
Esok harinya, Tya sudah di izinkan untuk pulang ke rumah. Akan tetapi hati Tya masih saja terasa sakit mengingat kedatangan Wildan pada waktu itu tidaklah sendiri melainkan dengan kekasihnya yakni Nara.
Wajah murung terus saja terlihat sangat jelas pada diri Tya.
"Mah, bukankah Wildan sempat jenguk Tya pada saat ia masih di rawat di rumah sakit? apa Wildan tidak datang?" tanya Meo menyelidik.
"Datang, pah. Hanya saja Wildan datang tidak sendiri, ia membawa kekasihnya. Hal ini yang membuat Tya murung seperti itu, pah. Ia belum bisa menerima kenyataan jika Wildan sudah punya kekasih baru," ucap Mia menjelaskan.
"Astaga...apa Wildan tidak punya hati nurani sama sekali ya? ataukah ia sengaja melakukan itu untuk balas dendam atas apa yang pernah kita lakukan kepadanya ya, mah?" tanya Meo.
"Entahlah, pah. Intinya apa yang pernah mamah khawatirkan dan takutkan benar-benar terjadi juga."
"Kita tidak bisa menyalahkan sepihak, apalagi yang memulai permasalahan dan menyalahi dulu adalah pihak kita."
"Mamah sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, pah. Karena sudah tidak ada jalan lagi untuk memperbaiki kesalahan kita terhadap keluarga Wildan."
"Mamah juga bingung mau berkata apa lagi pada Tya supaya ia bisa tersenyum seperti sedia kala."
Mamah Mia sudah benar-benar menyerah pasrah dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan mereka. Ia juga tak menyalahkan apa yang di lakukan oleh Wildan. Ia tahu jika Wildan sengaja datang dengan kekasihnya karena tak ingin Tya terlalu berharap padanya.
"Lantas jika anak kita terus murung seperti itu bagaimana? kan kasihan juga, mah," protes Meo.
"Sekarang kamu baru merasakan kasihan pada Tya, pah? lantas bagaimana waktu itu, pada saat kamu memaksa Tya untuk menerima perjodohan begitu saja?"
"Bahkan kamu mengancam Tya kan? pada saat Tya menolak, kamu marah dan mengancam tidak akan mengakui Tya sebagai anakmu."
"Bahkan kamu mengatakan jika Tya tak mau, sama saja ia itu seorang anak yang durhaka dan tak patuh pada orang tua."
__ADS_1
"Kamu lupa ya pah, kamulah yang terus saja memojokkan Tya untuk memutuskan Wildan."
"Bahkan, mamah sudah mengingatkanmu supaya tak usah mengundang Wildan pada saat Tya menikah."
"Tapi kamu tetap saja mengundangnya bahkan tanpa sepengetahuan mamah dan Tya."
"Sekarang Tya terpuruk, kamu sama sekali tak bisa berbuat apa-apa kan?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mia, ada rasa kesal pada diri Meo. Karena ia merasa istrinya terus saja memojokkan dirinya terus.
"Mah, tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah dan menderita. Aku ingin yang terbaik untuk anak semata wayang kita, mah," ucap Meo membela diri.
"Mana buktinya, yang terbaik apaan? Tya tak bahagia malah menderita lah ya, menjadi janda di usianya yang masih sangat mudah," protes Mia.
"Mah, jangan ters memojokkanku. Seharusnya mamah menyalahkan saja pihak mantan suami Tya yang salah bukan aku," celoteh Meo tak terima dirinya di salahkan.
"Mah, papah kan belum selesai berkata sudah pergi saja. Kebiasaan kamu mah, selalu dan selalu seperti ini. Istri tak sopan dan tak punya etika sana sekali."
"Jika pria lain pasti sudah menalakmu karena kamu itu tak pernah bisa menghargai suami dan selalu saja membangkang dan seperti ini."
Meo terus saja mengoceh tak karuan seperti itu, akan tetapi Ma tak bisa mendengarnya sama sekali. Karena saat ini ia sudah ada di dalam kamar Tya.
"Mah, sepertinya papah sedang marah ya pada mamah? apa karena aku lagi?" tanya Tya yang sedikit mendengar dari kamarnya Meo menggerutu tapi tidak terdengar jelas.
"Biarkan saja, Tya. Begitulah Papahmu jika di ajak bicara yang ada emosi dan selalu menyalahkan mamah," ucap Mia kesal.
"Tya, mamah minta kamu yang tegar yang kuat ya," ucap Mia mulai menghibjr Tya dengan kata-kata.
__ADS_1
"Ya, mah. Tenang saja aku takkan apa-apa kok, jika di telusuri Wildan juga sebenarnya tak salah. Aku tahu ia lakukan itu supaya aku tidak terus berharap padanya. Hanya saja aku sedikit kecewa karena kenapa ia datang bersama kekasihnya di kala aku sakit," ucap Tya seraya pandangannya menerawang jauh.
"Sudahlah, Tya. Mamah berharap kamu bisa lekas move on dari Wildan, janganlah kamu terus menoleh kebelakang. Tatapalah ke depan di mana tersedia masa depan yang indah untukmu," ucap Mia mencoba menasehati Tya.
"Iya mah, aku akan coba untuk move on dari Willdan dan membuka hati untuk pria lain. Tapi untuk sementara waktu aku ingin mencari pekerjaan dulu supaya aku tak terus memikirkan kegagalan rumah tanggaku ini dan juga bisa sedikit menghibur kegalauan hati karena Willdan," ucap Tya mencoba meyakinkan Mia.
"Kenapa kamu nggak bekerja di kantor papah saja, Tya?" saran Mia.
"Nggak lah, mah. Aku nggak mau di kantor papah, kalau sudah niat pasti sudah aku lakukan dari dulu mah."
Tya menolak saran Mia untuk bekerja di kantor papahnya sendiri, membuat Mia penasaran kenapa juga Tya tak mau bekerja di kantor papahnya sendiri.
"Memangnya kenapa kamu tak mau bekerja di perusahaan papah?" tanya Mia penasaran.
"Nggak lah, mah. Sifat Papah kan mamah sudah tahu, lagi pula apa kata para karyawan papah jika aku kerja di kantornya?" ucap Tya.
"Tya, kelak juga perusahaan papah untukmu juga karena kamu ini kan anak satu-satunya kami. Jadi wajarlah jika mulai sekarang kamu belajar mengelola usaha Papahmu. Jadi jika papah sudah tak mampu lagi, kamu sudah bisa menghandle perusahaan dan sudah handal tak perlu lagi berlatih," ucap Mia berusaha membujuk Tya.
Namun Tya sudah berpegang teguh dan tetap kokoh pada pendiriannya untuk tidak bekerja di perusahaan papahnya.
Karena selama ini juga ia tidak pernah dekat dengan papahnya. Ia seringkali berselisih paham dengan papahnya, ia lebih dekat dan sering curhat dengan mamahnya saja.
Sebenarnya watak Tya itu menurun dari watak Meo. Ayah dan anak ini sama-sama memiliki sifat yang keras kepala sehingga mereka tidak pernah bisa akrab satu sama lain jika berdekatan selalu saja berselisih paham.
"Langkah awal aku akan mendekati kekasih Wildan yang sekarang. Aku ingin tahu sejak kapan mereka itu menjalin kasih. Karena aku memang belum yakin jika mereka benar-benar telah berpacaran,' batin Tya.
Tya sengaja membohongi Mia dengan berkata jika dirinya akan mulai hidup baru.
__ADS_1