
Sejak Nara memutuskan hubungan cintanya dengan Tara ia tidak ada rasa sedih sedikitpun tetapi berbeda dengan, Tara. Ia menjadi uring-uringan dan gelisah.
Hingga pada suatu hari tiba-tiba orang tuanya menanyakan tentang hubungannya dengan Nara.
"Beberapa hari ini mamah lihat kamu tidak pernah telponan dengan Nara apakah kalian sedang ada masalah?" tanya Hety penasaran.
"Hubungan kami baik-baik saja, hanya saja saat ini kami sibuk dengan urusan sekolah. Apalagi Nara di sana kan sedang merintis usaha cemilannya, makanya aku cukup tahu diri untuk tidak mengganggunya, mah," ucap Tara berbohong.
"Syukurlah kalau begitu, jika hubungan kalian baik-baik saja semoga selamanya seperti ini tidak pernah ada masalah sedikitpun," ucap Hety percaya saja dengan apa yang di katakan oleh Tara.
"Mah, aku minta maaf ya terpaksa aku membohongimu karena jika mamah tahu tentang putusnya aku dengan Nara, pasti mamah akan kecewa karena aku tahu mamah begitu mengharapkan hubungan kami baik-baik saja untuk selamanya hingga jenjang pernikahan," batin Tara.
"Sebenarnya aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Nara tetapi itu tidak mungkin karena Nara sudah begitu marah padaku," batin Tara kembali.
************
Tara sudah resmi berpacaran dengan Laura tetapi dia tidak memungkiri jika hatinya masih mencintai Nara.
"Ronald apa loe bahagia menjalin kasih dengan gwe?" tanya Laura ragu.
"Kenapa loe menanyakan hal itu pada gue?" Tara malah balik bertanya.
"Karena gwe merasa loe itu tidak tulus menjalin hubungan dengan gue. Setiap gue bertanya tentang mantan pacar loe yang bernama Nara, loe tidak mau menjawab malah marah-marah. Ada apa sebenarnya dengan loe, Ronald?" Laura kembali bertanya.
"Itu kan cuma masa lalu, saat ini kita kan jalin hubungan di masa depan. Gwe juga nggak pernah tanya tentang masa lalu loe kan? dengan siapa loe pernah pacaran," ucap Tara kesal.
"Sudahlah, Laura. Jika loe terus seperti ini, mending gwe putus saja sama loe," ucap Tara kesal.
"Nggak, gwe nggak akan mau putus sama loe. Kita baru berpacaran beberapa hari, mas iya kita putus?" Laura enggan putus dengan Tara.
__ADS_1
"Ronald, gwe minta maaf. Gwe janji tidak akan bertanya lagi tentang Nara. Gwe mohon loe jangan marah lagi, dan jangan katakan putus," ucap Laura.
"Baiklah kalau begitu, tapi loe harus tepati janji. Loe nggak usah tanya-tanya masa lalu gue seperti halnya gue nggak pernah tanya masa lalu," loe," ucap Tara ketus.
Itulah keseharian Tara dan Laura jika berada di lingkup sekolahan. Akan tetapi setiap kali Laura ingin bermain ke rumah Tara ia malah selalu beralasan macam-macam dan melarangnya.
"Sebenarnya gue ingin sekali main ke rumah Tara, karena gue ingin berkenalan dengan orang tuanya tetapi kenapa selalu saja Ronald melarangnya?" batin Laura merasa ada yang di sembunyikan oleh Tara.
Hingga pada suatu hari, Laura nekat mengikuti mobil Tara hingga ke rumahnya.
"Jadi ini rumah Ronald, besar juga ya ternyata. Gwe nggak salah deh milih pacar seperti Ronald udah tampan dan juga anak orang kaya," batin Laura seraya berlalu pergi begitu saja.
Ia akan mencari waktu yang tepat untuk bisa main ke rumah Tara tanpa diketahui olehnya.
