Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Selamanya Benci


__ADS_3

Nara begitu kaget pada saat melihat mobil Ara parkir di pelataran rumahnya. Dia tak tahu jika barusan Ara mengikuti laju motornya.


Ara tersenyum manis kepada Nara yang dari tadi melihatnya tanpa berkedip sama sekali. Dengan rasa enggan Nara menghampiri Ara.


"Kenapa loe mengikuti motor gue hingga sampai ke rumah gue?" tanya Nara ketus.


"Memangnya salah ya jika gue ingin menyambangi rumah loe? gue ingin silaturahmi dengan orang tua loe juga," ucap Ara memicingkan alisnya.


"Jelas salah lah, karena gue sama sekali sudah tidak ingin lagi melihat wajah loe di hadapan gue. Untuk apa pula loe daftar di universitas yang sama dengan gue bahkan menempati di kelas yang sama pula?" tanya Nara ketus.


"Gue sama sekali tidak tahu jika loe ada di universitas itu, gue tidak sengaja mendaftar di situ. Nungkin memang sudah takdir kita untuk bertemu kembali jadi loe tak usah sewot seperti itu," ucap Ara.


"Ala... itu hanya alasan loe saja. Pasti diam-diam loe menyelidiki tentang gue kan? di mana gue akan kuliah, di universitas mana? nggak mungkin lah secara kebetulan loe ada di universitas yang sama dan bahkan satu kelas dengan gue jika itu tidak direncanakan terlebih dahulu," ejek Nara tak percaya.


"Terserah loe sih kalau nggak percaya dengan apa yang barusan gue katakan," ucap Ara.


"Sudahlah loe nggak usah banyak berkilah, sekarang juga pergi dari rumah gue karena gue nggak suka loe datang kemari!" Usir Nara seraya ia beranjak pergi dari hadapan Ara.


Tak sengaja Ibu Resy melihat pertengkaran yang terjadi antara Nara dan Ara.


"Nara, bukankah itu Ara? bagaimana ia tahu rumah kita?" tanya Ibu Resy penasaran.


"Tadi kan mengikuti aku dari belakang, Bu. Aku nggak tahu juga laju motorku diikuti oleh mobil milik Ara," ucap Nara kesal.


Pada saat Nara akan menjelaskan panjang lebar pada ibunya tiba-tiba Ara sudah ada di samping mereka.


"Hallo tante, apa kabarnya?" sapa Ara seraya menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik," ucap Bu Resy singkat.


"Pasti Tante heran kan kenapa aku bisa ada di sini? aku juga sempat tidak percaya. Kebetulan aku kuliah di universitas yang sama dengan Nara, dan kebetulan juga aku sekelas dengan Nara," ucapnya menjelaskan.


Mendengar penjelasan Ara, Bu Resy hanya berhooh ria tanpa berkata apapun.


"Ya sudah ya Tante, kalau begitu aku permisi pamit pulang. Kebetulan aku di kota ini, tinggal di rumah saudara."


"Ya, hati-hati."


Saat itu juga Ara melangkah menuju ke mobilnya dan melajukannya arah pulang ke rumah saudaranya. Karena ia bingung juga akan mengajak ngobrol tentang apa dengan Bu Resy. Kecuali jika Nara merespon kedatangannya pasti ia akan lama di rumah Nara.


"Apa ini jalan dari Allah, untuk aku bisa dekat lagi dengan Nara ya? masa iya semua ini serba kebetulan sekali. Aku sama sekali tak tahu jika Nara ada di universitas itu, bahkan kami malah satu kelas."


Gumam Ara tersenyum seraya melajukan mobilnya.


"Kamu kenapa murung seperti itu, Nara? apa karena kedatangan Ara?" tanya Bu Resy heran ia pun menjatuhkan pantatnya di samping Nara.


"Bukan hanya itu Bu, Ara malah satu kelas denganku hal ini membuatku menjadi tidak semangat untuk berangkat kuliah," ucap Nara seraya menghela napas panjang.


"Nara, bagaimana dia tahu kamu di universitas itu dan di kelas yang itu juga? kok bisa Ara ada di kelas yang sama denganmu dan di universitas itu juga ya?" tanya Bu Resy heran.


"Nah itu Bu yang sedang aku heran. Nggak mungkin lah semua serba kebetulan seperti itu. Masa iya di universitas yang sama dan di kelas yang sama pula jika Ara tidak melakukan penyelidikan terlebih dahulu tentang di mana aku akan kuliah?" ucap Nara kesal.


"Sudahlah Nara, kamu tak usah memusingkan dan memikirkan bagaimana Ara tahu kamu kuliah di universitas itu. Sekarang yang terpenting itu kamu fokus aja dengan kuliahmu tak usah menghiraukan apapun lagi tentang Ara jika kamu benar-benar ingin sukses," pesan Bu Resy.


"Tapi aku tidak bisa seperti itu Bu. Aku sudah muak melihat wajahnya karena setiap kali aku melihat orang yang telah menyakiti aku pasti terbayang kembali masa-masa di mana aku dibuat sakit hati olehnya," ucap Nara.

__ADS_1


"Hari-hariku akan terasa muram jika satu kelas dengan Ara. Apa sebaiknya aku pindah universitas saja ya Bu, supaya aman?"


Nara benar-benar menjadi dilema sejak mengetahui Ara ada di kelas yang sama dengannya.


"Jika kamu akan pindah lagi harus proses ulang lagi, sebaiknya kamu dengarkan apa yang Ibu nasehatkan barusan. Ibu yakin kamu bisa menghadapi Ara. Anggap saja di kelasmu itu tak ada dirinya, anggap saja dia itu angin lalu jika kamu memang benar-benar enggan dekat lagi dengannya," ucap Bu Resy.


"Entahlah, Bu. Aku sanggup atau tidak."


Nara beranjak bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.


Ia langsung membersihkan badannya setelah itu sejemao merebahkan badannya di pembaringan. Matanya kosong menatap langit-langit kamarnya. Hingga tak terasa, Nara pun memejamkan matanya. Ia tertidur nyenyak, hingga waktu yang cukup lama.


Menjelang sore hari ia baru terbangun dan meraih ponselnya. Ia terhenyak kaget karena banyak sekali panggilan telepon dari Andre. Dan begitu banyak chat pesan bukan hanya dari Andre tapi juga dari dua temannya yang lain yang kebetulan satu kelas juga dengan Nara.


"Ya ampun, aku tidur begitu lamanya. Hem, ada apa ya Andre menelpon?" batin Nara penasaran, hingga ia menelpon balik pada Andre dan kebetulan langsung tersambung.


"Hallo Dre, ada apa ya kamu telpon? maaf tadi pulang kuliah aku ketiduran, padahal niatnya cuma sekedar berbaring saja, eh nggak tahunya mata ini merem."


"Iya nggak apa-apa, lagi pula nggak penting-penting amat. Cuma ingin menelpon saja kok. Apalagi dua teman kita juga menanyakanmu katanya di hubungi susah, dan mereka juga memintaku untuk mencoba menghubungi dirimu."


"Iya, ini banyak sekali chat dari mereka tapi malah belum sempat aku buka. Aku hanya buka chat kami dan langsung telpon kamu."


"Wah, berarti aku di nomor satukan dong?"


"Ya nggak lah, nomor satuku itu ya Allah."


Sejenak keduanya bercengkrama di dalam panggilan telepon, bahkan tanpa ada rasa sungkan Nara menceritakan tentang kegelisahan dirinya pada Andre.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin pindah universitas, hanya gara-gara kamu sekelas dengannya?"


__ADS_2