Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Antusias Nara


__ADS_3

"Tara, loe kan cowok kok mau sih bantu kerjaaan cewek?" tanya Nara seraya terus sibuk dengan adonannya.


"Memangnya salah ya jika cowok mengerjakan pekerjaan cewek? banyak juga kan cowok yang jadi koki, chef, hayo loe mau ngomong apa," ucap Tara terkekeh.


Bu Resy dan pegawainya ikut terkekeh mendengar pembelaan dari Tara atas perkataan, Nara. Sedangkan Nara hanya menggelengkan kepalanya.


Pembuatan cemilan begitu ramai karena di sertai canda tawa. Padahal cuma hanya beberapa orang di dalam dapur tetapi terasa banyak sekali orang karena sesekali terdengar kehebohan antara Tara dan Nara yang suka bercanda ria.


Tak terasa sore menjelang Tara pun berpamitan pulang seperti biasa pula Nara dan ibunya selalu membawakan hasil olahan cemilan yang baru saja mereka buat untuk oleh-oleh orang tuanya, Tara.


"Tante, seharusnya nggak usah pakai bawain cemilan ini. Mending di packing saja untuk di jual," ucap Tara merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, Tara. Lagi pula kamu sudah cape bantu Nara," ucap Bu Resy.


"Iya, Tara. Gwe minta maaf ya, nggak pernah bayar kerja keras loe. Terima kasih selama ini sudah bantu gwe. Kemungkinan gwe juga akan cari pegawai lagi supaya tak begitu kerepotan," ucap Nara.


"Santai saja, Nara. Gwe senang kok kalau bisa bantu loe. Gwe pamit pulang ya."


"Tante, aku pulang dulu. Besok pasti bantu lagi." Tara menyalami Bu Resy.


Setelah itu dia pulang dengan melajukan mobilnya. Ada rasa bahagia jika sudah bertemu dengan Nara. Sepanjang perjalanan pulang selalu saja senyam senyum sendiri.


Tak berapa lama, Tara telah sampai di rumahnya dia pun nafas memberikan olahan cemilan pada mamahnya.


"Ya ampun Tara, setiap kamu habis dari rumah Nara pasti bawa bawa oleh-oleh. Wah ini cemilan yang paling Mamah suka ini, favorit mamah." Mamah Hety langsung saja membuka salah satu cemilan yang di berikan oleh Tara.


"Hem, gurih banget. Itu apa Tara? kok mamah cuma di kasih yang ini doang?" tanya Mamah Hety menghentikan ngemilnya dan menoleh ke arah tangan Tara.

__ADS_1


"Kalau yang ini jangan...ini cemilan yang paling aku suka. Mamah dan papah kan sudah aku beri tadi," Tara menyembunyikan cemilan tersebut di balik punggungnya.


"Ih pelit banget dech, padahal mamah kan cuma ingin tahu saja."


Mamah Hety masih saja celingukan melihat ke arah punggung Tara, hingga Tarapun tak tega lantas menunjukkan pada Mamah Hety cemilan tersebut.


"Ini varian baru ya, kok kamu bilang favoritmu memangnya kamu sudah pernah memakannya?" tanya Mamah Hety.


"Sudahlah, mah. Kalau lagi di sekolah aku suka beli ini, lantas Nara mencoba membuatnya dan hasilnya malah lebih enak dari cemilan yang di jual di kantin sekolah," ucap Tara.


"Boleh dong mamah coba, jika memang enak nanti Nara biar produksi yang banyak sekalian," Mamah Hety menaik-turunkan alisnya.


Tara pun mengizinkan Mamah Hety untuk mencicipi cemilan favorit Tara. Dan alhasil ia malah tak berhenti makan cemilan tersebut, membuat Tara mengerutkan dahinya.


"Mah, katanya cuma mencicipi? kok malah nggak berkesudahan sih? nanti aku nggak kebagian loh," Tara manyun.


