Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Pesona Willdan


__ADS_3

Pagi menjelang, Wildan dengan semangatnya yang menggebu telah siap akan pergi ke kampus. Di samping ia sebagai dosen, ia juga seorang direktur utama di sebuah perusahaan besar milik peninggalan mendiang Opa dari mamahnya.


Wildan sengaja mencari pekerjaan lain untuk mencari seorang calon istri yang benar-benar sesuai dengan kriteria dirinya.


Dia berinisiatif untuk menjadi seorang dosen di salah satu universitas terkenal di pusat kota J tersebut.


"Pah-mah, aku berangkat ke kampus dulu ya? kebetulan hari ini jadwal mengajar pagi hingga aku ke kantornya sepulang dari kampus."


Pamit Wildan seraya mencium punggung tangan orang tuanya.


"Wildan, apa kamu tak terlalu cape dengan dua pekerjaan sekaligus?" tanya Mamah Rifda merasa ragu.


Belum juga Willdan menjawab apa yang ditanyakan oleh mamahnya, Papahnya telah menyela terlebih dahulu.


"Mah, nggak usah khawatir. Wildan bisa membagi waktunya dengan baik kok, ia kan bukan anak kecil lagi yang harus diatur ini dan itu. Apalagi papah sudah tahu tujuan utama ia mengajar di kampus itu untuk apa." Papah Rendra menaik turunkan alisnya seraya senyam-senyum menatap ke arah Wildan.


"Nah itu papah sudah tahu, mah. Jadi aku tak perlu menjawab pertanyaan dari Mamah tadi kan?" ucap Wildan mengedipkan matanya ke arah Mamah Rifda seraya terkekeh.


Hal ini membuat Mita dan mamah Rifda menggelengkan kepalanya melihat tingkah Wildan.


"Ya sudah kalau begitu kamu yang hati-hati mengemudikan mobilnya, nggak usah ngebut-ngebut. Dan juga mamah berdoa semoga kamu menemukan tambatan hatimu di universitas tersebut," pesan mamah Rifda seraya menyunggingkan senyuman.


"Amin ya Allah, semoga doa dari seorang mamah diijabah dan aku lekas menemukan tambatan hatiku di kampus tersebut." Sejenak Willdan memejamkan matanya seraya menengadahkan kedua tangannya ke atas.


"Mita, kamu ikut papah saja ya. Karena Mas buru-buru," ucap Wildan.

__ADS_1


"Hemmmm... buru-buru ingin bertemu tambatan hatinya kan?" goda Mita terkekeh.


"Sudahlah, nanti aku nggak berangkat-berangkat. Bisa telat dech sampai kampus."


Saat itu juga Wildan berlalu pergi dari ruang makan menuju ke garasi mobil seraya berlari kecil karena takut terlambat ke kampus.


Beberapa menit saja, ia telah sampai di kampus. Dan lekas memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkiran mobil. Pada saat ia melangkah ke ruangan dosen, hampir semua murid kampus tersebut mencari perhatian dengan menyapanya hanya ingin mendapatkan respon sebuah senyuman yang manis dari Willdan.


Beberapa saat setelah Wildan masuk ke ruang khusus dosen, bel masuk pun. Kebetulan pagi ini, ia tidak mengajar di kelas Nara. Padahal ia ingin sekali mengajar di kelas Nara supaya ia bebas menatap lebih lama wajah cantik Nara sang pujaan hatinya.


Seluruh murid wanita yang ada di kelas Nara pun merasa kangen dengan Wildan. Bahkan semuanya tidak fokus dengan ajaran dosen yang saat itu sedang menjelaskan beberapa materi. Mereka hanya asyik dengan menggosipkan guru baru yang tampan rupawan mengikat hati para mahasiswi di kampus tersebut.


"Eh sayang banget dech hari ini si tampan Wildan tidak mengajar di kelas ini membuatku merasa tak bersemangat."


"Kalian pada tahu belum kalau sebenarnya pak Wildan itu bukan hanya seorang dosen di sini tetapi dia juga seorang direktur utama di sebuah perusahaan yang sangat besar di pusat kota J ini?"


