamah Rifda.
"Iya Wildan, apa yang disarankan oleh mamah ada benarnya," ucap Papah Rendra.
"Iya pah-mah, nanti aku akan membicarakan hal ini dengan Nara. Terima kasih ya mah-pah, saran kalian memang sangat luar biasa bagus."
Wildan mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum ke arah kedua orang tuanya.
Wildan pun melanjutkan rencananya untuk segera pergi ke toko oleh-oleh Nara. Dengan gerak cepat Wildan melajukan mobilnya.
Hanya beberapa menit saja mobil Wildan sudah sampai di pelataran toko oleh-oleh Nara, ia pun menepikan mobil di tempat yang strategis. Setelah itu keluar dari mobil melangkah menuju ke rumah produksi usaha cemilan Nara untuk membantunya.
"Mas Wildan, kamu pulang langsung ke sini? pasti belum makan siang seperti biasanya ya? ini kebetulan aku sudah menyiapkan makan siang tapi maaf ya ini cuma masakan kampung biasa mengambil dari rumahku, bukan masakan restoran. Makanlah terlebih dahulu, Mas."
Nara memberikan rantang berisikan bekal makanan yang sengaja ia ambil dari rumahnya kepada Wildan.
kyarena kebetulan Wildan sudah merasakan lapar yang teramat sangat, ia pun tidak menolak dengan pemberian makan siang dari Nara. Langsung saja ia melahap makanan yang ada di rantang tersebut.
Bahkan ia memuji jika masakan tersebut begitu nikmat.
"Ini luar biasa nikmatnya, Nara. Tak kalah dengan masakan yang ada di restoran-restoran," puji Wildan.
__ADS_1
Bahkan ia malu menambah porsi makannya. Nara dan semua pekerja yang melihat hal itu hanya senyam-senyum saja. Tak berani berkomentar apa pun karena tak ingin membuat Wildan menjadi malu.
"Alhamdulillah, Mas Wildan doyan masakan kampung. Ia sama sekali tidak pernah pilih-pilih terhadap makanan," batin Nara.