
Kebetulan di kantor tidak begitu sibuk, hingga Hesa tidak begitu gugup ke kantor. Ia memutuskan untuk bertanya pada istrinya tentang sikapnya pada Tara.
"Mah, apa kamu sedang marah pada Tara?" tanyanya menyelidik.
"Iya, pah."
"Lantas apa yang membuatmu marah padanya?" tanya Hesa heran.
Hety pun menceritakan apa yang telah terjadi selama ini. Bagaimana Tara telah berbohong padanya walaupun sudah berkali-kali di tegur olehnya namun tidak berkata jujur melainkan masih saja menutupi kebohongannya itu.
"Mah, nanti sore kita bicarakan hal ini. Seharusnya dari kemarin mamah katakan hal ini pada papah," ucap Hesa.
"Maafkan mamah ya pah, mamah pikir tanpa harus mengatakan pada papah. Mamah bisa menyelesaikan sendiri permasalahan Tara ini, tetapi tidak," ucap Hety sedih.
"Sudahlah, mah. Tak usah bersedih lagi. Nanti sore pasti permasalahan akan selesai dan anak kita akan berkata jujur. Sekarang papah ke kantor dulu ya." Hesa mencium kening istrinya.
"Ya, pah. Hati-hati ya."
Hety mencium punggung tangan suaminya.
Beberapa menit kemudian Tara telah sampai di sekolahnya. Ia pun langsung mendekati Laura.
"Memang kemarin loe ke mana nggak berangkat, kenapa pula loe nggak angkat telpon dari gwe hingga sore loe juga tak hubungi gwe," tegur Tara pada Laura.
"Sorry, Ronald. Kemarin gwe ada acara mendadak yakni acara keluarga dan pulangnya sampai malam," ucap Laura.
Setelah mengetahui alasan dari Laura, Tara hanya berhooh ria tanpa bertanya lagi.
"Sepertinya Tante Hety tak cerita pada Ronald jika kemarin gwe ke sana. Syukurlah kalau begitu," batin Laura.
Tak terasa jam pelajaran sekolah sudah berbunyi, semuanya fokus dengan materi pelajaran yang di terangkan olth guru. Tapi tidak dengan Tara, ia sedang mencari cara untuk bisa minta maaf pada Nara.
"Bagaimana caranya supaya Nara mau memaafkan gwe lagi ya? dan apa yang harus gwe lakukan?" batin Tara tak tenang, hingga ia tak sadar jika gurunya susah ada di depannya.
Brug Brug....
__ADS_1
Pak guru menggebrak meja yang saat ini ada di hadapan Tara, hingga bukan hanya Tara yang melonjak tapi juga semua siswa.
Karena gurunya ini terkenal dengan sebutan guru killer dan sama sekali tak ada senyuman.
"Tara, apa yang. sedang kamu lamunkan? kenapa pertanyaan dari bapak tidak kamu jawab, hah?" ucap pak guru lantang.
"Pertanyaan yang mana ya, pak? dari tadi bapak nggak tanya apa-apa hanya tiba-tiba menggebrak meja. Untung saja aku nggak punya riwayat jantung, pak. Jika tidak nanti yang ada bapak bisa kena kasus,' ucap Tara dengan beraninya.
"Bangun dan berdiri di depan hingga jam pelajaran saya usai. Dan hal ini akan saya laporkan pada orang tuamu supaya kamu juga mendapatkan hukuman di rumah!" ancam palk guru.
Pak guru sangat kesal karena beberapa kali bertanya pada Tara tak di jawab. Tara sibuk melamun sendiri hingga tak tahu apa yang di tanyakan oleh guru.
Dengan rasa malas, Tara bangkit dari duduknya dan melangksh ke depan kelas. Ais tertunduk sambil kedua tangannya memegang telinga samping kri dan kanan.
Kemudian pak guru kembali lagi menerangkan materi pelajaran nya sambil sesekali melirik sinis ke arah Tara.
Hingga tak terasa bel istirahat berbunyi, dan Tara bisa bernapas lega. Ia merasakan kakinya teramat lelah dan sakit.
