
Setelah cukup lama healing, Wildan mengajak Nara untuk ke sebuah restoran guna makan siang bersama, walaupun baru jam sebelas siang, tapi ia sudah merasakan lapar.
"Sayang, kita makan di sini kamu mau kan?" tanya Wildan.
"Mau, mas. Di warteg juga aku tak masalah sama sekali. Semua tempat makan sama, asalkan bersih tempatnya dan higienis," ucap Nara.
"Kekasihku ini memang luar biasa top, tidak pernah menuntut banyak hal dari ku. Itulah yang paling aku suka dari dirimu Nara. Sifatmu itu sungguh bijak dan kamu berpenampilan apa adanya tidak pernah memikirkan yang namanya tas branded, sepatu branded, pakaian branded. Tidak pernah aku melihat kamu ingin shopping sana shopping sini," ucap Wildan bangga dengan kekasihnya itu.
"Kebiasaannya kambuh lagi," ucap Nara jutek.
"Memangnya kebiasaan apa sih sayang, kok kamu mendadak berubah jutek seperti ini?" tanya Wildan heran melihat perubahan sikap Nara.
"Kebiasaan Mas Wildan yang suka sekali memuji aku, jujur aku tuh bukannya senang tapi malah sebel," ucap Nara.
"Maaf deh, ya sudah aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Padahal yang aku katakan itu bukanlah suatu kata pujian lho, tetapi kata-kata nyata memang kamu seperti itu," ucap Wildan.
Saat itu juga Wildan memesan beberapa menu makanan yang diinginkan oleh dirinya dan Nara. Mereka makan siang dengan sangat santainya sambil ngobrol berbagai macam obrolan.
Selagi mereka asyik makan siang sembari ngobrol, tiba-tiba datang seorang wanita yang tak asing lagi dan tanpa ada rasa sungkan ia duduk di kursi dekat Nara dan Willdan.
"Tya, untuk apa kamu duduk di sini?" tegur Wildan tak suka.
"Galak banget sih kamu Wildan. Aku kan ingin bergabung makan siang bersamamu dan kekasihmu ini, masa iya tidak boleh? lagi pula kan hanya sesekali saja mumpung kita ketemu di sini. Pasti kekasihmu ini juga tidak keberatan iya kan, mba?" Tya tersenyum ke arah Nara.
"Iya, mba," jawab Nara walaupun di dalam hatinya tak suka dengan kehadiran Tya.
"Tya, tolong jangan ganggu kami berdua. Pergilah dari sini, karena membuat kami tak nyaman," usir Wildan.
__ADS_1
"Wildan, apa tadi kamu tidak mendengar kekasihmu mengatakan bahwa ia saja tidak keberatan jika aku bergabung di sini bersamamu dan kekasihmu ini."
Tya keras kepala tak mau menyingkir.
"Mas Wildan, sudahlah tak usah diributkan. Sebaiknya kita lanjutkan saja makannya supaya kita cepat pergi dari sini." Ucap Nara seraya menggenggam salah satu jemari Willdan, hal ini sempat dilihat oleh Tya, ia pun masih tersulut api cemburu.
"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, katanya tak keberatan jika aku bergabung di sini. Kenapa pula ingin cepat pergi dari sini? kita kan bisa mengobrol dan bisa menjadi teman," ucap Tya menatap ke arah Nara.
Di dalam hati Tya mengumpat penampilan Nara yang menurutnya terlalu sederhana.
"Aneh, bagaimana Wildan mau dengan gadis macam dia? penampilan biasa begitu."
Willdan mulai terganggu, ia menjadi tidak berselera makan dan pada akhirnya ia pun bangkit dari duduknya seraya menggandeng Nara.
"Sayang, kita cari tempat makan yang lain saja. Karena tiba-tiba selera makanmu hilang di sini."
Sementara Tya kesal, ia mengepalkan tinjunya.
"Aku sempat melihat gadis kampung itu memakai sebuah kalung berlian. Aku yakin, itu adalah pemberian dari Willdan. Aku tahu betul betapa loyalnya Wildan pada kekasihnya."
