
Nara menyeringai sinis, pada saat melihat Tara salah tingkah setelah melihat video percakapan dirinya antara Tara, Ara, juga Laura.
"Kenapa loe diam saja, coba loe jelaskan apa maksud perkataan loe pada Ara?" tanya Nara ketus.
"Sialan, pasti ini ulah Ara. Kenapa gwe nggak tahu pada saat Ara merekamnya?" batin Tara bingung ia harus berkata apa pada Nara.
"Tara, gwe tahu saat ini loe sedang bingung kan? baiklah dari sikap loe yang diam itu, gwe dapat menyimpulkan jika apa yang ada di video ini benar-benar loe," ucap Nara.
"Tara, kenapa loe nggak berani menatap ke arah gwe? kenapa loe terus tertunduk? memangnya loe masih punya urat malu?" Nara sengaja memojokkan Tara.
"Loe sendiri yang mengatakan khawatir jika gwe tak bisa setia. Ternyata itu hanya omong kosong semata, justru loe sendiri yang telah berkhianat pada gwe."
Terus saja Nara berkata, akan tetapi Tara tetap diam seribu bahasa. Ia benar-benar sudah mati kutu karena video tersebut.
"Tara, mungkin memang kita tak berjodoh. Dan aku sudah putuskan loe gwe end. Sudah tak ada lagi yang bisa kita pertahankan. Karena loe itu tak bisa setia dan tak bisa jalani hubungan jarak jauh."
"Hanya satu pesan gwe, supaya loe jangan pernah menyakiti cewe loe yang sekarang. Cukup loe lakukan ini ke gwe saja."
"Setelah ini gwe juga akan menjauh dari hidup loe untuk selamanya."
Setelah mengucapkan kata perpisahan, Nara menutup via video call. Bahkan pada saat Tara memanggil ulang, Nara terus saja merijeknya.
Saat itu juga Nara memblokir nomor ponsel Tara.
"Nggak penting pula cowok seperti Tara. Sudah di kasih hati minta rempela," batin Nara kesal.
Sementara di sana, Tara terus saja gelisah karena ia sudah terjebak dalam permainannya sendiri. Awalnya ia gunakan hanya untuk iseng saja dikala jenuh dengan Nara.
"Jika sudah begini lantas gwe bisa apa? Nara sudah memutuskan gwe, padahal hanya ia wanita yang sangat gwe sayang dan bisa mengerti gwe. Jika terhadap Laura kami hanya saling kagum " batin Tara.
__ADS_1
Tara bingung sendiri, ia tak bisa curhat ke Hety seperti biasanya. Karena ini adalah kesalahan fatal ia. Dan pastinya Hety akan sangat kecewa dengannya. Hingga ia tutup sendiri rasa itu.
"Untuk sementara biarlah, dan aku akan fokus sekolah demi kelulusanku. Nanti aku akan datang ke kota J untuk menemui Nara di saat liburan lagi.
Tara menggampangkan permasalahannya dengan Nara. Ia sangat yakin jika ia menyambangi rumah Nara dan meminta maaf. Pasti Nara akan selalu memaafkan dan memberinya beribu kali kesempatan.
Justru Tara telah berencana untuk membuat perhitungan pada Ara yang telah membuat hubungan percintaannya dengan Nara berantakan.
"Besok pagi gwe akan temui Ara dan bertanya kenapa pula ia begitu jahat padaku. Padahal gwe tak pernah usik kehidupannya."
Berbeda situasi di tempat Ara, dia saat ini sedang tertawa bahagia.
"Gwe yakin setelah ini pasti Nara benar-benar akan putuskan Tara. Dan pada saat itu gwe akan mendekati Nara lagi. Walaupun saat ini dia tak ada di kota ini," batinnya senang.
***"***
Pagi menjelang, Tara lekas ke sekolah karena ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ara. Dan sudah tak sabar ingin membuat perhitungan dengan dirinya.
