Antara Si Cupu & BadBoy

Antara Si Cupu & BadBoy
Nasehat Untuk Ara


__ADS_3

Berlalunya waktu cepat sekali, sudah dua bulan Nara menjalani usaha produksi cemilan beraneka varian. Tak terasa dia sudah memiliki sepuluh pegawai.


Bahkan Ayah Bimo membuatkan tempat tersendiri untuk produksi tersebut, yakni pekarangan rumah yang luas di sampingnya telah di sulap menjadi rumah usaha produksi cemilan milik Nara.


Keberhasilan Nara ini sampai hingga ke telinga orang tua Ara yakni Yosi dan Yoga.


"Ara, apa kamu tahu jika saat ini di samping Nara sekolah dia juga punya rumah produksi?" tanya Papah Yoga.


"Kurang tahu, pah. Karena di sekolah pun Nara masih belum mau berteman denganku. Jadi aku tak tahu menahu tentang kehidupan pribadinya. Tapi hanya tahu jika di sekolah memang dia juga menitipkan beberapa cemilan," ucap Ara.


"Hem, makanya jadi anak itu jangan sombong dan mengandalkan kekayaan papah. Hingga akhirnya kamu kehilangan teman yang sangat baik dan berkualitas seperti, Nara," ejek Papah Yoga.


"Pah, sudahlah jangan terus memojokkan Ara. Kasihan juga dia kan? apa lagi hingga detik ini kamu masih saja menghukum dia dengan ke sekolah tetap mengayuh sepedanya, padahal sudah dua bulan lamanya," lerai mamah Yosi mencairkan suasana.


"Hem, papah memang sengaja. Tetapi ternyata Ara tidak ada gerakannya kan? selama dua bulan berlalu dia masih saja tak bisa meluluhkan hati, Nara untuk bisa berteman baik lagi dengannya," ucap Yoga ketus.


"Itu bisa kamu anggap sebagai pelajaran supaya jangan pernah kamu itu seenaknya menghina orang lain. Tidak selamanya kita itu hidup seperti ini, dan tidak selamanya pula Nara itu hidupnya sederhana."


"Roda itu berputar, Ara. Papah sih ingin kita selamanya hidup bergelimang harta seperti ini. Tapi kuasa Allah itu kita tak tahu."


"Jangan pernah merendah orang kecil, apa kamu pernah lihat papah ini menghina, Om Bimo? bahkan kami ini bersahabat sudah sejak lama."


Terus saja Papah Yoga menasehati Ara, supaya jangan bersikap sombong.


"Ara, papah akan memaafkan kesalahan kamu. Asal kamu benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik."

__ADS_1


"Papah akan kembalikan fasilitas untukmu ke sekolah asal kamu itu jangan sombong lagi. Berbaik hatilah pada semua orang dan jangan pernah membagakan harta yang kita punya."


"Apa kamu sanggup melakukan hal yang di lakukan oleh Tara. Papah kagum sekali dengan dia. Di samping dia anak orang kaya, dia juga pintar dan baik hati bahkan tak pernah menyombongkan kekayaan yang di miliki oleh orang tuanya."


"Dia itu malah suka membantu orang terutama Nara. Nara punya usaha produksi cemilan itu juga bantuan dari Tara."


Mendengar akan hal itu, Ara mengernyitkan keningnya.


"Dari mana papah tahu semua itu, karena saat ini Tara sudah tidak bersekolah di sekolahanku?" tanya Ara heran.


"Dari Om Bimo, kamu salah. Tara masih bersekolah di sekolahanmu. Bahkan sekarang ini dia akrab dengan Nara. Dia merubah penampilannya gara-gara dulu kamu selalu mengejeknya dengan sebutan cupu." ucap Papah Yoga.


"Hah, mas sih? kok aku nggak tahu ya?" ucap Ara.


"Kamu juga seharusnya minta maaf pada Tara, dulu kamu juga telah menghinanya kan?" ucap Papah Yoga.


