
Dua kali Nara membawa novel tersebut masuk kedalam rumah dan menuju ke kamarnya. Akan tetapi baru beberapa detik, ibunya datang lagi. Dan untuk ketiga kalinya mengatakan bahwa ada yang mengirimkan paket lagi.
Ketiga kalinya pula paket ini tidak ada nama terang pengirimnya. Bahkan isinya juga sama novel. Tapi kali ini dua novel dengan pengarang yang sama.
"Nara, sudah tidak di ragukan lagi jika paket yang kamu dapatkan itu dari tiga pemuda yang sempat dekat dengan. dirimu," ucap Ayah Bimo.
"Bisa jadi itu, Ayah. Tapi biar saja dech, aku untung dua, tiga, empat jadi tujuh novel dari pengarang yang aku suka. Ka. jadi aku tak perlu lagi mencari novel kesukaanku karena aku sudah punya," ucap Nara terkekeh.
"Apa kamu nggak penasaran, Nara? mana yang kasih dua novel, mana yang kasih tiga novel, dan mana yang kasih empat novel padamu? kembali lagi Ayah Bimo bertanya.
"Untuk apa di buat penasaran, ayah. Nanti yang ada aku malah pusing, kata ayah anggap saja ini rezeki untukku," ucap Nara terkekeh.
"Hheee...iya juga sih. Ya sudah sana bawa masuk lagi. Nanti kalau ada paket lagi biar gantian ayah yang memanggil dirimu. Kasihan ibumu yang tiga kali bolak balik memanggil dirimu," ucap Ayah Bimo terkekeh seraya melirik ke arah Bu Resy.
"Hem... sebaiknya ibu masuk saja dech. Biar nanti giliran ayah saja, karena walaupun ayah mengatakan bahwa nanti ia yang akan bergantian memanggilmu, paling-paling ya ibu lagi. Sudah biasa, nggak mau bangkit dari duduk alasan sudah PW," ejek Bu Resy.
Ia benar-benar bangkit dari duduknya, dan hal ini justru membuat Ayah Bimo ikut bangkit juga.
"Loh, kenapa ayah ikut-ikutan ibu sih?" tegur Bu Resy memicingkan alisnya.
"Ibu lupa, ini waktu Maghrib. Kita kan bisa sholat berjamaah."
Mendengar penjelasan dari suaminya, barulah Bu Resy ingat dan menepuk jidatnya sendiri. Nara yang melihat akan hal itu hanya bisa terkekeh.
Ayah Bimo tak lupa menutup pintu rumahnya karena waktu sudah menjelang adzan Maghrib.
Sementara apa yang sempat di pikirkan oleh Bu Resy ada benarnya. Jika yang mengirimkan paket tersebut adalah tufa pemuda yang pernah dekat dengan Nara.
__ADS_1
Saat ini Tara sedang melamun di kamar. Dan pada saat Hety akan memanggil dirinya untuk makan malam. Ia pun terkejut melihat Tara yang hanya diam menatap ponselnya.
"Tara, kamu kenapa? apa ada masalah di mini market atau di toko snack kita?" tanya Mamah Hety penasaran.
"Nggak ada kok, mah. Aku hanya sedang teringat pada Nara. Hari ini kan hari ulang tahunnya. Aku ingat dulu pada saat masih bersamanya. Pasti aku buat kejutan untuk dirinya di hari ulang tahunnya. Pada saat kami masih di bangku SLTA," ucap Tara sedih.
"Sudahlah, tak usah kamu menengok kebelakang lagi. Move on lah dari Nara. Karena di dunia ini masih banyak gadis yang lebih baik dari, Nara," nasehat Hety.
"Entahlah, mah. Karena bagiku tidak ada yang lebih baik dari Nara. Aku pernah jalin hubungan dengan gadis selain Nara, tetapi alhasil aku merasakan tetap saja Naralah yang terbaik," ucap Tara keras kepala.
