
Tak terasa waktu sudah siang, hingga Tara mengajak Nara kembali ke rumahnya. Akan tetapi dia ingin bercengkrama sejenak, hingga ia mengajak Nara duduk di sebuah taman.
"Nara, gwe ingin bicara sama loe sejenak. Jujur saja, gwe itu berat jalani pacaran jarak jauh seperti ini." Tara menatap wajah ayu Nara seraya menggenggam kedua jemari tangan Nara.
Ini pertama kalinya Nara di perlakukan manis oleh Tara. Hingga jantungnya berdegup kencang sekali.
"Tara, kita jalani pacaran jarak jauh kan hanya satu tahun lamanya. Waktu satu tahun itu cepat kok, kita juga masih bisa berhubungan lewat ponsel. Katanya kalau sudah lulus, kita akan kuliah bareng kan?" ucap Nara menghibur Tara yang terlihat sedih.
"Iya sih, Nara. Tapi tetap saja bagi gwe ada yang kurang pada saat loe jauh dari gwe. Apakah loe bisa jaga kesetiaan cinta kita?" tanya Tara merasa ragu.
"Tara, hubungan bisa berjalan langgeng jika di dasari oleh rasa salin percaya. Jika loe curiga terus sama gwe itu buat gwe nggak akan nyaman juga. Jika loe mau kita langgeng dan benar-benar berjodoh, pasti loe akan selalu percaya sama gwe," ucap Nara meyakinkan.
"Baiklah, Nara. Gwe akan mencoba percaya dengan loe, karena gwe nggak ingin loe pergi dari hidup gwe. Justru gwe ingin loe menjadi pendamping gwe kelak jika sudah waktunya," ucap Tara menyunggingkan senyuman.
"Baiklah, Nara. Gwe akan berusaha selalu percaya sama loe, tapi loe janji ya jangan rusak kepercayaan yang gwe berikan sama loe," pinta Tara.
"Siap, bos."
Setelah mereka yakin atas hati masing-masing, mereka lekas kembali ke rumah Nara. Dan beberapa saat mereka telah sampai di rumah mewah dan megah tersebut.
"Kalian dari mana saja, di hubungi susah sekali. Kami sempat panik dan khawatir loh," ucap Resy.
"Iya, Om Bimo sama papah baru saja mau mencari kalian berdua. Kami khawatir kalian itu nyasar, apa lagi Nara kan belum lama tinggal di sini pasti kan belum hapal jalan," ucap Hety.
"Maaf kan kami, kami nggak jauh-jauh hanya muter-muter saja kok," ucap Tara.
"Ya sudah, sebaiknya kita makan saja sekarang yukk," ajak Bu Resy.
__ADS_1
Saat itu juga dua keluarga ini makan siang bersama. Mereka sudah begitu akrab dan dekat susah layaknya seperti saudara sendiri.
Keceriaan selalu menyelimuti dua keluarga ini. Rasa cinta dan sayang kini sedang berbunga-bunga di rasakan kedua insan yang masih belia.
Sepasang anak muda yang baru memasuki usia tujuh belas tahun, baru duduk di bangku SLTA tepatnya di kelas tiga. Mereka saat ini sedang mengalami puber pertama, cinta monyet.
Apakah percintaan semasa muda mereka ini akan berlanjut hingga dewasa dan berlanjut hingga jenjang pernikahan? entahlah, karena hanya mereka dan author yang tahu.
Tak terasa waktu kebersamaan mereka sudah harus berakhir. Tara dan keluarga sudah cukup lama ada di rumah Nara. Hingga terpaksa mereka berpamitan kembali ke kota B.
"Mba Resy-Mas Bimo, kami pamit pulang ya. Terima kasih atas jamuannya untuk kami, dan mohon maaf kedatangan kami membuat repot kalian," ucap Hesa.
"Kami sama sekali tak merasa di repotkan, justru kami sangat senang karena suasana rumah menjadi lebih ramai dan hangat," ucap Bimo.