Esok harinya di saat Tara telah berangkat ke sekolah, Laura justru tidak berangkat ke sekolah hanya ingin main ke rumah Tara, karena rasa penasarannya yang tinggi.
"Aman deh kalau begini Ronald kan sudah berangkat ke sekolah, gwe bisa berkenalan dengan orang tuanya," Laura masuk ke pelataran rumah Tara dengan mengemudikan motor maticnya.
"Maaf, Ade cari siapa ya?" tanya Hety penasaran.
"Tante, perkenalkan namaku Laura. Aku pacar Ronald atau Tara, anak Tante."
Laura mengulurkan tangannya ke arah Hety seraya tersenyum ramah.
"Pacar?" Hety menanggapi uluran tangan dari Laura.
"Iya, Tante. Aku pacar Ronald. Belum lama sih Tante, maaf ya Tante aku ganggu aktivitasnya. Karena aku ingin sekali main kemari, tapi Ronald tak pernah izinkan. Jadi aku belain bolos sekolah untuk bisa kemari," ucap Laura jujur.
"Oh begitu ya, ayok duduk dulu. Jadi kamu kemari pastinya nggak ngomong ke Tara ya?" tanya Hety.
__ADS_1
'Jelas nggaklah, Tante. Jika aku ngomong yang ada kami bertengkar. Karena Ronald sangat sensitif sekali, Tante. Seperti pada waktu itu, aku hanya ingin tahu tentang mantan pacarnya si Nara. Eh Ronald malah marah-marah dan ancam putusin aku, Tante."
Tanpa sadar Laura bercerita panjang lebar tentang kesehariannya bersama Tara. Hal ini membuat Hety sungguh tak menyangka dengan sikap anak semata wayangnya itu.
"Tara telah berbohong padaku tentang hubungannya dengan Nara. Bagaimana bisa mereka pisah begitu saja, dan apakah yang menyebabkan mereka pisah? aku harus selidiki tentang hal ini. Bisa-bisanya Tara sudah pacaran dengan gadis ini," batin Hety geram.
"Tante, kenapa Tante diam? apakah Tante nggak suka dengan kedatanganku kemari? ya sudah kalau begitu aku pamit pulang ya, Tante."
Ucapan Laura mengagetkan lamunan Hety.
"Nggak kok, Tante seneng. Oh ya mau minum apa, biar Tante buatkan?"
"Nggak usah repot-repot, Tante. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Ronald dan keluarganya," ucap Laura menyunggingkan senyuman.
Satu jam lamanya, Laura berada di rumah Hety. Dia bercerita banyak tentang kebersamaannya dengan Tara di sekolah. Setelah itu ia pun berpamitan pulang.
Seperginya Laura, Hety akan menelpon Nara. Tapi ia urungkan karena ingat jika saat ini masih jam nya Nara sekolah.
"Tara, kenapa kamu putus sama Nara? padahal aku sudah sangat setuju karena Nara gadis yang baik dan mandiri. Haduh, aku nggak akan tenang sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika aku tanya pada Tara, aku yakin ia pasti akan berbohong lagi. Makanya aku ingin menelpon, Nara," batin Hety sudah tak sabar menunggu waktu sore.
Sedangkan Tara saat ini sedang celingukan di kelas mencari keberadaan Laura. Karena dari berangkat ke sekolah, ia tak mendapati adanya, Laura.
"Mana sih, Laura? biasanya ia sudah menghadang gwe di parkiran mobil, tapi ini nggak kelihatan sama sekali batang hidungnya,' batinnya kesal.
Tara lekas meraih ponselnya untuk segera menelpon Laura.
Kring kring kring kring
Laura segera menghentikan laju motor maticnya, untuk mengetahui siapa yang telah menelpon.
__ADS_1
'Haduh, Ronald telpon. Pasti ia akan tanya kenapa gwe nggak berangkat ke sekolah. Angkat nggak ya?" gumamnya seraya terus melihat ponselnya yang tak berhenti berdering.
Hingga pada akhirnya, Laura tak mengangkat telpon itu. Ia mengantongi kembali ponselnya.