"Hehehe iya mamah lupa, maaf deh anakku tersayang. Kamu bilang gih sama Nara supaya produksi yang seperti ini jga buat stok di mini market dan toko Snack mamah." Mamah Hety mengembalikan Snack tersebut tanpa lupa berpesan.


Kemudian dia pun melangkah ke kamarnya sembari asik memakan cemilan pemberian dari Nara.


Berbeda situasi di rumah Nara, dimana dia sedang sibuk packing satu persatu cemilannys di bantu oleh ibu dan dua pegawai barunya.


"Nara, kamu hebat ya? masih sekolah sudah bisa bantu orang tuamu cari duit."


"Iya, sedangkan kami yang sudah lulus dua tahun lalu masih lantang lantung nggak ada kerjaan."


Mendengar celoteh dua tetangganya yang telah menjadi pegawainya membuat Nara senyam senyum.

__ADS_1


"Mba, aku juga baru belajar. Usahaku ini baru berjalan satu bulan kok, masih tahap pembelajaran," ucap Nara merendah.


"Mba jangan putus asa suatu saat pasti dapat kerjaan yang bagus," ucap Nara lagi.


"Nara, kalau kami kerja sama kamu terus bagaimana? di samping tak jauh dari rumah kami. Juga kan irit transportasi, serta kami nyaman di sini," ucap sakdh dari pegawai Nara.


"Boleh saja, Mba. Oh ya, sepertinya aku juga butuh dua orang lagi, Bu. Karena barusan Tante Hety kirim pesan produksi minta di tambah dua kali lipat," ucap Nara.


"Nah kan, usaha Nara ini bsksk berkembang pesat dech. Nara, bagaimana kalau ibu kami saja bantu-bantu di sini dari pada mereka ngerumpi nggak jelas," ucapnya.


"Biar ibu itu yang memutuskan hhee aku urusan produksi. Sedangkan ibu yang mencari pegawainya," ucap Nara.


"Boleh saja, tapi apa ibu kakian mau? coba nanti tanyakan ya, kalau mau besok pagi susah mulai bantu-bantu packing dulu selagi Nara ke sekolah," ucap Bu Resy.


Pagi menjelang, Nara melakukan aktivitas paginya seperti biasa. Dia bersiap-siap akan menuju ke sekolahnya, tanpa melupakan terlebih dahulu memberitahu pada ibunya tentang urusan pembuatan cemilannya mana saja yang akan di packing pada pagi itu juga, supaya ibunya tidak kebingungan selama Nara berada di sekolahan.


Tak berapa lama datanglah Tara untuk menjemputnya turut serta berangkat bersama ke sekolahan.


Tanpa menunggu lama Nara pun langsung masuk ke dalam mobil Tara. Akan tetapi dia terlebih dahulu berpamitan pada kedua orang tuanya begitu juga dengan Tara berpamitan pula pada orang tua Nara.


Barulah setelah itu Tara melajukan mobilnya menuju ke sekolahan elit mereka. Tiba-tiba terbesit di benak Nara untuk menjual dagangannya di kantin sekolah.


"Tara, gwe punya ide nech. Menurut loe bagus nggak ya, jika dagangan gwe juga di jual di kantin sekolah?" tanya Nara meminta saran.


"Memangnya loe nggak cape, secara kan produksi dagangan loe bertambah lagi. Bukannya nyokap gwe juga menambah stoknya kan?" ucap Tara.


"Iya juga sih, tapi kan semakin banyak produksi kan semakin lebih bagus. Supaya usaha gwe semakin berkembang. Gwe juga sudah tambah pegawai lagi dia mulai pagi ini. Jadi gwe yakin semua tidak akan kerepotan, dan untuk stok yang nyokap loe minta juga, Insa Allah pasti gwe bisa beri," ucap Nara penuh antusias.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu terserah loe saja dech. Asal loe benar-benar bisa jaga kesehatan dan bisa atur waktu loe," ucap Tara.


"Tapi besok saja dech gwe kan belum bawa sampelnya," Nara terkekeh.


__ADS_2