
Tak berapa lama sampai juga mereka di parkiran mobil di sekolahan. Mereka turun dan berjalan berdampingan menuju ke kelasnya. Seperti biasa tatapan tajam tak suka selalu saja mengikuti langkah kaki keduanya.
Para siswi tak suka dengan kedekatan Tara dan Nara. Mereka iri dan cemburu karena dari dulu selalu saja Nara mampu berteman dekat dengan siswa-siswa tampan.
Tara tetap berpenampilan seperti Ronald, dan Nara pun bisa beradaptasi. Jika berada di sekolahan dia akan memanggil Ronald, dan jika di rumah barulah dia memanggil Tara.
Hanya Nara dan orang tuanya yang tahu siapa itu Ronald yang sebenarnya.
"Nara, bagaimana kabar loe? oh iya gwe ingin minta tolong bisa ya?" tiba-tiba Ara mendekat
"Loe itu keras kepala ya, sudah di bilang jangan mendekat lagi pada Nara. Tapi loe belum juga berubah!" bentak Tara kesal.
"Sudahlah Tara, tak usah loe dengarkan apa yang dia katakan lagi pula gwe tidak peduli padanya kok," ucap Nara menengahi.
"Nara, please bantu gwe sekali ini saja. Gwe nggak bisa mengerjakan tugas IPS ini, dulu kan loe selalu berbaik hati bantu gwe," bujuk Ara memelas.
"Itu kan dulu pada saat loe masih baik sama gue dan tak mempermalukan gue di depan umum. Lain dulu lain pula sekarang, jadi loe selesaikan sendiri permasalahan loe itu, tolong jangan lagi dekati gue ya," ucap ketus Nara.
Setelah mendengar penolakan dari Nara, Ara pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia pun beralih pergi dari hadapan Tara dan Nara, dia duduk kembali di bangkunya.
Rasa kecewa jelas terlihat di wajah Ara, kesalahan yang sudah berlalu tak membuat lantas Nara melupakan hal itu. Justru membuat permasalahan panjang, walaupun Ara terus saja meminta maaf. Walaupun Nara mengatakan telah memaafkannya tetapi sikap dan perilaku Nara terhadapnya masih saja cuek tak seperti dulu lagi.
Kini Ara tak punya sahabat baik lagi, dia pun merasa kesepian di kelasnya dan dia juga tak bisa mengerjakan tugas sekolah karena jika dia mengalami kesulitan tidak ada yang membantunya lagi tidak seperti dulu, pada saat dia masih akrab dengan Tara dan Nara.
Dulu Tara dan Nara selalu membantu segala kesulitan pada Ara jika tidak bisa mengerjakan tugas sekolahnya.
__ADS_1
Pada saat guru meminta semua murid untuk mengumpulkan tugas sekolahnya. Hanya Ara yang tak mengumpulkan. Hingga pada akhirnya, dia pun mendapatkan hukuman dari guru.
"Ara, kenapa kamu tak mengerjakan tugas yang telah ibu berikan padamu?" tanya Bu guru kesal.
"Cepat kamu kemari sekarang juga!" bentak Bu guru!" membuat Ara langsung melangkah ke depan.
"Maaf, Bu. Saya sama sekali tak paham dengan tugas itu dan sama sekali tak bisa mengerjakannya makanya tidak saya kerjakan, Bu."
Mendengar alasan dari Ara, membuat Bu guru marah.
"Kamu tidak bisa mengerjakan tapi tidak mau berusaha. Seharusnya kamu minta tolong teman untuk membantu mengajarimu. Kamu kan anak orang kaya, bisa kan ikut les privat atau apa! akhir-akhir ini juga nilaimu buruk, kamu lebih pantas sekolah di sekolahan biasa. Bukan di sekolahan elite dan semua muridnya berkualitas otaknya!"
"Kamu ibu hukum berdiri di depan selama pelajaran ibu berlangsung hingga selesai!'
