
Namun teguran dari Mamah Mia tak di respon sama sekali olehnya. Ia malah melajukan mobilnya dengan sangat kencang meniggalkan pelataran rumah Wildan.
Hal ini membuat orang tua Willdan menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.
"Kamu lihat sendiri kan, mah? kelakuan papahnya Tya tadi, nggak ada sopan santunnya sama sekali," ucap Papah Rendra.
"Iya pah, biar saja lah yang penting mereka kan sudah pergi dari rumah kita." Ucap Mamah Rifda seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Papah Rendra pun mengikuti dari belakangnya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Papah Meo melajukan mobilnya begitu kencang membuat Mamah Mia merasa ketakutan.
"Pah, tolong jangan seperti ini. Mamah takut tahu, kalau sampai terjadi kecelakaan bagaimana?" tegurnya kesal.
Lantas Papah Meo memperlambat laju mobilnya setelah mendapat teguran dari istrinya.
"Makanya lain kali kalau ada suamiku ngomong itu didengarkan jangan seenaknya sendiri jangan semaunya sendiri, akhirnya kamu lihat sendiri kan kita dipermalukan seperti tadi," ucap Papah Meo kesal.
"Papah saja yang terlalu sensitif orangnya, hanya begitu saja langsung sewot," ejek Mamah Mia.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Meo hanya diam saja tak berkata lagi. Hanya merespon dengan lirikan matanya saja.
Tak berapa lama, mereka sampai juga di rumah akan tetapi kemarahan Meo belum juga mereda bahkan ia membanting pintu mobil pada saat keluar dari mobilnya, hingga membuat Mia tersentak kaget.
"Astaghfirullah aladzim, kenapa juga suamiku kok kasar banget seperti itu ya," gumamnya seraya mengusap dada dan menghela napas panjang.
Pada saat Mia masuk ke dalam rumah ia pun teringat akan anaknya yang sedari tadi tak kunjung keluar dari kamarnya. hingga ia menyambangi kamar Tya dan mengetuk pintunya.
"Tok tok tok tok"
Namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar tersebut.
"Tok tok tok tok tok"
__ADS_1
kembali lagi Mia mengetuk kamar tersebut.
"Tya, makan dulu. Dari semalam kamu itu belum makan loh," panggilnya akan tetapi tak kunjung ada jawaban.
Hingga membuat Mamah Mia menjadi cemas dan khawatir. Ia pun melangkah menuju ke kamar suaminya untuk mengatakan rasa kekhawatirannya.
"Pah, cepat kita ke kamar Tya. Dari tadi aku ketuk pintunya tak juga ada jawaban dari Tya. Mamah khawatir, pah," ajaknya seraya memaksa suaminya ikut melangkah ke kamar anaknya lagi.
"Mungkin Tya sedang tidur, mah. Nggak usah di buat drama begitu. Nggak usah negatif thinking seperti itu," ucap Meo kesal akan tetapi ia tetap mengikuti kemauan istrinya.
Pada saat mereka sampai di depan kamar Tya, kini giliran Meo yang mengetuk pintu kamar milik Tya.
"Tok tok tok tok"
"Tya, buka pintunya. Keluarlah nak, ada yang ingin papah bicarakan denganmu."
Namun tidak ada suara sama sekali, hingga membuat Mia semakin bertambah panik.
"Tuh kan, pah. Sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Mamah jadi bertambah khawatir, pah," ucapnya dengan mimik gemetaran.
Dan alangkah terkejutnya suami istri ini pada saat melihat kondisi Tya yang sudah tak sadarksn diri tergeletak di lantai dengan tangan bersimbah darah.
"Tya...." Tangis Mia pecah seketika itu juga.
Sementara Meo mencari batu untuk memecahkan kaca jendela hingga dirinya bisa masuk ke kamar Tya.
Secepat kilat Meo membuka kunci kamarnya dan ia mengangkat tubuh Tya melangkah ke menuju ke arah mobil yang kebetulan mobil masih parkir di pelataran rumah.
Saat itu juga Meo di temani istrinya membawa Tya ke rumah sakit terdekat. Tak berapa lama mereka sampai juga di rumah sakit, dan Tya langsung di larikan ke ruang UGD karena kondisinya yang sudah sangat parah.
"Ya Allah, apa yang di lakukan oleh putriku. Mengapa ia senekad itu ingin bunuh diri. Selamatkanlah anakku ya Allah."
Mia sangat panik sekali
__ADS_1
"Kenapa Tya melakukan hal ini? kenapa nekad sekali ya Allah," batin Meo.
"Aku mohon selamatkan anakku ya Allah, jika tidak seumur hidup aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," batin Meo ia juga khawatir dengan nasib anak semata wayangnya.
Begitu lama suami istri ini menunggu kabar tentang kondisi anaknya. Keduanya terus saja mondar-mandir di depan ruangan UGD tersebut.
Hingga tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan tersebut di buka oleh perawat dan keluarlah dokter yang menangani Tya.
Suami istri ini langsung saja berlari menghampiri sang dokter.
"Dok, bagaimana kondisi anak kami?" serentak tanya suami istri ini.
"Alhamdulillah, nyawanya masih bisa di selamatkan. Jika terlambat sebentar lagi ia sudah kehilangan banyak darah dan bisa saja nyawanya tak terselamatkan. Untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri."
Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, serentak suami istri ini mengucap rasa syukur yang tak terkira pada Allah. Karena doa mereka di kabulkan.
Satu jam berlalu barulah Tya sadarkan diri, akan tetapi ia tak berkata apapun hanya air mata yang membasahi pipinya, dan tatapan matanya terus saja menatap ke langit-langit kamar.
"Kenapa usahaku bunuh diri tidak berhasil? padahal aku sudah tak ingin hidup di dunia ini. Percuma saja aku hidup jika harus patah hati seperti ini. Untuk apa pula aku hidup jika Wildan sama sekali sudah tak mau memaafkan aku dan tak menghiraukan aku lagi," batinnya terus saja berkelih kesah.
"Tya, jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu ini ya? kami sangat takut sekali melihatmu tadi seperti itu," ucap Mia.
"Tya, maafkan papah ya."
Namun Tya sama sekali tak merespon ucapan orang tuanya. Ia terus saja menatap langit-langit kamar rumah sakit seraya air matanya tak berhenti menetes.
"Mah, bagaimana ini? kok Tya tak merespon kita," bisik Meo semakin panik.
"Entahlah, mamah juga bingung. Coba dulu papah tak memaksa Tya putus dari Willdan dan menikah dengan pilihan papah itu. Masa saat ini Tya bahagia bersama dengan pilihannya. Tidak seperti sekarang ini," ucap Mia lirih ia pun tak kuasa menitikkan air matanya juga melihat kondisi Tya.
Mendengar. perkataan istrinya, Meo tak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya diam seribu bahasa, ia menyadari akan segala kesalahannya yang telah memaksakan kehendaknya dahulu pada anak semata wayangnya.
Sementara pikiran Tya terus saja traveling pada saat mendapatkan penolakan dari Willdan.
__ADS_1
"Willdan, kenapa kamu sama sekali tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan segalanya bahwa apa yang dahulu aku lakukan itu bukan kemauanku tapi kemauan orang tuaku terutama papah," batin Tya.
"Papah juga kenapa pula egois tak membiarkan aku bahagia dengan pria pilihanku sendiri."