Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Kembali Di Hukum


__ADS_3

Ara pulang dengan rasa kecewa dan sedih, hingga sampai rumahpun wajahnya masih murung. Kebetulan Papah Yoga sedang ada di rumah karena tak berangkat ke kantor. Dia langsung menatap wajah Ara tajam.


"Ara, kamu baru pulang? duduklah, papah ingin bicara padamu," pinta Yoga.


Ara pun menjatuhkan pantatnya di kursi teras halaman. Dia merasa heran melihat wajah papah seperti sedang menahan emosi.


"Ada apa, pah?" tanya Ara heran.


"Kamu telah ingkar janji pada, papah. Papah dengar kamu itu telah menghina Tarado sekolah bahkan kamu menghasutnya juga hingga Tara salah paham pada, Nara."


"Kenapa kamu bukannya berubah lebih baik, tetapi malah lebih buruk? kenapa kamu mengatakan pada Tara jika Nara dekat dengannya karena Tara itu kaya?"


Mendengar apa yang di katakan oleh papahnya, Ara terunduk dia tak bisa berkata-kata lagi.


"Kenapa diam, coba jawab? papah sangat kecewa dengan kelakuanmu itu! percuma jika kamu sudah minta maaf pada mereka tapi kamu melakukan hal yang lebih parah lagi!'


"Apa pernah Tara mengejekmu yang pincang ini? kenapa kamu tega mengejek wajah dia yang rusak karena alami kecelakaan. Apa kamu tak bisa bayangkan bagaimana jika kamu yang ada di posisi dia, hah?"


Ara masih belum bisa berkata, dia hanya diam seribu bahasa. Dia bingung mau memberikan pembelaan seperti apa lagi. Hingga pada akhirnya, Ara memberanikan diri berkata.


"Pah, siapa yang telah mengadu? apakah Nara atau Tara?" tanya Ara.


"Itu bukan hal penting yang perlu kamu tahu, tapi papah ingin tahu kenapa kamu melakukan itu semua? kenapa kamu berubah hanya sekejap saja?" tanya Yoga sangat kesal.

__ADS_1


"Aku kesal, pah. Aku cemburu pada saat tahu Nara pacaran sama Tara. Kenapa dia masih mau sama Tara yang wajahnya sudah cacat? kenapa dia tak mau sama aku padahal aku cuma pincang tali wajahku tak rusak seperti, Tara!" ucap Ara pada akhirnya.


"Oh jadi intinya kamu ingin hubungan mereka hancur dengan kamu mengatakan hal buruk tentang Nara pada Tara? picik sekali pikiranmu, Ara! padahal kami tidak pernah mengajarkan hal buruk padamu, tetapi kenapa kamu tumbuh seperti ini?" Yoga sangat kesal dia pun menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


"Pah, aku ingin Nara mau sama aku. Tapi susah sekali untuk bisa meluluhkan dia lagi. Aku kesal pada keduanya, pah.".


"Kamu seharusnya koreksi dirimu sendiri. Kenapa Nara masih mau sama Tara walaupun wajah dia sudah jelek. Karena yang di lihat oleh Nara adalah hati, Tara. Kamu menghasut Tara seperti itu, apa yang kamu dapatkan? apa Nara kembali lagi padamu, menjadi pacarmu lagi? yang ada saat ini Nara semakin benci padamu, secara tidak langsung kesempatan untukmu mendapatkan cinta Nara lagi tak akan pernah kesampaian. Apa lagi sekarang Nara sudah pergi jauh kan?" ucap Yoga begitu kesalnya


Yosi yang baru saja datang dari arah dalam rumah menjadi heran saat melihat suaminya begitu kesal.


"Pah, kamu kenapa marah-marah seperti itu sih? sabar, pah. Semua kan bisa di bicarakan secara pelan-pelan jangan pakai emosi seperti ini. Ingat kesehatanmu, pah," tegur Yosi.