Tiba-tiba Tara memukul perut Ara dua kali.
Mendapatkan serangan mendadak, Ara begitu kaget dan tak bisa melakukan perlawanan. Akan tetapi setelah sejenak menahan rasa sakit karena pukulan tersebut, ia pun membalas pukulan dari Tara dengan memukul balik perut Tara.
Hingga di pagi hari pada saat semua siswa dan siswi baru datang ke sekolah di hebohkan oleh aksi pukul memukul Tara dan Ara. Salah satu siswa pun memberanikan diri melaporkan kejadian itu ke kantor guru.
Hingga tak berapa lama, salah satu guru datang di lokasi dimana saat ini Tara dan Ara terus saja saling baku hantam.
"Hentikan, apa-apaan kalian? di pagi hari sudah membuat keributan seperti ini? sebenarnya apa yang membuat kalian ribut? sekarang juga kalian ke ruangan guru!" bentak guru tersebut memaksa Tara dan Ara ke ruang guru.
"Sialan! ini semua gara-gara ulah loe!" bentak Ara menunjuk kasar ke arah Tara.
__ADS_1
"Justru loe yamg sudah terlebih dulu memancing emosi gwe!"
Keduanya terus saja berdebat pada saat melangkah ke ruangan guru. Setelah sampai mereka di minta duduk berdampingan.
"Sekarang jelaskan kenapa kalian tadi saling pukul di sekolah?" tanya sang guru kesal seraya menatap tajam ke arah Tara dan Ara.
"Semua gara-gara Ara, Bu. Ia yang telah berulah terlebih dahulu dengan berusaha merebut pacarku," ucap Tara kesal.
"Nggak, Bu. Aku sama sekali tak pernah dekat dengannya, bagaimana bisa aku rebut pacarnya. Aku juga tak tahu pacar Ronald siapa, Bu," kilah Ara membela dirinya.
Bu guru yang mendengar alasan kedua murdnya ini hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya yang kalian pikirkan saat ini itu sekolah, pendidikan, nilai kalian. Apa lagi kalian sudah ada di kelas tiga. Dimana akan banyak sekali ujian dan macam-macam. Apa kalian ingin lulus dengan nilai buruk?" tanya Bu guru.
'Nggak Bu." Serentak jawaban Ara dan Tara.
"Ya sudah sekarang kalian bermaaafan satu sama lain. Dan kali ini ibu maafkan kalian, tapi jika lain kali terulang lagi, ibu akan bertindak tegas dan memberikan sanksi pula. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas kalian," ucap Bu guru.
Seperginya Ara dan Tara, Bu guru menggerutu sendiri," hem dasar anak muda, jiwanya benar masih labil belum bisa mengontrol emosi."
Pada saat sudah ada di depan pintu masuk kelas, Tara tiba-tiba menarik kerah baju Ara dan mendorongnya ke tembok.
"Maksud loe apa sih, merekam pembicaraan gwe dan Laura? kamu kan yang kirim video percakapan itu pada Nara?" bentak Tara melotot.
"Ya, memang itu gwe. Sengaja gwe lakukan itu, supaya Nara tahu jika loe juga tak ubahnya seperti diri gwe, kita sama-sama brengseknya," ejek Ara menyeringai sinis.
"Sialan, kenapa loe masih saja turut campur urusan gwe?"
"Jelas gwe turut campur, karena gwe nggak rela loe sakiti Nara. Seperti gwe dulu sakiti dirinya. Jika loe memang sudah tak cinta sebaiknya loe katakan sejujurnya pada Nara. Bukan malah loe selingkuhin dia," ucap Ara.
__ADS_1
"Diam, loe! ini bukan urusan loe! jika loe ganggu hidup gwe lagi, loe akan lihat akibatnya!" ancam Tara melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Ara.
"Gwe sama sekali tak takut dengan ancaman loe itu," ucap Ara.