
Sesuai dengan kesepakatan antara Nara dan Willdan. Mereka bersikap seperti biasa pada saat bertemu di kampus. Karena mereka tak ingin terganggu dengan privasi mereka sebagai guru dan murid.
"Sebenarnya aku berat hati jika harus menutupi hubunganku dengan Nara di kampus ini, tetapi ingin memang jalan yang terbaik untuk kami berdua."
"Hingga Nara benar-benar siap untuk aku nikahi barulah aku akan mengungkap rahasia percintaanku dengan Nara di kampus ini. Bahkan aku akan mengundang semua yang aku kenal di kampus ini jika nanti aku menikah dengannya."
"Ya Allah semoga Engkau merestui hubungan kasihku dengan Nara sehingga kami bisa menjadi pasangan suami istri."
"Semoga tidak ada yang namanya patah hati, sakit hati atau penghianatan lagi cukup satu kali aku dihianati oleh kekasih hatiku."
Terus saja Willdan berdoa di dalam hatinya di sela kesibukannya sebagai seorang dosen di sebuah universitas ternama di kota J.
Walaupun dia telah menemukan pujaan hati dan tambahkan hatinya di kampus tersebut, tetapi ia belum mengundurkan diri menjadi seorang dosen. Dia telah memutuskan akan terus mengajar hingga Nara benar-benar lulus dari kampus tersebut.
"Aku akan berhenti menjadi seorang dosen jika Nara telah lulus kuliah dari kampus ini. Di samping aku mengajar aku juga akan memantau keseharian Nara di kampus ini. Walaupun aku percaya Nara adalah seorang gadis yang sangat baik dan setia dia tidak banyak tingkah," batin Wildan seraya menatap Nara yang kebetulan sedang menatap ke arah dirinya.
Mereka saling lempar senyum satu sama lain. Hal ini membuat Andre geram dan kesal.
"Sialan si dosen baru itu, datang-datang mencuri pujaan hatiku. Aku melihat Nara selalu saja membalas senyuman dosen itu padanya. Jangan-jangan ia telah tergoda dan bahkan jatuh cinta pada dosen itu," batin Andre seraya melirik sinis ke arah Wildan dan beralih ke arah Nara.
"Kenapa si Andre menatapku tak suka ya? oh iya aku lupa jika ia juga suka pada Nara. Ini yang harus aku waspadai, jangan sampai ada celah sedikitpun untuk Andre atau Ara bisa mendekati Nara. Jika perlu aku akan katakan pada mereka kalau aku dan Nara sudah resmi menjadi pasangan kekasih," batin Wildan seraya melirik ke arah Andre.
Siang menjelang, waktu istirahat kampus. Dengan berat hati Willdan terpaksa harus undur dari kampus karena jadwal mengajar untuk hari ini telah usai. Akan tetapi ia tak bisa untuk tidak berpamitan pada Nara.
"Nara, aku pamit ya setelah ini akan langsung ke kantor. Kamu jaga diri baik-baik, ingat loh jangan genit pada cowok karena kamu ini sudah resmi menjadi kekasihku," ucap Wildan lirih seraya celingukan kanan dan kiri khawatir ada yang melihat dirinya mendekati Nara.
__ADS_1
"Siap bos, hati-hati ya Mas Wildan. Nggak usah khawatir, percaya saja padaku. Karena tujuan utamaku kuliah ya untuk mencari ilmu. Memangnya Mas Wildan, tujuan ke kampus untuk mencari kekasih hati?" canda Nara terkekeh pelan.
Setelah sejenak berpamitan dengan Nara, Willdan melangkah pergi dari ruang kelas Nara seraya sesekali tersenyum ke arah Nara.
"Ya Allah, semoga saja hubungan percintaanku dengan Mas Wildan berjalan langgeng. Dan tidak ada suatu penghianatan seperti yang telah terjadi padaku di masa lalu," batin Nara.