Sejenak Ara hanya diam saja, kini dia mulai menyadari kesalahan terbesarnya yakni terlalu menyombongkan diri dengan kekayaan orang tuanya. Memang orang tuanya dari dulu tak pernah mengajari seperti itu.


"Ara, kenapa kamu hanya diam saja seperti ini?" tanya Papah Yoga.


"Pah, aku minta maaf ya. Aku sudah sadar dengan semua kesalahanku selama ini. Aku terlalu sombong dan sering menganggap rendah orang lain. Aku benar-benar menyesal pah," ucap Ara tertunduk lesu.


"Sudah Ara, papah sudah memaafkan kamu. Tapi papah minta jangan hanya menyesal di mulut saja, tetapi benar-benar kamu merubah kelakuanmu itu," ucap Papah Yoga seraya menepuk bahu anaknya.


"Ya, pah. Aku janji akan benar-benar berubah. Dan aku juga akan meminta maaf pada Tara, tapi aku kok tak tahu jika di kelas aku ada Tara ya?" ucap Ara bingung.

__ADS_1


"Ada, saat ini Tara berubah penampilan dan namanya memakai nama Ronald. Tapi kamu tak usah memberi tahu hal ini pada siapa pun. Karena papah pada awalnya juga telah berjanji pada Om Bimo tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi Papah ingat dulu kamu suka sekali memanggil dia dengan sebutan cupu," ucap Yoga.


Sejenak Ara terperangah pada saat mendengar penuturan dari Papahnya.


"Hah, jadi Ronald itu sebenarnya adalah Tara. Aku memang sempat sih menatap dia dan wajahnya memang mirip dengan Tara. Baiklah aku tidak akan membocorkan rahasianya, tetapi aku akan meminta maaf padanya," batin Ara.


"Aku akan benar-benar membuktikan pada papah bahwa aku ini bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Walaupun aku akan susah untuk meyakinkan Nara dan Tara nantinya jika aku benar-benar telah berubah," batin Ara.


Selagi dirinya melakukan melamun, Papah Yoga kembali berkata.


"Ara, mulai besok kamu sudah papah izinkan pakai mobilmu lagi. Tapi kamu jangan ingkar dengan janjimu karena papah bisa lebih kejam dari pada ini," ucap Yoga.


"Papah juga tidak akan memaksamu lagi untuk bisa berteman dekat dengan Nara lagi. Tapi setidaknya kamu berubah lebih baik lagi," ucap Yoga kembali.


"Baiklah, pah. Aku akan mendengar dan melaksanakan semua nasehat dari papah,' ucap Ara meyakinkan papahnya.


"Satu hal lagi, papah juga akan memberikan guru les padamu. Supaya nilai sekolahmu tidak jelek lagi. Papah tahu sejak kamu tak berteman dengan Nara dan Tara, nilaimu sangat buruk. Para guru di sekolah yang telah menegur papah," ucap Yoga.


Ara terunduk lesu, dia sangat malu karena ketahuan jika dirinya itu tak sepintar yang orang tuanya kira selama ini.


"Ara, harapan papah dan mamah untuk di masa tua kami itu hanya kamu. Karena kamu adalah anak semata wayang kami. Jadi kami ingin kamu menjadi orang yang pintar dan baik hati. Kami tak ingin kamu semakin jauh melangkah, kami tak ingin kamu salah jalan."


"Jangan pernah anggap hukuman yang pernah papah berikan karena papah ini kejam atau jahat padamu. Justru papah melakukan hal ini demi kebaikanmu di masa yang akan datang."


Mendengar akan hal itu, Ara semakin terharu. Dia benar-benar tak tahan lagi dan menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Iya, pah. Aku tahu kok, justru aku berterima kasih karena papah peduli denganku. Dan menegur kesalahan aku, supaya aku tidak semakin terperosok. Aku minta maaf ya pah, sempat berpikir papah ini kejam dengan memberiku hukuman," ucap Ara.


__ADS_2