Sorak Sorai riuh seketika di dalam kelas tersebut, semua mengejek Ara hanya Tara dan Nara yang tak ikut mengejek. Mereka hanya diam saja tapi tatapab tajam pada Ara.
"Ya Allah, apakah selamanya Nara akan benci gwe? aaahhhh sulit sekali gwe untuk bisa mendapatkan maaf darinya. Apakah sebegitu terlukanya dia hingga sesakit itu dan benar-benar benci pada gwe," batin Ara semakin merutuki diri sendiri.
Hingga menjelang bel berdering tanda waktu istirahat tiba, Ara baru bisa berhenti dari hukumannya. Ia pun bisa bernapas lega. Tetapi Bu guru telah memberinya peringatan, yakni jika dia mengulangi perbuatannya lagi. Dia akan di laporkan ke kepala sekolah dan juga pada orang tuanya.
*******
Beberapa jam kemudian, waktu pulang pun datang. Akan tetapi Ara enggan sekali pulang, karena dia masih saja mengayuh sepeda.
Papahnya tidak akan memaafkan dirinya jika dia belum bisa berteman lagi dengan Nara. Hingga sudah betul lama, dia harus menjalani masa hukumannya itu.
__ADS_1
"Menderita sekali hidupku ini, kenapa juga papah begitu kejam padaku. Sudah hampir dua bulan aku harus menjalani hukuman dengan mengayuh sepeda ke sekolah."
"Jika Nara tidak mau berteman denganku kembali mungkin selamanya aku akan mengayuh sepeda ke sekolah selamanya."
"Nasib-nasib, sebenarnya siapa yang anak papah? kok aku malah merasa seperti anak tirinya, dan Nara yang anak kandung dia."
Selama mengayuh sepeda dalam perjalanan pulang, Ara terus saja menggerutu sendiri. Dia kesal dengan hidupnya yang sekarang.
Dia sudah tak punya teman baik, di jauhi semua teman yang lainnya. Juga sering mendapatkan hukuman dari beberapa guru karena tak mengerjakan tugas sekolah. Bukan karena malas tetapi karena tak paham dengan materi tugasnya.
Biasa Tara dan Nara selalu mengajarinya pada saat kerja kelompok di rumah Ara.
Sesampainya di rumah, wajah Ara tetap saja murung. Dia kelelahan dan duduk di teras halaman.
"Ara, kamu sudah pulang? sebentar ya mamah ambilkan minuman dingin dulu."
Mamah Yosi masuk kedalam untuk mengambil minuman dingin, dan tak lama kemudian sudah datang lagi dengan segelas minuman dingin lantas menyerahkannya pada Ara.
"Mah, aku sudah nggak sanggup lagi ke sekolah bersepeda. Lelsh sekali mah," keluh kesah Ara
"Memangnya kamu sudah berteman lagi dengan Nara? bukannya papah telah mengatakan jika kamu masih belum bisa berteman lagi seperti dulu dengan Nara, kamu tak di izinkan membawa mobil dan juga semua kartumu juga takkan di kembalikan oleh Papah," ucap Mamah Yosi.
"Belum, mah. Nara masih saja acuh tak acuh padaku. Berarti selamanya aku akan mengayuh sepeda ke sekolah," ucapnya seraya menghela napas panjang.
"Ara, anggap saja itu sebagai olah raga. Biar kamu jadi sehat juga kan? bukannya bersepeda itu seperti halnya berilah raga. Ambil segi positif dari hukuman yang sedang kamu jalani saat ini sehingga kamu tak merasa beban."
__ADS_1
"Kamu harus bisa melihat Nara, bukannya dia setiap hari mengayuh sepeda ke sekolah kan? tapi apa kamu pernah melihat dia itu berkeluh kesah?"
Mendengar apa yang di katakan oleh mamahnya, Ara baru bisa berhenti mengeluh. Apa yang mamahnya katakan memang ada benarnya.