"Bagaimana aku nggak marah, mah. Apa yang telah di lakukan oleh Ara sangat keterlaluan! baru beberapa hari mengatakan menyesal dan akan benar-benar berubah, tapi ini justru melakukan kesalahan yang fatal. Apa arti permintaan maafnya pada Tara dan Nara? jika dia mengulangi lagi bahkan lebih parah!" ucap Yoga lantang.


Yoga menceritakan semua apa yang telah di lakukan oleh Ara pada Tara dan Nara. Dia tahu semuanya itu tak lain dari Bimo.


Mendengar apa yang di katakan suaminya, Yosi juga merasa kecewa akan apa yang telah di lakukan oleh Ara.


"Astaghfirullah aladzim, Ara. Kenapa kamu bertindak memalukan seperti ini, sih? katanya taubat dan sadar serta tidak akan mengulangi lagi tetapi malah seperti ini. Perbuatan kamu ini bukan hanya membuatmu di benci oleh Tara dan Nara. Tapi membuat mamah dan papah malu pada mereka. Kami sudah bersusah payah ke rumah Nara membantu memintakan maaf padanya. Kini kamu ulangi lagi!" Yosi juga sangat kesal pada anak semata wayangnya itu.


Ara dari tadi hanya diam tak bisa berkata apa-apa, dia terus saja tertunduk ketakutan.


"Mah, mulai detik ini aku tidak akan peduli lagi pada Ara. Kamu urus sendiri anakmu yang sangat penurut itu! aku juga akan mencabut semua fasilitas padanya! silahkan kamu cari biaya sendiri untuk sekolahmu!" Yoga berlalu pergi dari hadapan Ara dan Yosi.

__ADS_1


"Kamu lihat, Ara. Perbuatanmu.ini telah membuat marah papah. Kira tak bisa apa-apa tanpa adanya papah. Jika papah tak peduli lagi padamu, lantas bagaimana kamu akan bayar biaya sekolahku yang tak sedikit itu?" ucap Yosi bingung.


"Mah, aku minta maaf ya. Entah kenapa waktu itu aku tak bisa menahan rasa emosiku. Jadi tiba-tiba saja aku berkata buruk pada Tara dan Nara," ucap Ara memelas.


"Sekarang kamu benar-benar harus urus dirimu sendiri. Karena mamah juga tak bisa bantu kamu. Cari sendiri ya jalan keluarnya, mamah pusing! punya anak satu seperti punya anak sepuluh, bandelnya minta ampun! tak pernah ada jeranya sama sekali!" Yosi menghela napas panjang, ia juga beranjak masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Ara.


"Masa iya aku harus bekerja di sela sekolah aku, apa lagi dengan kondisi kakiku yang seperti ini? ya ampun, pah. Hanya masalah seperti itu saja di buat besar sampai menghukum aku lagi," gumam Ara.


"Biar sajalah, paling juga papah gertak sambal doang. Untu apa dipikirkan hal ini. Kalau ada bayaran sekolah aku tetap minta sama papah atau mamah."


"Kalau aku harus naik sepeda lagi ke sekolah ya sudah tak apa-apa. Lagi pula sekolah tinggal satu tahun lagi juga lulus. Masa iya selama satu tahun papah akan terus marah padaku. Paling juga marah sebulan dua bulan seperti waktu itu."


Ara masih saja menggampangkan apa yang di katakan oleh Yoga. Dia bersikap masa bodoh.


Sementara Tara ters saja berusaha menghubungi Nara, tetapi nomor ponsel masih saja tak aktif. Dia pun semakin tak tenang karenanya.


Kepalanya mulai terasa sakit karena berpikir yang berlebihan padahal sudah di nasehati oleh dokter untuk tidak berpikir terlalu keras.


"Aaahhhh.... mamah." Tara tetap saja mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya.


Hety mendengar teriakkan dari Tara, dia langsung berlari dari kamarnya ke arah kamar Tara.


"Ada apa, Tara?" Hety mulai panik.

__ADS_1


"Mah, kepalaku sakit luar biasa," rintih Tara.


__ADS_2