Laura menghampiri Tara dan menuntunnya ke bangkunya.
"Kenapa loe tadi nggak kasih tahu pak guru jika ia memberikan pertanyaan pada gwe?" protes Tara kesal pada Laura.
"Hhaaaa, memang enak di hukum di depan kelas? makanya kalau sedang jam pelajaran sekolah otanya jangan traveling dong!" ejek Ara senang.
'Heh, loe! pergi sana dari hadapan gwe!" usir Tara pada Ara.
"Atuuttttt...lari....hahaha......"
Ara berlalu pergi dengan tertawa ngakak mengejek ke apesan Tara yang barusan di hukum oleh pak guru.
Tara duduk diam seraya terus saja memijit kakinya yang terasa pegal karena berdiri terlalu lama di depan kelas.
"Tara, gwe mau ke kantin. Loe ikut nggak?" tanya Laura.
"Apa loe nggak lihat? gwe sedang mikirin kaki gwe yang sakit gwe titip saja belikan makanan." Tara merogoh kantung bajunya untuk mengsmbil uang sakunya.
__ADS_1
Di berikannya pada Laura selembar uang ratusan ribu. Bahkan Tara membiarkan jika Laura membeli makanan dengan uangnya juga.
Laura melangkah pergi ke kantin seraya pikirannya di penuhi oleh radya penasaran.
"Sebenarnya apa yang membuat Tara melamun hingga tak sadar datangnya pak guru? apakah ia melamunkan pacarnya yang dulu ya," batin Laura seraya melangkahkan kakinya ke kantin.
Ia tak berani bertanya langsung pada Tara karena khawatir Tara marah padanya. Ia hanya menyimpan rasa penasarannya saja di dalam hatinya.
Sementara Tara mencoba menghubungi nomor Nara, tetapi tak aktif juga.
"Nara, please aktifkan nomor ponsel loe. Gwe ingin ngomong sejenak saja," batin Tara seraya terus menatap ke arah ponselnya.
Ia sangat berharap ponsel Nara aktif saat itu juga mumpung nggak ada Laura karena dirinya sedang berada di kantin.
"Heh, loe pasti sedang menyesali perbuatan loe kan?" tanya Ara tiba-tiba.
"Perbuatan apa? loe nggak usah turut campur pribadi gwe, dech," ucap Tara lantang.
"Perbuatan loe pada Nara. Loe sudah nggak bisa hubungi dia lagi kan? makanya jika mau berbuat loe mikro dulu seribu kali,' ejek Ara terkekeh.
"Loe senang ya melihat penderitaan teman," ucap Tara kesal.
"Hahhhhnnnya...gwe nggak berteman dengan cowok macam, loe. Apa loe lupa ya, jika petemanan gwe ama loe sudah lama bubar," ucap Ara lantang.
Ia pun berlalu pergi dari hadapan Tara, ia melangkah menuju ke kantin. Sementara Tara semakin kesal pada Ara yang selalu saja mengganggu hidupnya.
"Sudah nggak sabar ingin lulus saja supaya gwe nggak di ganggu terus sama si Ara!" batinnya kesal.
Tanpa sepengetahuan Tara, Ara menghampiri Laura di kantin dan mengatakan banyak hal padanya. Ia lakukan itu bertujuan supaya Laura juga putus dengan Tara.
Kini tidak ada lagi persahabatan seperti tempo dulu, tetapi yang ada permusuhan satu sama lain.
"Ngapain loe dekati gwe?" Laura melirik sinis pada Ara.
"Sewot amat, gwe hanya iba sama loe. Kok mau sih jadi pacar orang yang tukang bohong?" ejak Ara tersenyum sinis.
__ADS_1
"Heh, kenapa sih loe rempong banget suka urusin hidup orang. Urus saja tuh diri loe sendiri kaya sudah benar saja dech. Jalan loe saja gitu pincang ngurusin hidup orang," ejek Laura ketus.
Yang mendengar hal ini tak kuasa untuk tidak tertawa. Ara menjadi malu karena di tertawakan banyak anak.