
Beberapa hari kemudian Tara sudah diizinkan untuk kembali ke rumah dan pada saat itu sebelum pulang, dokter terlebih dahulu membuka perban yang ada di wajahnya.
Namun Tara shock pada saat dia melihat wajahnya sendiri di dalam cermin.
"Tidak, bagaimana wajah saya menjadi seperti ini dok? mah-pah, wajahku seperti ini?" Tara menangis histeris.
Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa wajahnya menjadi buruk karena lukanya.
"Tara, kamu yang sabar ya? semua kan bisa di atasi. Jika kondisi kamu sudah benar-benar pulih kita akan pergi ke luar negeri untuk operasi plastik wajahmu, jadi kamu tak usah khawatir akan hal ini," ucap Hesa mencoba menghibur Tara.
"Tara, loe jangan seperti ini. Semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. lagi pula gue akan selalu bersama loe," ucap Nara merasa iba melihat kondisi Tara.
"Gwe tahu Nara, loe hanya merasa kasihan sama gue saja kan? sudahlah pergi saja loe dari hidup gwe! gwe tak mau di kasihani oleh siapapun!"
"Mah-pah, aku juga sudah tak ingin kembali ke sekolah lagi. Aku malu dengan kondisiku yang sekarang ini pasti aku akan mendapat hujatan cacian bulian dari semua teman-teman yang ada di sekolahan aku tidak akan bisa menghadapi semua itu!"
Tara terus aja memberontak, dia masih saja belum bisa menerima kondisi dirinya yang mengalami kerusakan pada wajahnya karena akibat kecelakaan yang sempat dialaminya.
Bahkan dia berkali-kali memukuli wajahnya sendiri dan memukuli kepalanya sendiri.
"Tara sudahlah, kamu jangan seperti ini. Sadar nak, jika kamu seperti ini papah sama mamah akan semakin bersedih," Hety menitikkan air matanya.
Sementara Hesa memegangi tangan Tara supaya tidak terus-terusan memukuli kepala dan wajahnya sendiri.
Tara pun sejenak terdiam tapi air matanya masih saja mengalir, dia menundukkan kepalanya menelungkupkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya.
"Nak Tara bersabarlah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Apa yang dikatakan orang tuamu itu ada benarnya, jika nanti kondisimu telah pulih bisa melakukan operasi plastik dan wajahmu akan kembali seperti sediakala."
__ADS_1
"Karena di rumah sakit ini peralatannya kurang memadai untuk bisa melakukan operasi plastik," ucap dokter turut serta mencoba menasehati Tara.
Sejenak Tara sudah bisa menenangkan dirinya dia berusaha menerima kenyataan yang ada.
Beberapa jam kemudian barulah Tara benar-benar boleh diizinkan pulang ke rumah setelah dia benar-benar bisa tenang hatinya.
Nara juga ikut mengantarkan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Tara hanya diam saja langsung melangkah ke kamarnya dan tak keluar kembali.
"Tante-om, sebaiknya aku pulang dulu ya besok pasti aku akan kembali lagi ke sini."
pamit Nara pada orang tua Tara seraya menyelami keduanya.
"Terima kasih ya Nara, sudah bersedia ikut serta mengantarkan pulang. Maafkan kami juga selama ini telah merepotkanmu, hati-hati saja di jalan ya," pesan Hety.
Saat itu juga Nara melangkah pergi dari rumah Tara, akan tetapi di dalam hatinya dia terus saja memikirkan kondisi Tara dia begitu iba padanya.
"Ya Allah, kasihan sekali Tara. Orang sebaik dirinya itu harus mengalami cobaan hidup yang begitu menyakitkan dirinya. Semoga saja kondisi Tara cepat membaik, ia ikhlas menerima dirinya yang tidak seperti dulu lagi," gumamnya dalam hati.
Ibunya yang sedang di ruangan khusus laundry sempat melihat ketermenungannya. Dia pun melangkah menghampiri anak gadisnya tersebut untuk bertanya apa yang meresahkan hati anaknya itu.
"Nara, kamu sudah pulang sejak lama atau baru saja?" tanya Bu Resy seraya menjatuhkan pantatnya di kursi dekat di mana Nara saat ini duduk.
"Belum lama bu, baru beberapa detik," ucapnya singkat.
"Lantas bagaimana kondisi Tara, apa dia sudah kembali ke rumahnya atau masih ada di rumah sakit? karena pada saat kamu pergi tidak mengatakan apapun hanya meminta izin untuk menjenguk Tara," tanya ibunya lagi.
"Itulah yang sedang aku pikirkan, Bu. Tara memang sudah sehat tapi dia belum sepenuhnya sehat karena dia harus mengalami kepahitan yakni wajahnya luka karena pada saat kecelakaan itu sempat terkena pecahan kaca spion."
__ADS_1
"Tadi aku sangat sedih pada saat melihat Tara menangis histeris karena melihat wajahnya sendiri yang sudah tidak seperti dulu lagi bahkan dia sempat berbicara bahwa dia tidak ingin kembali ke sekolah, karena dia pasti akan malu dan dia mengatakan bahwa pasti teman-temannya akan mencibir kondisinya yang sekarang."
Mendengar akan hal itu Bu Resy turut sedih pula.
"Ya ampun kasihan sekali Tara, semoga dia lekas bisa melewati hari-hari sulitnya, dan semoga segera mendapatkan solusi yang tepat supaya Tara bisa pulih seperti sedia kala dan kembali ceria dan dia bisa sekolah kembali," ucap Bu Resy.
"Iya Bu, padahal ia anak yang sangat baik. Tetapi malah dia harus mengalami kepahitan hidup seperti ini. Kadang aku sempat berpikir hidup ini tak adil buatnya. Orang yang baik harus mengalami cobaan seberat itu, sedangkan orang yang jahat tidak diberi cobaan apapun kenapa seperti itu ya, Bu?" Nara merasa heran dengan kehidupan yang ada di dunia ini.
"Nara apa kamu pernah dengar peribahasa semakin tinggi pohon semakin dia daunnya tertiup begitu kencang," ucap Bu Resy.
"Justru orang yang baik itu sering mendapatkan ujian hidup yang lebih berat dari orang yang jahat karena Allah ingin melihat seberapa kuat iman dia menghadapi ujian tersebut seberapa tabahnya orang itu," ucap Bu Resy lagi.
"Kalau bisa kamu itu harus sering memberikan semangat penghiburan supaya Tara itu bisa melupakan kesedihannya dan supaya dia itu cepat pulih kembali ceria kembali dan bisa menerima apa yang sedang dialami saat ini," saran dari Bu Resti kepada anak gadisnya tersebut.
"Iya Bu, pasti aku akan selalu memberi support dan selalu menghibur Tara."
***********
Pagi menjelang Nara pun pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah Tara dengan membawa rantang berisi makanan.
Tetapi Tara tak mau keluar dari kamar sama sekali.
Hingga pada akhirnya Nara yang meminta izin untuk menemui Tara.
"Tara, loe pasti belum makan kan? gwe bawa makanan dari rumah khusus buat loe," ucapnya.
Namun Tara tak bergeming sama sekali dia tak merespon ucapan dari Nara, pandangan matanya menelusur ke arah jendela yang terbuka lebar seolah pikirannya kosong.
__ADS_1
"Tara, please tolong jangan loe cuekin gwe seperti ini. Gwe sedih kalau loe seperti ini," bujuk Nara.
Namun Tara masih tetap tak merespon, ucapan Nara.