
Pagi hari yang cerah tepatnya hari libur baik untuk para pekerja kantoran maupun untuk para mahasiswi mahasiswa ataupun murid-murid yang lainnya.
"Pagi ini aku akan menyambangi toko oleh-oleh di mana kekasih Wildan ada di sana. Aku ingin memastikan apakah memang benar jika dia itu telah menjadi kekasih Wildan." Batin Tya seraya melangkah menuju ke garasi mobil.
Namun sejenak langkahnya terhenti,oleh suatu teguran dari mamahnya.
"Tya, sepagi ini kamu akan kemana?" tegur Mamah Mia.
"Aku ingin menghirup udara segar keluar sejenak mah. Kan ini hari libur biasanya kan banyak sekali di alun-alun atau di gor acara senam aerobik," ucap Tya berbohong.
"Kalau kamu ingin ikut senam aerobik kenapa pakaianmu seperti itu?" Mamah Mia merasa curiga pada saat melihat pakaian yang dipakai Tya.
"Kan aku semalam sudah meletakkan pakaian senam ku di mobil. Masa iya aku baru datang langsung memakai pakaian senam kan sepertinya tidak etis," ucap Tya berbohong kembali.
"Oh ya sudah kalau begitu kamu yang hati-hati di jalan ya. Ingat mengemudinya jangan cepat-cepat, biar lambat asal selamat,' pesan Mamah Mia.
"Baik, mah. Aku pasti mendengarkan nasehat Mamah kok, mengemudinya tidak akan ngebut tapi pelan-pelan saja," ucapnya mencoba tersenyum.
Setelah sejenak ingin tahu kemana kepergian anaknya, kini dia pun melangkah kembali untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tya bisa bernafas lega karena mamahnya sudah tidak menginterograsi dirinya lagi. Hingga pada akhirnya ia pun kini bebas untuk melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumahnya.
"Semoga saja gadis itu ada di toko oleh-oleh miliknya, karena aku tidak enak jika menyambangi rumahnya," batin Tya.
Perjalanan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, ia telah sampai di depan pelataran toko oleh-oleh Nara. Akan tetapi toko tersebut baru akan dibuka oleh orang tua Nara.
"Aduh, kenapa gadis itu tidak ada di sini ya?" batin Tya celingukan.
"Maaf, de. Tokonya baru mau buka, menunggu sebentar nggak apa-apa ya?" ucap Ayah Bimo tersenyum ramah pada Tya.
Tya sempat terhenyak kaget mendengar perkataan dari Ayah Bimo padahal ia datang bukan untuk membeli tetapi hanya ingin bertanya kepada Nara, untuk memastikan hubungannya dengan Willdan.
"Oh iya pak, nggak apa-apa kok,' jawab Tya sekenanya.
__ADS_1
"Aduh bagaimana ini? kedatanganku ke sini dengan maksud untuk menemui gadis itu, malah orang tuanya yang ada di sini. Lantas aku harus apa coba?" batin Tya bingung.
Terpaksa Tya berdiam diri tak bisa berkutik, ia memang sengaja sejenak untuk menunggu toko itu buka karena sudah terlanjur mendapatkan sapaan dari ayah Bimo.
Beberapa menit kemudian bukalah tokoh tersebut dan kebetulan para pelayannya juga sudah ada di tempat.
Mau tak mau dia membeli beberapa macam cemilan di toko oleh-oleh Nara, walaupun sebetulnya dia sama sekali tak berminat untuk membelinya.
Setelah mendapatkan beberapa cemilan tersebut ia belum juga beranjak pergi. Ia masih celingukan mencari keberadaan Nara.
Hal ini sempat tertangkap oleh orang tua Nara, hingga Bu Resy pun bertanya kepada Tya.
"Maaf apakah adik sedang menunggu seseorang? karena ibu lihat dari tadi adik gelisah sekali celingukan ke sana kemari," tanya Ibu Resy seraya tersenyum ramah.
"Aduh bagaimana aku menjawab pertanyaan Ibu ini ya? jika sebenarnya aku ingin bertemu dengan anaknya," batin Tya bingung.