"Penyesalan memang seperti ini, datang belakangan setelah kamu berbuat salah pada Nara. Lantas mau di apain lagi coba? yang mamah dengar saat ini Nara sudah bahagia dengan pacar barunya," ucap Hety.
"Masa sih, mah? Nara sudah punya pacar?" Tara seperti tak percaya pada perkataan Hety.
"Iya, Tara. Menurut berita yang mamah dengar sih, pacar Nara yang sekarang adalah dosen. Bahkan dosen ini pula yang membantu usaha cemilan Nara menjadi lebih berkembang."
"Keren lah intinya, jarang ada loh gadis muda tapi pemikiran dewasa seperti Nara. Bahkan tidak banyak tingkah dan penampilan seadanya."
"Hem, sayang juga sebenarnya kamu telah menyia-nyiakan Nara. Padahal waktu itu papah dan mamah sangat berharap hubungan kalian berlanjut hingga ke jenjang pernikahan."
"Sudahlah, mungkin memang kamu itu tidak berjodoh dengan Nara. Hingga pada akhirnya kalian ini harus berpisah juga."
"Sekarang sudah tak usah kamu sesali lagi. Karena penyesalanmu itu tidak akan ada gunanya sama sekali. Tidak akan mengembalikan Nara di sisu lagi."
"Ini bisa kamu jadikan sebagai pelajaran hidup. Jika suatu saat kamu mempunyai pacar lagi, kamu jangan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama yang pernah kamu lakukan pada saat bersama dengan Nara."
Begitu lama Hety menasehati Tara, ia ingin anak semata wayangnya itu tidak terus memikirkan Nara. Karena walaupun di pikirkan, Nara tidak akan kembali dan percuma saja.
__ADS_1
Ada rasa iri pada diri Tara pada saat mendengar kabar, Nara telah memiliki kekasih kembali.
"Alangkah bahagianya pria yan yang saat ini berhasil meluluhkan hati Nara yang memang tak mudah di luluhkan."
"Tapi bagaimana bisa, Nara kok mau berpacaran dengan dosen. Bersti usia Nara dan dosen itu pasti terpaut banyak."
"Nara, aku minta maaf karena paket yang aku kirim sengaja tidak aku tulis nama pengirim karena aku tidak mau kamu menolak paket pemberian dari ku."
"Semoga kamu suka dengan novel-novel yang telah aku kirimkan padamu. Karena itu adalah novel yang selama ini kamu inginkan tetspi sempat kamu kesulitan untuk bisa mendapatkan novel tersebut."
Terus saja Tara menggerutu di dalam hatinya, ia juga terus saja menatap foto dirinya yang sedang bersama dengan Nara.
Hingga detik ini, Tara masih saja menyimpan semua kenangan dirinya bersama Nara. Tidak ada satupun barang yang ia buang.
"Tara, ayuk kita makan. Sudah jangan terlalu di pikirkan nanti kepalamu kambuh dan sakit. Ingat loh, kalau kamu mikir pasti sakitnya kan nggak cuma satu atau dua hari," pesan Hety.
'Iya mah. Tenang saja aku nggak akan sakit kepala lagi. Aku sudah bisa mengontrol pikiran aku sendiri supaya tidak sampai terlalu berat dalam berpikir, mah."
Saat itu juga Tara mengikuti langkah kaki Hety ke ruang makan. Dimana sudah duduk Besar menunggy Tara dan Hety.
"Kalian lama sekali sih, memang habis ngapain saja? apa kalian nggak tahu ya, aku ini sudah teramat lapar," ucap Hesa murung.
"Maaf, ya pah. Tadi mamah ngobrol sama aku sebentar,' ucap Tara.
"Sebentar katamu, cukup lama ada beberapa menit,' ucap Hesa ketus.
"Pah, sudahlah. Tak usah mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Toh kami sudah ada di sini, sekarang kita tinggal makan," tegur Hety menengahi.
__ADS_1
Hingga Hesa pun tak berkata lagi, ia langsung meminta Hety menyendokkan makanan untuk nya.