Tara juga berpamitan pada orang tua Nara dan adiknya. Dia juga menjauh sejenak dari orang tuanya dan orang tua Nara untuk sejenak berpamitan pada Nara.
"Baiklah, loe juga yang percaya saja sana gwe. Loe nggak usah berpikiran negatif tentang gwe ya. Supaya loe nggak alami sakit kepala yang berkepanjangan," pesan Nara.
"Ingat satu hal, loe nggak usah dekat-dekat sama Ara. Nanti yang ada loe di hasut lagi olehnya hingga berprasangka buruk sama gwe," ucap Nara.
"Siap, bos. Gwe akan ingat selalu pesan loe."
Setelah cukup lama berpamitan pada Nara dan keluarganya. Tara dan keluarga langsung pulang, Hesa melajukan mobilnya arah jalan pulang. Tara terus saja menatap ke arah Nara hingga dia tak terlihat lagi.
"Nara, nggak tahunya sekarang Tara tambah tampan ya sejak operasi plastik. Pastinya kamu semakin cinta kan sama dia?" goda Ayah Bimo.
"Ih, ayah. Apaaan sih."
__ADS_1
Pipi Nara langsung bersemu merah dan ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah karena nggak ingin ayahnya terus saja menggoda dirinya.
"Ayah, suka sekali menghindari Nara. Lihat tuh, wajah anak gadismu langsung berubah seperti kepiting rebus," ucap Resy seraya menggelengkan kepalanya.
"Hem iya tadi ayah lihat kok, mirip masa mudamu ya Bu. Kalau di goda aku langsung dech pipinya merona merah, ingat nggak Bu," Ayah Bimo menaik turunkan alisnya.
Bu Resy hanya menggelengkan kepalanya, ia pun berlalu pergi dari hadapan suaminya itu. Sementara Ayah Bimo terus saja terkikik sendiri kala ingat masa lalu.
Sepanjang perjalanan pulang, Tara hanya diam saja. Dia benar-benar tak rela hidupnya berjauhan dengan Nara. Kemurungan anaknya menjadi perhatian orang tuanya terutama, Mamah Hety.
'Tara, apa yang kamu lamunkan? bukankah hubunganmu dengan Nara sudah baikan?" tanya Mamah Hety penasaran.
"Iya sih, mah. Tapi aku tetap tak rela jika Nara jauh dariku, mah. Aku ingin seperti dulu lagi, kita ke sekolah bareng," ucap Tara manyun.
"Tara, kelak pasti kamu kan bersana lagi. Jika sekolah kamu sudah lulus dan kamu lanjut kuliah. Katanya kamu akan kuliah bareng sama Nara," ucap Mamah Hety.
"Iya, Tara. Jangan terlalu kamu pikirkan hal ini karena itu bisa membuat kepalamu sakit. Lalui j
hari-hari dengan penuh keceriaan supaya tidak begitu terasa lama dan juga supaya kamu sehat selalu."
"Jika kamu ingin hidup bersama dengan Nara,kamu juga harus pikirkan kesehatanmu. Dengan kamu terus berpikir akan buatmu sakit kepala.Aoa kamu mau saat bertemu dengan Nayla lagi dalam kondisi sakit?"
Mendengar apa yang di katakan oleh Papahnya barusan membuat pikiran Tara terbuka lebar. Dia akan menuruti nasehat papahnya. Supaya di saat ia bertemu dengan Nara lagi dalam kondisi sehat tak kurabg suatu apapun.
"Baiklah, pah.Aku akan berusaha untuk selalu ceria dan tak terlalu memikirkan Nara yang saat ini jauh dariku.Dan aku akan jaga kesehatanku supaya panjang umur dan tak terus alami sakit kepala karena aku ingin bisa bareng sama Nara lagi," ucapnya antusias.
Orang tua Tara merasa lega mendengarnya.
__ADS_1