Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Antusias Nara


__ADS_3

Pada saat Ronald memberikan sampel Snack pada Papahnya. Segera papahnya mencoba mencicipi satu persatu snack yang diberikan oleh, Ronald.


"Hem, gurih dan nikmat rasanya. Kamu dapat snack-snack ini dari mana, Tara?" tanya papahnya penasaran.


"Dari gadis yang selama ini Tara cintai papah," sela mamahnya terkekeh.


"Yang bener, Tara. Papah pikir Nara sama sekali tak bisa memasak, malah dia ternyata pintar membuat aneka cemilan ini," Papahnya malah terus menikmati cemilan tersebut tanpa berhenti sama sekali.


"Aku juga sempat berpikir seperti itu pada mulanya, Pah. Tetapi pada saat aku tanya langsung, Nara mengatakan jika dia sendiri yang membuatnya," ucap Tara.


"Apa kamu sudah jujur jika kamu ini adalah Tara?' tanya papahnya menatap menyelidik ke arah, Tara.


"Belum, Pah. Hingga detik ini aku belum mengatakan hal ini pada, Nara," ucapnya singkat.


"Lantas kamu akan mengatakan hal itu kapan? jangan sampai suatu saat nanti malah menjadi bomerang bagi dirimu sendiri loh, Tara. Jika suatu saat nanti Nara tahu bahwa kamu adalah Tara dari orang lain itu bisa membuat masalah bagi dirimu sendiri," Papahnya mencoba menasehati.


"Menurut aku belum saatnya saja, Pah. Untuk aku berkata jujur pada, Nara. Yang terpenting untuk saat ini aku ingin bisa lebih dekat lagi padanya dan aku juga ingin membantunya."


"Bagaimana menurut papah tentang cemilan yang tadi aku bawa. Aku berharap papah mau bantu Nara, dengan cara mengizinkan Nara meniyip semua cemilan tadi."


Papahnya menyunggingkan senyum, dia sangat bangga dengan anaknya yang mempunyai sifat terpuji.


"Papah akan membantu Nara, bilang saja pada Nara jika papah sangat menyukai cemilan buatannya dan mengenai harga berapapun yang Nara inginkan darinya akan papah sanggupi. Biar semua cemilan yang Nara buat diproduksi ke dalam mini market dan toko snack kita."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Papahnya, Tara sangat senang.


"Alhamdulillah, terima kasih ya pah atas bantuannya." Tara memeluk papahnya.


Orang tua Tara selalu mendukung segala kemauan anaknya selagi itu adalah hal positif. Mengenai perasaan Tara pada Nara juga tak mendapat hambatan dari orang tuanya. Mereka memberikan lampu hijau pada Tara untuk bisa lebih dekat lagi dengan Nara.


Saat itu juga Tara menelpon Nara untuk membeli tahukan kabar baik tersebut.

__ADS_1


"Hallo, Nara. Maaf ya gwe ganggu loe."


"Nggak apa-apa, memangnya ada apa loe telpon gwe?"


"Gwe ingin memberi tahu kabar baik untuk loe. Jika beberapa cemilan buatan loe itu di sukai oleh nyokap bokap gwe. Dan intinya boleh di produksi di mini market dan toko snack kami."


"Yang benar, Ronald. Wah gwe senang sekali mendengarnya. Tetapi mengenai harganya bagaimana?"


"Kata bokap gwe, seberapun harga yang loe tawarkan akan di sanggupinya."


"Hem, sultan mah gitu. Beda sama gwe sultin hhaaa..."


Setelah sejenak menelpon Nara, Tara langsung mematikan panggilan telpon tersebut pada Nara. Karena Nara sudah tak sabar ingin memberi tahu kabar gembira tersebut pada orang tuanya.


"Ayah-ibu, ada kabar baik nech. Keisengan aku yang suka buat cemilan di kala waktu luang bisa buat untuk penghasilan,' ucapnya sumringah.


"Berarti orang tua Ronald sudah setuju jika kamu akan menitip beberapa cemilan buatanmu di mini market dan toko Snack mereka?" tanya Bu Resy seolah tak percaya.