"Kebetulan salah satu saudaraku bekerja menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan yang saat ini dipimpin oleh pak Wildan."


tok tok tok tok tok tok tok


Ibu dosen yang saat itu sempat melihat para murid wanitanya sedang asyik ngerumpi mengetukkan penggarisnya begitu keras sehingga semuanya terdiam tertunduk tak lagi berkata-kata.


Ibu dosen tersebut menghampiri beberapa murid wanitanya yang ketahuan sempat mengobrol di jam pelajaran yang sedang ia ajarkan.


"Kalian ini datang kemari niatnya untuk belajar atau hanya untuk ngerumpi? jika kalian ingin ngerumpi sebaiknya keluar dari kelas ini dan jangan ikuti pelajaran saya untuk beberapa pekan!" bentaknya membuat beberapa murid wanita tersebut terhenyak kaget.

__ADS_1


"Saya tekankan sekali lagi jika kalian datang ke kampus ini untuk mencari ilmu sebaiknya kalian fokus dengan pelajaran yang sedang diterangkan! jangan seenaknya sendiri ngobrol ngalor ngidul apalagi obrolan kalian itu seputar laki-laki!"


"Untuk apa kalian kuliah tapi yang ada di otak kalian hanyalah laki-laki! kasihan juga kan orang tua kalian yang kerja mati-matian untuk membayar uang kuliah kalian yang tidak sedikit jumlahnya."


"Sebaiknya kalian berhenti kuliah saja, tetapi melanjutkan ke jenjang pernikahan saja, supaya tidak memikirkan laki-laki. Percuma kalian kuliah jika seperti itu."


Setelah mengucapkan banyak hal kepada para murid wanitanya, ibu dosen kembali ke depan kelas untuk melanjutkan materi pelajaran yang sedang ia terangkan saat itu, yang sempat terhenti karena terganggu oleh obrolan para murid wanitanya yang begitu keras.


"Pesona Mas Wildan memang benar-benar luar biasa, hampir semua murid wanita di kampus ini selalu memujanya membicarakannya. Akankah aku bisa mendapatkan hatinya ya?" batin ibu dosen, iia pun tak memungkiri jika dirinya juga terpikat pada pesona ketampanan Wildan.


Sejak kedatangan si tampan Wildan, semua para wanita seperti sedang berlomba-lomba ingin mendapatkan hatinya. Begitu pula para dosen wanita yang statusnya masih lajang.


Bahkan ada yang berstatus janda pun tak mau kalah, ia juga turut berlomba mendapatkan simpatik dari Wildan.


Tanpa mereka tahu jika yang ia suka hanyalah Nara. Karena pada pandangan pertama, ia langsung jatuh cinta pada gadis cantik yang penampilannya sederhana dan tak banyak tingkah tidak seperti mahasiswi lainnya.


Saat ini Wildan juga tak fokus mengajar di kelasnya, karena ia teringat selalu pada wajah ayu Nara.


"Coba ya, setiap hari aku mengajar di kelas Nara. Pasti aku akan selalu semangat dan sangat bahagia.".


"Tapi nggak apa-apa dech, setidaknya aku kini tahu jika di kampus ini aku telah menemukan tambatan hatiku. Aku akan berusaha semampuku untuk bisa mendapatkan hati Nara."


"Kadang aku heran pada gadis yang satu ini. Kenapa ia seolah tak tertarik padamu ya? tidak seperti mahasiswi yang lain yang selalu saja mencari perhatian padaku?"


"Apakah bagi Nara aku ini tidak tampan ya? lantas pria seperti apa yang menjadi kriteria bagi Nara ya?"

__ADS_1


Terus saja Willdan menggerutu di dalam hati memikirkan Nara, bahkan tanpa sepengetahuan Nara. Willdan telah mencuri fotonya, pada saat Nara lengah, ia mengabadikan lewat kamera di ponselnya. Akan tetapi ia belum berani untuk memakai foto Nara sebagai wallpaper ponselnya.


__ADS_2