
Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa sudah satu bulan berlalu dari Tara berkunjung ke rumah baru, Nara.
Tapi Tara dan Nara masih saja aktif saling berhubungan lewat panggilan telepon baik itu via suara maupun via video call.
Hingga pada suatu hari sikap Tara tiba-tiba berubah begitu saja, setelah di kelasnya ada siswi baru yang paras wajahnya hampir menyerupai, Nara.
Nama siswi tersebut yakni Laura, bahkan dia saat ini duduk di bangku yang semula ditempati oleh Nara.
Sejak saat itu sikap Tara berubah, dia takkan menelpon Nara terlebih dahulu jika Nara yang tak telpon dirinya.
"Hai, Ronald. by the way loe sudah punya cewek belum ya?" tanya Laura penasaran.
"Memangnya loe pernah melihat gue jalan dengan seorang cewek di sekolahan ini?" ucap Tara.
"Nggak sih berarti loe jomblo dong," ucap Laura begitu riangnya.
"Ya beginilah seperti yang loe lihat. Lagi pula mana ada sih cewek yang mau sama gue," ucap Tara merendahkan dirinya di hadapan Laura.
"Masa sih, cowok setampan elo pasti banyak lah cewek yang minat hanya saja loenya saja kali yang terlalu banyak memilih," ucap Laura tak percaya.
"Gue serius kok, memangnya ada tampang berbohong dari wajah gue," Tara menaik turunkan alisnya.
"Iya iya gue percaya deh sama loe. Berarti ada dong harapan dan kesempatan buat gue untuk bisa menjadi cewek loe," ucap Laura tanpa ada rasa malu.
"Memangnya loe mau jadi cewek gue?" Tara malah balik bertanya.
"Siapa sih yang nggak mau jadi cewek, loe. Ya jelas gue mau lah, banget malah," ucap Laura.
"Ya sudah, kita mulai sekarang kita pacaran ya. Tapi ya beginilah adanya gwe, jadi loe juga harus bisa terima," Tara meraih tangan Laura.
__ADS_1
Pemandangan ini sempat dilihat oleh Ara. iya pun penasaran apakah Tara sudah tidak menjalin hubungan dengan Nara.
Dengan penuh keberanian Ara menghadiri Tara walaupun di sampingnya ada Laura.
"Tara, loe jadian sama Laura memangnya loe sudah putus sama Nara?" tanyanya ketus.
"Tara, bukannya nama ia Ronald. k
Kenapa loe memanggilnya Tara?" tanya Laura heran.
"Lantas siapa itu, Nara?" tanya Laura lagi.
"Aduh, kenapa juga si Ara ingin mengacaukan segalanya seperti ini?" batin Tara gelisah.
Belum juga Tara berkata pada Laura kembali lagi Ara berkata panjang lebar.
"Nama aslinya Tara hanya saja dia di sekolahan dipanggil Ronald. Dia punya kekasih bernama Nara, tapi tak tahu saat ini masih berhubungan atau tidak karena kekasihnya itu berada di luar kota," ucap Ara dengan pastinya.
"Iya sebagian benar dan sebagian tidak. Nama gwe memang Tara, tapi di sekolah ini memang dipanggil Ronald dan gwe memang sempat menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Nara. Tetapi sejak dia pindah di luar kota kami sudah los kontak atau tidak berhubungan bahkan sudah menyatakan putus," ucap Tara berbohong.
"Wah jika begitu ini kesempatan gue dong untuk bisa mendapatkan Nara kembali, jadi loe udah putus ya sama Nara? syukurlah kalau begitu gwe senang sekali hingga tidak ada lagi hambatan gue untuk bisa mendapatkan cinta Nara kembali." Ucap Ara lalu dia berlalu begitu saja.
"Sialan, aku tidak akan biarkan hal itu terjadi. Nara hanya milik gue seorang. Gwe menjalin hubungan dengan Laura hanya sebatas untuk pelarian saja di kala gue merasa kesepian karena Nara jauh dari gwe. Tetapi cinta tulus gwe sesungguhnya hanya untuk Nara," batin Tara bergumam.