"Seperti dulu padaku, apa pun yang aku pinta pasti ia turuti tanpa ada keluhan sama sekali."
Terus saja Tya menggerutu di dalam hatinya. Ia sudah berjanji tidak akan mengganggu hubungan Wildan dengan kekasihnya yang baru. Tetapi ia tidak bisa begitu saja melupakan Wildan.
"Aku tak ingin kedatangan Tya menghancurkan hubungan aku dengan Nara. Karena Nara gadis yang lain dari pada yang lain."
"Tidak seperti Tya yang jelas sekali dulu terlalu banyak permintaan ini dan itu. Tetapi karena rasa cinta ku dulu padanya hingga apapun yang ia minta aku berikan."
__ADS_1
Batin Willdan sangat kesal karena acara makan siangnya terganggu oleh kedatangan Tya secara tiba-tiba.
"Mas Wildan, jangan marah terus ya. Karena saat ini Mas Wildan sedang mengemudi. Kalau marah jangan lama-lama, nggak baik." Ucap Nara seraya menepuk bahu Wildan.
"Iya sayang, maafkan aku ya. Acara makan siang kita terganggu karena kedatangan Tya. Entah dengan cara apa lagi supaya Tya tidak mengganggu kita terus-menerus," ucap Wildan seraya menghela napas panjang.
"Nggak usah terlalu dipikirkan akan hal itu, Mas Wildan. Nanti kalau ia sudah lelah sendiri pasti ia berhenti mengganggu kita, yang terpenting kita saling percaya saja pasti hubungan kita akan langgeng untuk selamanya. Tak usah menghiraukan apa yang ada di belakang kita, tetapi fokus saja ke depan supaya segala impian dan cita-cita kita terwujud," ucap Nara meyakinkan Wildan.
"Subhanallah, umurmu memang masih muda Nara. Bahkan jauh lebih mudah daripada Tia, tapi cara pemikiranmu itu sangat bijaksana dan dewasa," ucap Wildan kagum dengan cara berpikir Nara.
"Nara, kita makan di tempat itu saja enggak apa-apa kan?" sejenak Willdan menunjuk sebuah cafe yang tak jauh dari mobilnya saat ini melaju.
"Mas Wildan, seharusnya tadi kita tak usah pergi tetapi melanjutkan makan saja karena sayang makanan sudah dipesan tetapi tidak dimakan kan mubazir. Lain kali jangan ulangi hal seperti ini ya Mas, menyia-nyiakan makanan begitu saja," ucap Nara.
"Iya sayang, aku tidak akan mengulangi hal ini lagi, maafkan aku ya."
Wildan pun langsung menepikan mobilnya mencari tempat parkir yang ada di cafe tersebut, setelah itu ia keluar dari mobil bersama Nara. Bahkan Wildan tak sungkan merangkul Nara dan mereka melangkah bersama menuju ke cafe tersebut.
Di cafe inilah mereka bisa makan dengan rileks, santai, nyaman tanpa ada gangguan lagi. Kini suasana hati Wildan sudah seperti sedia kala.
Tiga puluh menit mereka berada di cafe, setelah itu mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena Wildan juga akan sejenak mengecek berkas-berkas kantornya yang sempat tertunda.
Begitu pula dengan Nara, ia akan mengerjakan tugas dari kampusnya dan juga mengecek pembukuan untuk usaha cemilannya.
Hari ini dilalui keduanya dengan penuh sukacita walaupun ada sedikit gangguan yang terjadi karena datangnya Tya secara tiba-tiba di sebuah restoran yang pada saat itu mereka datangi.
"Nara, kalungmu bagus sekali. Ini bukan emas tetapi ini adalah sebuah berlian. Pasti harganya sangat mahal sekali. Apakah Willdan yang telah memberikannya padamu?" tanya Bu Resy.
__ADS_1
"Iya, Bu. Katanya sebagai hadiah ulang tahun," ucap Nara.