Dia berharap penuh dengan hubungan percintaan dirinya bersama Wildan langgeng. Karena rasa sakit di hianati pernah ia rasakan.
Sementara saat Wildan dalam perjalanan menuju ke kantor, tiba-tiba mobilnya terhenti dengan terpaksa di tengah jalan karena di hadang oleh satu mobil yang tak asing lagi yakni mobil Tya.
"Untuk apa lagi Tya menghalangi laju mobilku padahal aku sedang terburu-buru untuk pergi ke kantor," Gumam Wildan seraya ia kesal dan keluar dari mobilnya untuk menegur tindakan Tya.
"Heh, kenapa sih kamu menghalangi laju mobilku aku itu sedang buru-buru mau ke kantor!" hardik Wildan seraya kasar mengetuk kaca mobil Tya.
Sejenak Wildan memundurkan badannya untuk membiarkan Tya lewat, ia pun keluar dari mobilnya seraya tersenyum kepada Willdan.
'Kalau tidak dengan cara seperti ini kamu tidak akan mau menemuiku lagi," ucap Tya singkat.
"Cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan padaku! karena waktu ku tak banyak aku sedang banyak pekerjaan, apalagi di kantor," pinta Wildan kesal.
"Wildan, bisakah kamu meluangkan waktu barang sejenak untuk kita bisa ngobrol lebih nyaman tidak di jalanan seperti ini?" rengek Tya akan tetapi tidak di hiraukan oleh Wildan.
"Harus berapa kali aku katakan padamu jika kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak kamu hianati aku. Untuk apa sih kamu terus saja mengganggu hidupku?" Wildan sudah tak bisa menahan rasa amarahnya lagi.
Hingga pada akhirnya, Wildan benar-benar pergi. Ia tak mengatakan apa pun lagi pada Tya, ia lekas melangkah cepat ke arah mobilnya.
__ADS_1
Sementara Tya tak tinggal diam, ia mencoba meraih lengan Wildan tapi tak tergapai. Ia malah hampir saja terjatuh. Tya berlari mengejar Wildan, akan tetapi Wildan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya.
Ia lekas memundurkan mobilnya dan lekas melakukannya. Membuat Tya terjatuh karena ia sempat memegang mobil Willdan.
"Aaahhh... Willdan.."
Teriaknya hingga semua pengemudi yang melihat hal itu menjadi heran dan menggelengkan kepalanya.
"Heh, kenapa kalian melihatku seperti itu! enyahlah kalian dari hadapanku!" teriaknya pada para pengemudi yang sempat melihat Tya.
Mereka pun mencibir keadaan Tya lantas berlalu pergi. Tya bangkit dan melangkah ke arah mobilnya. Sembari menangis, ia melajukan mobilnya arah pulang.
"Aku harus bagaimana lagi supaya bisa meyakinkan Wildan dan supaya ia mau memaafkan diriku?"
"Ini semua bukan karena mauku tapi karena keinginan orang tuaku dulu. Tapi akhirnya menjadi seperti ini."
"Pilihan orang tuaku tidaklah membuat aku bahagia melainkan malah membuat aku menjadi seorang janda di usiaku yang masih sangat muda."
"Setelah apa yang terjadi pada diriku, orang tuaku tidak bisa berkata-kata. Mereka hanya bisa berkata maaf maaf maaf saja!"
"Tapi kata maaf mereka tak lantas bisa membuat Wildan kembali lagi padaku. Justru ia semakin benci padaku!'
Tya terus saja menggerutu sendiri di dalam mobilnya seraya sesekali memukul kemudinya karena rasa kesal dengan apa yang telah menimpa pada dirinya.
Sesampainya di rumah, ia langsung berlari ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ia menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa emosi dan kekesalan hatinya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Tya, apa ia masih saja memikirkan Willdan?" batin mamahnya bertanya sendiri di dalam hati.