Belum juga Tya menjawab pertanyaan dari Ibu Resy, datanglah Nara bersama Bagas, Dan kebetulan posisi Tya membelakangi mereka sehingga tidak mengetahui kedatangan mereka.
"Iya, Bu. Boleh ya, aku sama Mas Wildan ingin ke alun-alun sejenak," ucap Nara.
Pada saat Bu Resy akan menjawab ucapan Wildan dan Nara, Tya menoleh ke arah Wildan dan Nara.
"Wildan "
'Tya"
"Jadi kalian sudah saling kenal ya, dari tadi pagi sekali adik ini datang kemari,' ucap Bu Resy tanpa ada rasa curiga sama sekali.
"Iya, Bu. Kami saling kenal karena saya adalah mantan pacar Wildan," ucap Tya tanpa ada rasa malu.
Sejenak Bu Resy terperangah serasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tya.
"Untuk apa kamu kemari, apa belum cukup penjelasan dariku kemarin itu?" tanya Wildan tak suka melihat kedatangan Tya.
__ADS_1
'Iya Wildan, aku belum percaya jika kamu dengan gadis itu benar-benar berpacaran. Makanya niatku datang kemari ingin bertanya langsung pada gadis itu. Karena pada saat kalian bertemu denganku, gadis itu sana sekali tak mengatakan jika ia pacarmu," ucap Tya menatap tak suka pada Nara.
"Mba, aku memang sudah resmi menjadi kekasih mas Wildan. Waktu itu aku sengaja tak bicara apapun karena aku tak ingin bersikap lancang makanya aku hanya menjadi pendengar setia saja," ucap Nara menjelaskan.
"Memang sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Tya tanpa ada rasa malu.
Pada saat Nara akan menjawab pertanyaan Tya tersebut, tiba-tiba Wildan yang berkata terlebih dahulu.
"Lama tidaknya kami pacaran itu bukanlah urusanmu, kamu tak usah ingin tahu urusan pribadi kami. Sekarang jalani hidup masing-masing, bukankah kemarin aku sudah mengatakan akan hal itu padamu. Tetapi kenapa kamu masih saja mengganggu kehidupanku." Wildan sangat tidak senang dengan pertanyaan Tya.
Bu Resy merasa heran dengan segala perkataan yang diucapkan oleh Tya, ia bisa menebak di dalam hatinya bahwa dia masih menyimpan rasa cinta pada Wildan.
"Sepertinya gadis ini masih ada rasa cinta pada Wildan, terlihat sekali wajahnya tak suka melihat kebersamaan Wildan dengan anakku," batin Bu Resy.
"Membuatku menjadi penasaran saja, aku jadi ingin tahu apa yang menyebabkan Wildan putus dengannya," batin Bu Resy.
"Sayang ayo kita pergi sekarang juga nanti kita kesiangan sampai ke alun-alunnya."
Ajak Wildan seraya merangkul Nara menuju ke mobilnya.
Merasa dirinya dicuekin oleh Wildan dia pun menjadi semakin sedih dan kecewa serta cemburu kepada Nara yang sangat diperhatikan oleh Wildan.
Saat itu juga ia pun berlalu pergi dari toko oleh-oleh Nara bahkan tanpa berpamitan sama sekali dengan Bu Resy.
Tya berniat akan mengikuti mobil Wildan kemanapun mobil itu melaju
"Aku ingin tahu kemana Wildan dengan gadis itu pergi apa benar akan ke alun-alun seperti yang barusan mereka katakan," gumamnya seraya melajukan mobilnya.
Lima menit perjalanan Wildan menyadari jika mobilnya ada yang mengikuti. Ia pun melirik ke arah belakang dari kaca spion mobilnya.
"Untuk apa Tya mengikuti laju mobilku?" batin Wildan merasa kesal.
"Mas, ada apa kelihatannya kok kamu sepertinya kesal sekali?" tanya Nara penasaran melihat raut wajah Wildan yang terlihat murung.
__ADS_1