"Memangnya kapan kamu menawarkan cemilan buatanmu itu, Nara? kok ayah sama sekali tak tahu?" tanya ayahnya.


"Pada saat Ronald datang kemari seusai pulang sekolah, ayah."


Ayah dan ibunya setuju dengan niat Nara inginkan memproduksi cemilan buatannya dalam jumlah banyak. Bahkan ibunya menyanggupi akan membantunya dalam proses pembuatannya.


Rasa bahagia kini sedang di rasakan oleh Nara. Karena dia sebentar lagi bisa mewujudkan keinginannya untuk bisa membantu ekonomi orang tuanya.


"Nara, apa kamu nantinya bisa membagi waktumu dengan kegiatan di sekolahmu?" tanya ayahnya ragu.


"Insa Allah bisa, ayah. Tak perlu khawatir aku tetap akan rajin belajar. Intinya usaha baruku ini tidak akan menganggu waktu sekolahku. Jadi ayah tenang saja ya, aku pasti bisa membagi waktu kok," ucap Nara meyakinkan ayahnya.


"Lantas apa kamu tak kecapean juga nantinya? bikin cemilan dengan beberapa macam kreasi kan butuh waktu tak sebentar. Coba kamu pikirkan lagi," ucap ayahnya lagi.

__ADS_1


"Ayah, percaya saja padaku. Tolong jangan di persulit ya," pintanya Nara memelas.


"Nara, ayah tidak mempersulit dirimu. Hanya ayah tak ingin nantinya ada keluhan kamu cape ini dan itu," ucap ayahnya.


"Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi, ayah. Anakmu ini sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi, jadi tak usah khawatir ini dan itu. Selama aku berbuat hal yang positif," ucap Nara.


"Iya, ayah. Biarkan saja Nara berkreasi, siapa tahu saja ini jalan untuk menuju kesuksesan dia dan tahu-tahu Nara kelak menjadi seorang pengusaha cemilan. Iya kan Nara!" ucap Bu Resy.


"Betul sekali itu, bu," Nara terkikik pelan.


Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya, di dalam hatinya dia senang karena tak lagi melihat wajah murung anaknya.


"Alhamdulillah, Nara sudah tak murung lagi. Apakah ini karena temen barunya yang tajir melintir ini atau karena sebab yang lain ya?" batin Ayahnya penasaran.


Hingga pada saat berada di dalam kamarnya, dia memberanikan diri bertanya pada istrinya.


"Bu, sadar nggak? kalau ayah lihat sekarang ini Nara susah tak murung lagi. Apakah karena dia punya teman baru ya?" tanya ayahnya pada Bu Resy.


"Bukan itu, yah. Nara senang karena bisa mewujudkan keinginannya untuk membantu ekonomi kita. Padahal dari awal ibu sudah menasehatinya, untuk keuangan itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tuanya. Tetapi dia itu keras kepala. Makanya pada saat mendapatkan penawaran bagus ini, Nara sangat senang dan antusias."


"Ayah, ibu sudah tahu apa yang menyebabkan Nara sempat murung. Yakni tingkah Ara."


Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya, dia pun menjadi semakin penasaran.


"Maksudnya ada masalah begitu dengan, Ara? pantas saja Ara tak pernah datang lagi kemari?" tanya ayahnya.


Ibu Resy menceritakan semuanya pada suaminya tentang tingkah Ara yang membuat Nara tak bisa memberikan maaf hingga kini. Suaminya sampai tak percaya dengan sifat asli Ara yang sempat dia pikir sangat baik.


"Bu, pantas saja Nara tak bisa memaafkan Ara. Ayah saja tak terima kok, gadis ayah di permainkan seperti itu. Ayah malah mendukung sekali jika Nara tak memberi maaf pada Ara."


"Jika suatu saat ayah bertemu dengan Ara pasti akan ayah marahi habis-habisan. Kalau perlu ayah bawa dia ke rumah orang tuanya."

__ADS_1


__ADS_2