Sementara di tempat lain Nara selalu saja murung dan gelisah karena beberapa hari terakhir Tara susah sekali untuk dihubungi.
"Hai Nara, istirahat kok di dalam saja apa kamu nggak lapar?" sapa seorang pemuda yang sejak Nara masuk di sekolah itu selalu berusaha mendekatinya.
"Kebetulan aku sedang tidak ingin makan apa-apa, jadi lebih baik aku di dalam kelas saja," jawab Nara seraya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Boleh nggak aku duduk di sini ya sekedar ingin ngobrol denganmu," ucap Andre.
"Silakan saja memangnya kamu nggak pergi ke kantin juga?" tanya Nara.
Nara dan Andre begitu dekat tapi mereka hanya sebatas teman tidak lebih. Walaupun Andre sangat berharap jika Nara mau menjadi kekasih dirinya.
"Nara, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan? terlihat sekali dari raut wajahmu murung begitu tidak ceria seperti biasanya," Andre mencoba mengorek keterangan dari Nara.
"Aku nggak ada apa-apa kok, hanya ingin diam saja dan mungkin lelah karena di samping aku sekolah juga mempunyai usaha cemilan di rumah," ucap Nara berbohong.
"Lantas bagaimana hubunganmu dengan Tara, semoga baik-baik saja ya?"
Pertanyaan Andre kali ini sangat menyentuh hati Nara. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan pribadinya terhadap Andre tetapi semakin dia memendam kegelisahan tersebut pikirannya menjadi tak karuan begitu pula dengan hatinya. Hingga ia pun menceritakan hal itu pada, Andre.
"Entahlah Ndre, karena akhir-akhir ini Tara tidak seperti dulu lagi. Biasanya dia berkali-kali menghubungiku baik lewat panggilan telepon maupun panggilan via video."
"Tapi beberapa hari ini selalu saja aku yang menelponnya terlebih dulu, itu pun hanya beberapa menit saja. Tara selalu beralasan jika dia banyak tugas dari sekolah yang harus dikerjakan hingga tidak ada waktu untuk ngobrol lebih lama denganku."
"Kadang aku bingung ada apa dengan sikap Tara yang menurutku semakin hari semakin berubah dan semakin menjauh dariku."
Mendengar cerita dari Nara, Andre sebenarnya ada rasa bahagia karena kesempatannya untuk bisa mendapatkan cinta Nara lebih besar tetapi hati kecilnya berkata lain lagi dia merasa iba pada Nara.
"Memangnya kamu tidak berusaha bertanya pada orang tuanya, apakah memang Tara benar-benar sibuk dengan urusan sekolahnya? bukankah kamu begitu dekat dengan orang tua Tara?" saran Andre.
"Aku tidak terlalu dekat dengan orang tuanya dan aku juga tidak enak jika bertanya hal pribadi tentang Tara terhadap orang tuanya," ucap Tara.
"Jika kamu tidak mau berkata jujur pada orang tuanya mau sampai kapan hubunganmu dengannya seperti ini? bukankah jika ada suatu masalah sebaiknya harus segera diselesaikan? daripada permasalahan itu berlarut-larut dibiarkan bisa menjadi sebuah boomerang bagi hubunganmu dengannya," ucap Andre memberikan sebuah saran.
Walaupun dia mempunyai rasa cinta terhadap Nara tetapi dia juga tak tega melihat kehancuran yang terjadi pada Nara. Maka dari itu Andrew memberikan sebuah solusi supaya Nara bisa memecahkan permasalahan tersebut.
__ADS_1
Dia tak ingin melihat kehancuran pada diri Nara walaupun dia begitu sangat menginginkan Nara menjadi kekasihnya.
Dia percaya dengan pepatah cinta tidak harus memiliki.